Pertama Kalinya Kopi Dicicipi

Kopi. Hari ini kita mengenalnya sebagai teman begadang, alasan berkumpul, bahkan identitas budaya. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya ketika biji kecil berwarna merah itu pertama kali dicicipi? Siapa yang berani mencoba, dan bagaimana minuman ini bisa bertransformasi dari buah liar menjadi ritual, perdagangan, hingga budaya global?

Legenda yang menceritakan tentang #pertamakalinya kopi dicicipi membawa kita kembali ke abad 9 M menuju ke tanah kuno Abyssinia, yang kini kita kenal sebagai Ethiopia, sebagai tempat kopi menemukan asal-usulnya.

Di dataran tinggi Ethiopia, hiduplah seorang penggembala muda bernama Kaldi. Ia dikenal sebagai sosok puitis, senang mengikuti jejak kambing-kambingnya yang merayap di lereng gunung mencari makanan. Pekerjaannya ringan, sehingga ia bebas menciptakan lagu dan meniup serulingnya. Setiap sore, ketika ia meniup nada khas yang melengking, kambing-kambing itu biasanya segera berlari pulang.

Suatu hari, sesuatu yang aneh terjadi. Kaldi meniup serulingnya, tetapi kambing-kambingnya tak kunjung datang. Ia pun mendaki lebih tinggi, mencari suara mereka. Akhirnya ia menemukan kawanan itu di bawah kanopi hutan hujan, berlarian, menanduk, bahkan menari dengan kaki belakang. Kaldi tertegun, seolah kambing-kambing itu sedang terkena sihir.

Saat diperhatikan lebih dekat, ternyata mereka memakan daun hijau mengilap dan buah merah dari pohon yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kaldi khawatir: apakah itu racun? Apakah kambing-kambingnya akan mati? Namun, meski enggan pulang hingga berjam-jam, kambing-kambing itu tetap sehat.

Keesokan harinya, mereka kembali ke pohon yang sama. Kali ini Kaldi memberanikan diri ikut mencoba. Daunnya pahit, tetapi menimbulkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Buahnya manis, dengan biji yang dilapisi lapisan lembut. Ia pun mengunyah bijinya, dan segera merasakan energi baru. Tak lama kemudian, Kaldi ikut berjingkrak bersama kambing-kambingnya, penuh semangat, sambil bersenandung.

Kabar tentang “pohon ajaib” itu segera menyebar. Kaldi menceritakan pada ayahnya, lalu berita meluas ke desa-desa. Ada pula legenda yang mengisahkan tentang Kaldi membagikan pengalamannya kepada Kepala Biara yang kemudian mengambil manfaat tanaman kopi untuk menemaninya berjaga saat tengah malam berdoa.

Dari situlah kopi perlahan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ethiopia. Berawal dari rasa ingin tahu seorang penggembala dan kambing-kambing yang menari di hutan.

Kopi mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering berawal dari langkah kecil: rasa ingin tahu seorang penggembala, eksperimen sederhana para biarawan, hingga tradisi yang terus berkembang. Setiap tegukan kopi hari ini adalah jejak dari perjalanan panjang itu, sebuah proses sederhana yang ternyata kemudian mengubah cara manusia terjaga, berpikir, dan berkumpul.

Jadi, pertama kalinya cara kopi dicicipi bukan bukan diminum melainkan dikunyah.***

Referensi:

Pendergrast, Mark. Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World. Basic Book, 2019.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42