Bahasa Ibu di Persimpangan Zaman

Setiap manusia lahir dengan sebuah bahasa pertama, bahasa yang didengar dari ibu, keluarga, dan lingkungan terdekat. Bahasa itulah yang disebut bahasa ibu. Melalui bahasa ini, seorang anak belajar menyebut dunia. Anak mengenal kasih sayang, memahami nasihat, hingga menangkap cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap kata dalam bahasa ibu membawa jejak pengalaman dan sejarah. Cara seseorang memanggil “ibu”, menyebut “air”, atau menamai “langit”, memuat pengalaman kolektif sebuah komunitas terhadap kehidupan. Bahasa menjadi lebih dari struktur gramatika. Bahasa adalah ingatan yang terus hidup. Ketika seorang anak belajar berbicara, ia tidak hanya meniru bunyi, tetapi juga menyerap cara melihat dunia. Ia menyimpan data dalam pikirannya tentang apa yang dianggap penting, apa yang dihormati, apa yang ditakuti, dan apa yang dicintai.

Bahasa ibu juga merupakan bahasa pertama emosi. Banyak orang dapat menguasai berbagai bahasa asing dengan fasih, namun kemarahan terdalam, doa paling tulus, atau tangis yang tak tertahankan acap kali kembali pada bahasa ibu. Seolah-olah jiwa memiliki jalur pulang yang tidak bisa digantikan oleh kosakata mana pun.

Bahasa Ibu dalam Ruang Globalisasi

Di tengah dunia yang semakin modern dan global, bahasa ibu di banyak tempat mulai menghadapi ancaman yang serius. Bahasa yang dulu hidup dalam percakapan sehari-hari perlahan menghilang dari rumah, digantikan oleh bahasa nasional atau bahasa internasional yang dianggap lebih praktis dan bergengsi.

Secara global, terdapat sekitar 7.170 bahasa yang masih digunakan di dunia saat ini. Keragaman ini sebenarnya merupakan kekayaan budaya umat manusia. Namun, kenyataannya, sebagian besar bahasa tersebut berada dalam kondisi rentan. Sekitar 44 persen bahasa di dunia kini terancam punah. Indikatornya jumlah penuturnya semakin sedikit dan tidak lagi diwariskan kepada generasi muda.

Yang mengkhawatirkan, dari jumlah tersebut, Indonesia termasuk dalam posisi 4 negara teratas sebagai negara dengan situasi krisis kepunahan bahasa ibu, yaitu lebih dari 1000 bahasa terancam punah. Fenomena ini terjadi karena berbagai faktor: urbanisasi, dominasi bahasa nasional atau internasional, serta perubahan pola komunikasi generasi muda. Ketika sebuah bahasa tidak lagi diajarkan kepada anak-anak, maka bahasa itu perlahan kehilangan penutur dan akhirnya menghilang.

Kemendikdasmen dengan tegas menyatakan situasi rapor merah untuk bahasa di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) tahun 2024, dari 718 bahasa daerah terdapat 18 bahasa daerah berstatus aman, 21 rentan, 3 mengalami kemunduran, 29 terancam punah, 8 kritis, dan 5 punah.

Faktor Pendorong Kepunahan Bahasa

Faktor yang juga menjadi pendorong kepunahan bahasa ini menurut Kemendikdasmen adalah jika suatu bahasa tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari pemerintah atau masyarakat. Tanpa pendidikan yang memadai, jumlah pemakai bahasa daerah dapat menurun sehingga menyebabkan bahasa tersebut makin terancam punah.

Selain itu, perkembangan teknologi dan media massa juga dapat berperan dalam punahnya bahasa daerah. Jika bahasa tersebut tidak diwakili di media atau teknologi modern, generasi muda mungkin tidak tertarik untuk mempelajari atau menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah laporan dari BBC mengisahkan bahasa Ponosakan cabang dari bahasa Mongondow-Gorontalo di Minahasa, Sulawesi Utara, saat ini penuturnya hanya tinggal 10 orang dan itu pun sudah berusia di atas 50 tahun.

Secara wilayah, Maluku dan Papua menempati ruang paling rentan dalam situasi kepunahan bahasa. Ada sekitar 20 bahasa di wilayah ini yang saat ini sudah punah, dengan indikasi nol penutur. Sementara puluhan lainnya, seperti Bahasa As, Bahasa Auye, Bahasa Awera, Bahasa Biak, dan lainnya ada dalam situasi yang rentan kepunahan.

Kepunahan Bahasa, Kepunahan Pengetahuan

Hilangnya bahasa ibu bukan sekadar hilangnya kata-kata. Kehilangan ini juga menandai runtuhnya sebuah kosmologi, sebuah dunia makna yang selama berabad-abad dibangun oleh pengalaman kolektif manusia dengan tanah, air, langit, dan sesamanya. Dalam setiap bahasa, tersimpan pengetahuan yang tidak selalu tercatat dalam buku, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari. Termasuk di dalamnya cara membaca musim dari arah angin, cara mengenali tumbuhan obat dari aroma daun, cara memanggil hewan dengan nada yang tidak mengancam, serta cara menata hubungan antarmanusia melalui istilah kekerabatan.

