Bumi, yang selama berabad-abad dikenal hanya terdiri dari musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin kini mengalami gangguan sistemik. Fenomena itu membuat beberapa ilmuwan berbicara tentang munculnya dua “musim baru” yang khas era Antroposen. Musim baru itu adalah musim kabut asap (haze season) dan musim sampah (trash season) sebagai realitas yang semakin nyata di banyak wilayah di seluruh dunia.
Musim tradisional di Bumi ditentukan oleh kemiringan poros rotasi planet dan pergerakan orbitnya mengelilingi Matahari. Pola ini menciptakan empat musim di banyak wilayah temperate yang telah dikenal selama ribuan tahun. Namun, tren pemanasan global dan perubahan iklim telah membuka celah baru dalam siklus ini.
Pemanasan global yang disebabkan meningkatnya gas rumah kaca telah mengubah suhu rata-rata atmosfer, lautan, dan permukaan Bumi dalam dekade terakhir. Hal ini memicu perubahan pola cuaca, termasuk musim ekstrem yang lebih panjang, pergeseran waktu curah hujan, hingga lonjakan kualitas udara yang memburuk.
Dua Musim Baru di Era Modern
Media internasional melaporkan bahwa fenomena musim kabut asap dan musim sampah kini dapat dilihat berulang tahunan di berbagai region dunia. Musim kabut asap muncul ketika kebakaran hutan dan lahan. Hal ini terutama di Asia Tenggara, Amerika Utara, dan bagian lain dunia. Kebakaran menghasilkan lapisan polutan tebal yang menutupi atmosfer selama periode panjang setiap tahun. Musim ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi jagat ekologi dan visibilitas udara.

Sementara itu, di sejumlah pesisir tropis seperti di Bali, arus laut dan angin muson mendorong sampah plastik mengapung ke pantai secara reguler. Sampah ini menciptakan apa yang disebut sebagai musim sampah. Pola ini sekarang dapat diprediksi bulan per bulan, menandai fenomena yang tidak lagi bersifat acak, melainkan siklus tahunan baru.
Dampak di Seluruh Dunia
Fenomena dua musim baru ini bukan sekadar semantik. Hal ini mencerminkan sebuah realitas yang lebih luas: bahwa perubahan iklim mengubah cara ekosistem bekerja, menggeser ritme alam yang telah stabil selama ribuan tahun. Perubahan musim ini terlihat tidak hanya dalam polusi dan limbah, tetapi juga dalam ketidaksinkronan musim tradisional. Misalnya, musim panas kadang datang lebih awal dan musim dingin berakhir lebih cepat. Perubahan ini memengaruhi pertanian, migrasi satwa, dan pola pertumbuhan tanaman di berbagai belahan dunia.
Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan ini bukan sementara atau lokal. Perubahan pola musim ini mencerminkan gangguan dalam keseimbangan iklim global yang lebih besar, gejala dari pemanasan global yang terus meningkat dan dampaknya yang semakin sulit diabaikan.
Refleksi Krisis Global
Fenomena “dua musim baru” ini seharusnya menjadi alarm bagi pembuat kebijakan, komunitas ilmiah, hingga masyarakat umum untuk mempercepat aksi iklim. Ini bukan sekadar perubahan dalam kalender tahunan; ini adalah bukti bahwa aktivitas manusia telah mendorong planet keluar dari pola ritmis yang sudah berlangsung panjang. Dan jika tidak ada tindakan nyata yang memperlambat laju perubahan iklim ini, bukan tidak mungkin “musim baru” lain yang tidak diinginkan akan muncul di masa depan, semakin memperkuat fajar krisis iklim global.***




