Editorial Februari
Dulu, musim datang dengan cara yang dapat diingat. Ada tanda-tanda yang dikenali tubuh: bau tanah sebelum hujan, angin yang berubah arah, langit yang menutup perlahan. Musim adalah pengetahuan yang hidup. Diturunkan lewat kebiasaan, cerita, dan kerja sehari-hari. Kini, musim masih datang, tetapi terasa asing, seolah tak lagi berbicara dengan bahasa yang kita pahami.
Hujan jatuh lebih lama dari yang diharapkan, atau justru tak hadir ketika tanah membutuhkannya. Air melimpah di satu waktu, lenyap di waktu lain. Yang berubah bukan hanya cuaca, melainkan ritme hidup yang selama ini kita sandarkan padanya. Kalender tetap sama, tetapi isinya bergeser. Februari tak lagi sekadar bulan di antara Januari dan Maret; ia menjadi penanda keganjilan yang pelan-pelan kita terima sebagai biasa.

Di banyak tempat, orang belajar membaca musim dari sisa-sisa: genangan yang tak surut, ladang yang menunggu terlalu lama, laut yang tak lagi ramah. Pengetahuan lama tidak sepenuhnya hilang, tetapi pengetahuan tentang musim itu sekarang goyah, ragu, dipaksa bernegosiasi dengan perubahan yang datang tanpa izin. Tubuh-tubuh manusia ikut menyesuaikan, menahan lelah, cemas, dan ketidakpastian yang jarang diberi ruang untuk diceritakan.
Edisi Kalpatara bulan Februari ini memilih berjalan perlahan di tengah perubahan itu. Bukan untuk mencari jawaban yang segera, melainkan untuk mencatat kegamangan, mendengar suara-suara yang sering luput, dan mengakui bahwa krisis ekologis kerap hadir sebagai sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Perubahan, tidak selalu meledak; kadang merembes, mengubah sedikit demi sedikit cara kita hidup.
Ketika musim tak lagi sama, mungkin yang perlu kita lakukan adalah belajar kembali mendengarkan. Bukan dengan keyakinan lama, melainkan dengan kesadaran baru bahwa bumi sedang berbicara melalui perubahan. Dan tugas kita, barangkali, hanyalah menjaga kepekaan, agar yang tersisa masih dapat dirawat, dan yang berubah tidak sepenuhnya kita abaikan.
Salam Peradaban
Lisa Febriyanti, Editor in Chief

