Pemanasan Global Melaju Lebih Cepat: Dunia Mendekati Batas Kritis

Laju pemanasan global kini meningkat lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa percepatan perubahan iklim dalam satu dekade terakhir membuat dunia semakin dekat pada ambang batas kritis. Temuan ini menambah urgensi bagi pemerintah dan masyarakat global untuk segera menurunkan emisi karbon.

Menurut laporan penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Geophysical Research Letters menunjukkan bahwa laju pemanasan global hampir dua kali lebih cepat sejak 2015 dibandingkan periode sebelumnya. Antara tahun 1970 hingga 2015, suhu rata-rata global meningkat sekitar 0,2°C per dekade, namun dalam sepuluh tahun terakhir peningkatannya mencapai sekitar 0,35°C per dekade.

Dekade Terburuk dalam Sejarah

Para ilmuwan mencatat bahwa suhu rata-rata global antara tahun 1970 hingga 2015 meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade. Namun sejak pertengahan 2010-an, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade.

Kondisi ini membuat dekade terakhir menjadi periode terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan iklim modern. Hampir seluruh rekor suhu tertinggi global terjadi setelah tahun 2015. Pada tahun 2023 dan 2024 yang mencatat temperatur ekstrem di berbagai belahan dunia.

Laporan lain dari lembaga penelitian iklim Berkeley Earth menyebutkan bahwa tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga dalam catatan sejarah, setelah 2024 dan 2023. Bahkan, sebelas tahun terakhir secara keseluruhan mencakup seluruh sebelas tahun terpanas sejak pencatatan suhu global dimulai pada 1850.

Situasi tersebut semakin mengkhawatirkan karena pada 2024 suhu rata-rata bumi sempat melampaui ambang 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Angka ini menjadi target utama yang disepakati negara-negara dunia dalam perjanjian iklim internasional, yakni Paris Climate Agreement.

Meski demikian, para ilmuwan menjelaskan bahwa target 1,5°C dihitung berdasarkan rata-rata suhu selama sekitar dua dekade. Artinya, pelampauan dalam satu tahun belum secara resmi dianggap sebagai kegagalan target. Namun, ini menjadi tanda peringatan serius bahwa dunia semakin mendekati batas tersebut.

Ancaman Kenaikan Air Laut

Para ilmuwan juga menemukan bahwa sebagian besar panas dari pemanasan global sebenarnya diserap oleh lautan. Sekitar 90 persen kelebihan panas akibat perubahan iklim tersimpan di laut, menjadikannya indikator penting untuk memahami perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim juga terlihat dari penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Nature. Studi tersebut menemukan bahwa permukaan laut di wilayah pesisir global 8 hingga 12 inci lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bagi ratusan juta orang yang tinggal di wilayah pesisir.

Studi lain, jurnal Advances in Atmospheric Sciences menunjukkan bahwa suhu laut dan kandungan panas laut mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024. Dalam satu tahun saja, panas di lapisan laut hingga kedalaman 2.000 meter meningkat sekitar 16 zettajoule energi, jumlah energi yang sangat besar dibandingkan dengan konsumsi energi global.

Secara keseluruhan, sejak awal abad ke-20 permukaan laut global telah naik sekitar 228 milimeter. Kenaikan ini dipicu oleh pencairan es di Greenland dan Antartika, mencairnya gletser pegunungan, serta pemuaian air laut akibat pemanasan suhu.

Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa permukaan laut global kemungkinan lebih tinggi sekitar 30 sentimeter dari perkiraan model sebelumnya, yang berarti risiko banjir pesisir bagi jutaan orang mungkin jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan.

Cuaca Ekstrem Semakin Sering Terjadi

Perubahan iklim juga memicu peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem. Pada tahun 1980-an, fenomena tersebut hanya memengaruhi sekitar 2,5 persen wilayah daratan bumi setiap tahun. Kini angka tersebut meningkat menjadi sekitar 16,7 persen wilayah daratan global.

Fenomena ini dikenal sebagai flash drought, yaitu kekeringan yang muncul dengan sangat cepat setelah gelombang panas, sehingga masyarakat dan pemerintah sering tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri.

Temuan ilmiah terbaru ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung saat ini. Rekor suhu global, panas laut yang meningkat, kenaikan permukaan laut, serta meningkatnya cuaca ekstrem menunjukkan bahwa sistem iklim bumi sedang mengalami perubahan besar.

Para ilmuwan menekankan bahwa masa depan iklim bumi masih sangat bergantung pada keputusan manusia. Cara yang paling memberikan pengaruh adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dari penggunaan bahan bakar fosil. Tanpa upaya global yang cepat dan terkoordinasi, percepatan perubahan iklim berpotensi membawa dampak yang jauh lebih luas.

Di tengah berbagai peringatan ilmiah tersebut, pesan yang terus disampaikan para peneliti tetap sama: waktu untuk bertindak semakin sempit. Namun kesempatan untuk memperlambat krisis iklim masih ada.***


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 58