Mango Madness di Wilayah Tropis, Musim Panas yang Ganggu Kesehatan Mental

Di wilayah tropis, perubahan musim tidak ditandai oleh salju atau daun gugur, melainkan oleh lonjakan suhu, kelembapan tinggi, dan periode panas panjang sebelum musim hujan. Di Australia bagian utara, kondisi ini populer disebut mango madness—istilah slang untuk menggambarkan meningkatnya iritabilitas, konflik sosial, hingga perilaku impulsif saat cuaca sangat panas.

Walau bukan istilah medis, fenomena ini berkaitan dengan temuan ilmiah tentang hubungan antara suhu ekstrem dan kesehatan mental.

Panas dan Agresi, Apa Kata Riset?

Sejumlah studi internasional menunjukkan korelasi antara kenaikan suhu dan peningkatan agresivitas. Penelitian besar yang dipublikasikan dalam jurnal oleh Solomon Hsiang dan koleganya menemukan bahwa suhu yang lebih tinggi secara statistik berkaitan dengan peningkatan konflik interpersonal dan kekerasan kolektif.

Data dari penelitian itu mengungkapkan:

Untuk setiap perubahan ±1 standar deviasi dalam iklim menuju suhu yang lebih hangat atau cuaca ekstrem, ada peningkatan rata-rata 4% dalam kekerasan interpersonal (misalnya perkelahian, agresi kecil) dan 14% dalam konflik antarkelompok atau kolektif (misalnya kerusuhan, perang) secara global.

Studi lain di jurnal PubMed juga mencatat bahwa gelombang panas berkorelasi dengan kenaikan angka kekerasan domestik di berbagai negara. Sementara itu, Policy Brief Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebut perubahan iklim—termasuk suhu ekstrem—sebagai faktor risiko yang dapat memperburuk gangguan mental, terutama pada kelompok rentan.

Artinya, “mango madness” mungkin bukan sekadar mitos tropis, tetapi refleksi sosial dari tekanan biologis akibat panas.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Panas Ekstrem?

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Panas Ekstrem?

  • Gangguan tidur: suhu malam yang tinggi menghambat tidur nyenyak. Kurang tidur berhubungan langsung dengan peningkatan kecemasan dan penurunan regulasi emosi.
  • Dehidrasi dan kelelahan: panas meningkatkan risiko dehidrasi ringan yang bisa memicu sakit kepala, sulit konsentrasi, dan mudah marah.
  • Stres fisiologis: tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu inti tetap stabil. Stres ini meningkatkan kadar kortisol—hormon stres.
  • Interaksi sosial menurun: ketidaknyamanan fisik dapat menurunkan toleransi sosial dan meningkatkan konflik kecil.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, kombinasi panas tinggi, kelembapan ekstrem, dan kepadatan kota (efek urban heat island) memperparah tekanan ini.

Indonesia dan Asia Tenggara

Beberapa tahun terakhir, Asia Tenggara mengalami suhu maksimum yang memecahkan rekor historis. Gelombang panas yang lebih panjang akibat perubahan iklim membuat periode “musim panas” terasa semakin ekstrem.

Di kota besar seperti Jakarta atau Bangkok, suhu tinggi dipadukan dengan kemacetan, polusi, dan tekanan ekonomi menciptakan lingkungan yang rentan terhadap stres psikologis.

Berbeda dengan Seasonal Affective Disorder (SAD) di negara empat musim seperti Finland, wilayah tropis lebih sering menghadapi “summer-pattern mood disturbance”—perubahan mood yang berkaitan dengan panas dan kelembapan, bukan kekurangan cahaya.

Tips Mengelola Mood Saat Panas Tropis

Tips Mengelola Mood Saat Musim Panas Tropis

Berikut strategi berbasis sains untuk menjaga stabilitas emosi saat suhu melonjak:

  1. Prioritaskan Kualitas Tidur. Gunakan ventilasi maksimal, kipas, atau pendingin ruangan bila memungkinkan. Tidur cukup adalah fondasi regulasi emosi.
  2. Cegah Dehidrasi. Minum air secara teratur, bukan menunggu haus. Hindari konsumsi berlebihan kafein dan alkohol saat cuaca sangat panas.
  3. Batasi Paparan Panas Siang Hari. Atur aktivitas fisik di pagi atau sore hari untuk mengurangi stres panas.
  4. Perbanyak Ruang Hijau. Paparan lingkungan hijau terbukti menurunkan stres dan membantu stabilisasi mood.
  5. Kenali Pola Pribadi. Jika setiap musim panas kamu merasa lebih mudah marah atau cemas, catat pola tersebut dan lakukan pencegahan lebih awal.

“Mango madness” mungkin terdengar seperti lelucon tropis, tetapi di balik istilah itu tersimpan realitas biologis dan sosial: panas ekstrem memengaruhi emosi manusia. Di era perubahan iklim, wilayah tropis menghadapi tantangan unik—bukan kekurangan cahaya, melainkan kelebihan panas.

Memahami hubungan antara musim tropis dan kesehatan mental menjadi langkah penting, bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk kebijakan publik di kota-kota yang semakin panas.***

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 49