Pada awal 2026, perbincangan tentang kecerdasan buatan (AI) tidak lagi dipenuhi pertanyaan besar tentang apakah AI akan mengubah dunia. Dunia, dalam banyak hal, sudah berubah.
Dalam laporan awal tahun berjudul What’s Next for AI in 2026, MIT Technology Review membaca tahun ini sebagai titik balik bagi AI. Bukan karena AI tiba-tiba menjadi jauh lebih pintar, tetapi karena AI mulai menjadi bagian dari infrastruktur hidup sehari-hari.
Laporan ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan yang mendasar : bagaimana kita hidup bersama AI dan apa arti kebersamaan itu bagi manusia?
Tulisan ini hendak menyajikan ruang jeda selama beberapa menit untuk Anda ikut memeriksa pertanyaan-pertanyaan itu melalui pandangan filsafat dan dekolonisasi.
Dari Alat ke Rekan Kerja
Perkembangan kecerdasan buatan dalam satu dekade terakhir menunjukkan pergeseran yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga paradigmatik. Pada fase yang disebut sebagai generative AI dipahami sebagai sistem yang mampu menghasilkan representasi, baik itu teks, gambar, atau suara berdasarkan pola statistik dari data berskala besar. Dalam kerangka ini, AI berfungsi sebagai mesin responsif, menghasilkan keluaran ketika menerima masukan, dan berhenti ketika interaksi berakhir.
Model generatif memperluas kapasitas ekspresif mesin secara signifikan. Bahasa tidak lagi sekadar diproses, tetapi disintesis dengan tingkat koherensi yang memungkinkan AI digunakan dalam penulisan, analisis, dan komunikasi. Namun, meskipun tampak canggih, peran generative AI tetap terbatas pada domain representasi.
Seiring dengan meluasnya penggunaan AI dalam konteks organisasi, industri, dan tata kelola, generative AI dipandang memiliki keterbatasan. Kompleksitas kerja nyata tidak tersusun dalam satu permintaan atau satu respons. Ia berlangsung sebagai rangkaian keputusan, penyesuaian, dan tindakan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap AI tidak lagi berhenti pada kemampuan menghasilkan jawaban, melainkan pada kemampuan mengelola proses.
Dari kebutuhan inilah konsep agentic AI berkembang. Berbeda dengan generative AI yang berorientasi pada keluaran linguistik atau simbolik, agentic AI dirancang untuk berorientasi pada tujuan. Sistem tidak hanya memahami instruksi, tetapi juga menafsirkan maksud, merencanakan langkah, mengeksekusi tindakan, serta memantau kemajuan terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Interaksi dengan manusia tidak lagi bersifat transaksional, melainkan supervisorial.
Pergeseran ini menandai transisi dari AI yang reaktif menuju AI yang proaktif. Dengan demikian, AI tidak lagi hadir hanya dalam ruang percakapan, tetapi terintegrasi dalam alur kerja dan sistem tindakan.
Implikasi dari evolusi ini tidak terbatas pada efisiensi teknis. Perubahan ini mengubah posisi manusia dalam relasi dengan teknologi. Jika dalam paradigma generative AI manusia berperan sebagai operator yang mengarahkan setiap langkah, maka dalam paradigma agentic AI manusia beralih menjadi penentu tujuan dan evaluator hasil. Tanggung jawab berpindah dari pengendalian langsung menuju pengawasan dan penilaian normatif.
Dengan kata lain, evolusi dari generative AI ke agentic AI mencerminkan perubahan dari mesin yang berfungsi sebagai alat komunikasi menjadi sistem yang berfungsi sebagai pelaksana terbatas. Perubahan ini belum sepenuhnya selesai dan masih menghadapi tantangan teknis, etis, serta institusional. Namun arahnya relatif jelas: AI semakin diposisikan bukan hanya sebagai sistem yang mengatakan sesuatu tentang dunia, tetapi sebagai sistem yang melakukan sesuatu di dalam dunia.
Perubahan ini menggeser cara kita memahami apa itu alat. Jika sebelumnya alat dipandang sebagai sesuatu yang pasif, menunggu manusia untuk mengoperasikannya, maka dalam sistem agentic AI, alat menjadi bagian dari proses yang aktif. Alat tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bekerja dalam satu rangkaian tindakan yang terkoordinasi.
AI mengelola tugas, menjaga kesinambungan pekerjaan, dan berinteraksi dengan sistem lain tanpa selalu menunggu instruksi manusia. Dalam praktiknya, peran ini semakin menyerupai apa yang selama ini kita sebut sebagai rekan kerja.
Penting untuk dipahami bahwa penyebutan AI sebagai rekan kerja bukanlah upaya memanusiakan mesin. AI tidak memiliki kesadaran atau tanggung jawab moral. Yang berubah bukan sifat AI, melainkan struktur kerja yang terbentuk dari perubahan ini. Sebagian fungsi yang dulu dilakukan manusia, seperti koordinasi, pemantauan, dan pengaturan alur kerja, kini dijalankan oleh sistem. Manusia tetap berperan, tetapi lebih sebagai penentu arah dan penilai akhir.

