Selama ribuan tahun, manusia memaknai musim sebagai penanda tetap dalam kehidupan. Namun, sebuah kajian ilmiah terbaru mengungkap bahwa musim sedang berubah. Hal ini menjadi tilikan penting di era Antroposen, yaitu era ketika manusia menjadi kekuatan dominan yang mengubah sistem Bumi secara signifikan.
Sebuah penelitian yang berjudul Seasons and the Anthropocene menyajikan perspektif baru tentang musim. Bukan sekadar sebagai fenomena astronomis, tetapi sebagai situasi yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan buatan manusia. Musim kini tidak hanya dipahami dari sudut pandang ilmiah sederhana, tetapi terkait erat dengan bagaimana masyarakat hidup dan mengatur ritme mereka di dunia yang terus berubah.
Musim dan Lingkungan Modern
Secara tradisional, musim disebut sebagai fase perubahan alam yang disebabkan oleh kemiringan sumbu Bumi serta revolusinya mengelilingi Matahari. Berbeda dengan kalender yang hanya berbicara angka, musim memberikan panduan ritme alami bagi kehidupan di Bumi. Awal hujan berarti musim tanam, dedaunan berguguran menandai akhir panas, dan sebagainya. Namun di era Antroposen, pola ini tidak lagi semata dikontrol oleh faktor astronomis.

Dalam konteks global yang dulu stabil, manusia modern kini menghadapi perubahan musim yang semakin tidak dapat diprediksi. Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, urbanisasi, dan industrialisasi telah mengubah komposisi atmosfer dan sistem cuaca global, yang kemudian berdampak pada perubahan pola musim. Musim bukan lagi hanya tentang waktu dalam setahun, tetapi menjadi refleksi dari hubungan manusia-lingkungan yang saling memengaruhi.
Hubungan Manusia dan Alam
Penelitian yang dipublikasikan pada pertengahan 2025 tersebut menegaskan bahwa musim berfungsi lebih dari sekadar ritme cuaca. Musim menjadi kerangka temporal bagi masyarakat dan komunitas untuk mengatur kehidupan dan mata pencaharian mereka. Contohnya adalah musim tanam bagi petani, musim migrasi bagi satwa, dan musim ritual budaya dalam kalender tradisional. Ketika musim berubah, seluruh sistem kehidupan ikut terdampak.
Kajian ini memperluas pandangan kita tentang musim dengan menempatkannya sebagai indikator perubahan yang lebih luas di planet ini. Di era Antroposen, musim yang dulu bisa diprediksi dengan cukup akurat kini menunjukkan pola yang tidak teratur. Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada ilmuwan dan petani, tetapi juga komunitas urban, perencana kebijakan, dan masyarakat umum yang hidup dalam ketergantungan pada sistem alam yang stabil.
Perubahan musim ini bukan sekadar fenomena ilmiah. Kita bisa melihatnya sebagai cerminan perubahan hubungan manusia dengan alam. Ketika musim menjadi tidak stabil akibat perubahan iklim buatan manusia, kita dihadapkan pada tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan ritme baru yang terus bergeser. Untuk banyak komunitas, terutama di negara yang bergantung pada sektor pertanian dan sumber daya alam, pemahaman ini penting sebagai bagian dari strategi adaptasi.
Penelitian ini juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana musim berperan sebagai kerangka hidup yang memengaruhi budaya, identitas, dan ritme sosial masyarakat. Banyak tradisi lokal yang selama berabad-abad dibangun berdasarkan prediksi musim mulai kehilangan pijakan, memaksa komunitas untuk menemukan cara baru mengatur waktu dan kehidupan mereka.
Apa yang Perlu Kita Lakukan
Perubahan musim di era Antroposen menuntut manusia untuk beradaptasi secara sadar terhadap lingkungan yang berubah. Hal ini memerlukan:
- Pemetaan ulang kalender pertanian dan ekosistem lokal
- Kebijakan yang memperhitungkan dampak iklim terhadap ritme alam
- Adaptasi budaya yang inklusif terhadap perubahan lingkungan
- Kesadaran bahwa musim bukan sekadar waktu, tetapi juga manifestasi hubungan manusia-lingkungan
Akhirnya, memahami musim di era Antroposen berarti memahami bahwa perubahan iklim telah melampaui aspek lingkungan semata. Situasi ini telah memasuki tatanan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya manusia. Musim bukan lagi sekadar pembagian empat fase dalam setahun,atau dua fase di wilayah tropis, tetapi narasi atas bagaimana manusia dan alam saling membentuk dalam ritme yang terus berubah.***




