Sebuah studi internasional mencatat bahwa lebih dari separuh terumbu karang dunia mengalami pemutihan selama periode hangat ekstrem antara 2014–2017. Tingkat kematian karang dalam peristiwa pemutihan itu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
Peringatan Angka Kematian Terumbu Karang
Para peneliti dari James Cook University (Australia), Smithsonian Tropical Research Institute, dan NOAA Coral Reef Watch menggabungkan data lebih dari 15.000 survei terumbu karang global dengan data satelit suhu laut. Data ini digunakan untuk menghitung dampak “Third Global Bleaching Event”, peristiwa pemutihan besar pertama yang berlangsung dari 2014-2017. Hasilnya, melalui studi yang dipublikasikan pada 10 Februari 2026 diJurnal Nature Communication menyatakan 80 persen terumbu karang yang disurvei mengalami pemutihan pada tingkat sedang hingga parah. Sementara 35 persen lainnya mengalami kematian karang pada tingkat yang sama.
Dengan memadukan data lapangan dan pemantauan suhu laut berbasis satelit, para peneliti memperkirakan bahwa lebih dari separuh terumbu karang global telah terdampak pemutihan signifikan. Sementara, sekitar 15 persen mengalami kematian yang berpotensi permanen. Kerusakan masif ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati laut, tetapi juga melemahkan fungsi terumbu karang sebagai penopang ketahanan pangan, perlindungan pesisir, dan mata pencaharian masyarakat.
“Tingkat stres panas laut dalam peristiwa ini begitu ekstrem hingga Coral Reef Watch harus menciptakan kategori peringatan pemutihan karang yang lebih tinggi. Sesuatu yang tidak pernah diperlukan pada peristiwa sebelumnya,” ujar C. Mark Eakin, penulis utama studi dan mantan Direktur Coral Reef Watch, dikutip dari siaran pers yang dipublikasikan oleh Smithsonian Tropical Research Institute.
Pernyataan ini disambung oleh Profesor Scott Heron dari James Cook University, salah satu peneliti utama, “Peringatan baru ini memudahkan pemantauan dan pemahaman dampak gelombang panas laut yang semakin lama dan semakin intens.”
Memasuki Fourth Global Bleaching Event
Pada 2024, NOAA telah mengkonfirmasikan bahwa dunia saat ini memasuki The Fourth Global Bleaching Event . Menurut NOAA, sejak 1 Januari 2023 hingga 30 September 2025, tekanan panas laut telah memengaruhi sekitar 84,4% terumbu karang dunia,. NOAA mencatat kejadian pemutihan massal terjadi setidaknya di 83 negara dan wilayah. Angka ini menunjukkan bahwa krisis belum mereda dan masih bertahan pada tingkat yang sangat tinggi hingga pembaruan terakhir.

Peristiwa pemutihan karang global adalah yang terbesar sepanjang sejarah pencatatan. Data menyebutkan, saat ini melampaui rekor sebelumnya, ketika sekitar 68,2 persen terumbu karang dunia terdampak stres panas.
Sementara itu, Peristiwa Pemutihan Global Pertama dan Kedua masing-masing terjadi pada 1998 dan 2010. Lonjakan skala dan frekuensi ini menegaskan bahwa pemanasan laut akibat krisis iklim kian mengancam keberlanjutan terumbu karang. Jasa ekosistem vital yang bergantung padanya, sekaligus memperkuat urgensi tindakan global untuk melindungi ekosistem laut.
Krisis Ekosistem Laut
Dalam tiga dekade terakhir, Bumi telah kehilangan sekitar 50 persen terumbu karangnya. Hal ini terjadi seiring lautan menyerap sebagian besar panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia. Tanpa peran lautan sebagai penyerap panas, suhu udara global diperkirakan bisa mencapai sekitar 50 derajat Celsius. Sebuah kondisi yang nyaris tak memungkinkan bagi kehidupan. Data pemantauan dari berbagai belahan dunia ini lah yang menjadi peneguhan planet ini telah memasuki Peristiwa Pemutihan Karang Global Keempat. Sebuah tonggak yang menandai eskalasi krisis iklim yang semakin nyata dan mendesak untuk segera ditangani.
Krisis terumbu karang yang tengah berlangsung bukan lagi peringatan dini, melainkan bukti nyata dampak aktivitas manusia terhadap laut. Tanpa langkah tegas untuk menekan emisi, melindungi ekosistem pesisir, dunia berisiko kehilangan salah satu fondasi kehidupan yang menopang keberlanjutan alam.
Konsensus ilmiah global menyatakan bahwa sebagian besar terumbu karang tidak akan mampu bertahan jika pemanasan global mencapai 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri—batas ambisius yang disepakati negara-negara dunia dalam Perjanjian Iklim Paris 2015. Namun, batas kritis tersebut kini telah terlampaui. Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa suhu global rata-rata telah melampaui ambang 1,5 derajat Celsius sepanjang periode 2023–2025. Fakta ini menegaskan bahwa dunia tidak hanya gagal menjaga komitmen iklim, tetapi juga semakin mendekatkan ekosistem laut, khususnya terumbu karang, pada titik kehancuran yang sulit dipulihkan.***