Nama-nama tumbuhan dan hewan dalam bahasa ibu sering kali tidak memiliki padanan dalam bahasa lain. Nama-nama ini lahir dari kedekatan yang intim dengan lingkungan tertentu. Satu kata dapat memuat pengetahuan tentang warna tanah, kegunaan, pantangan, bahkan kisah asal-usulnya. Demikian pula humor khas, peribahasa, mitos, dan ungkapan sehari-hari. Kata-kata dalam bahasa ibu mencerminkan cara suatu masyarakat memahami penderitaan, kebahagiaan, ironi, dan kebijaksanaan hidup. Bahasa menjadi wadah tempat filsafat hidup berdiam tanpa harus disebut sebagai “filsafat”.

Ketika sebuah bahasa mati, bukan hanya bunyinya yang hilang, tetapi juga cara berpikir yang dibentuk olehnya. Cerita rakyat yang dulu dituturkan di beranda rumah menjadi tak terucapkan, doa-doa kehilangan resonansi aslinya, dan tradisi lisan kehilangan tanah tempat berpijak.

Martin Heidegger, filsuf besar Jerman, pernah menyatakan bahwa “language is the house of Being”, bahasa adalah rumah bagi Ada (Sein). Maksudnya, manusia tidak sekadar menggunakan bahasa untuk menggambarkan dunia; justru melalui bahasalah dunia itu menampakkan diri. Kita tidak pertama-tama hidup lalu berbicara, melainkan “berada” di dalam bahasa yang sudah lebih dahulu mengandung horizon makna.

Jika bahasa adalah rumah bagi keberadaan, maka bahasa ibu adalah rumah pertama, rumah asal, tempat Ada mula-mula bernaung sebelum kita menjelajah dunia. Ketika bahasa ibu hilang, yang terjadi bukan sekadar perpindahan alamat linguistik, melainkan penggusuran ontologis. Manusia kehilangan ruang paling awal tempat ia memahami dirinya dan realitas. Ia mungkin masih memiliki banyak bahasa lain, tetapi tidak lagi memiliki rumah yang dibangun dari ingatan paling purba.

Bahasa Ibu, Identitas yang Bersuara

Bahasa ibu adalah suara pertama yang menyentuh kesadaran manusia sebelum ia mengenal dirinya sebagai “aku”. Melalui kata-kata Ibu, suara ini hadir dalam pelukan, dalam nyanyian pengantar tidur, dan dalam doa yang dibisikkan di dekat telinga bayi. Melalui bahasa ibu, seorang manusia tidak hanya belajar berbicara, tetapi belajar merasakan dunia.

Karena itu, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang bersuara. Bekerja sebagai penanda dari mana seseorang berasal, bukan hanya secara geografis, tetapi secara batiniah. Dalam logat, intonasi, pilihan kata, bahkan dalam jeda ketika seseorang mencari ungkapan yang tepat, tersimpan sejarah keluarga, komunitas, dan lanskap tempat ia dibesarkan. Bahasa ibu adalah peta tak kasatmata yang melekat pada tubuh.

Rekomendasi Baca

Salah satu buku yang menarik untuk memperkenalkan pentingnya bahasa ibu kepada anak-anak adalah My Mother’s Tongues: A Weaving of Languages. Buku cerita bergambar ini ditulis oleh Uma Menon dan diterbitkan oleh Walker Books.

Melalui kisah sederhana namun hangat, buku ini menggambarkan kekaguman seorang anak terhadap ibunya yang mampu memadukan dua bahasa—Malayalam dan English—dalam percakapan sehari-hari. Bagi sang anak, kemampuan itu terasa seperti sebuah “kekuatan super” yang menghubungkan akar budaya keluarganya di India dengan kehidupan baru mereka di Amerika Serikat. Dalam cerita tersebut, bahasa digambarkan seperti kain berwarna-warni yang ditenun bersama. Sang anak menyaksikan bagaimana ibunya dengan mudah beralih dari satu bahasa ke bahasa lain, lalu terinspirasi untuk mempelajari lebih banyak bahasa, mulai dari Tamil, Gujarati, hingga French.

Di banyak tempat, bahasa ibu adalah penanda identitas terdalam yang tidak mudah digantikan. Bahasa pertama yang ia dengar sejak lahir tetap menjadi ruang batin paling intim. Sebuah tempat kenangan masa kecil berdiam tanpa terjemahan. Dalam bahasa itulah seseorang pertama kali dipanggil namanya, dimarahi ketika melakukan kesalahan, dipuji ketika berhasil, dan didoakan agar hidupnya selamat.

Langkah Penyelamatan, dari Kebijakan Hingga Kerja Komunitas

Implementasi kebijakan revitalisasi bahasa daerah dilaksanakan oleh Badan Bahasa sejak tahun 2021 sampai dengan 2045 dengan dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014. Pelaksanaan penyusunan kebijakan ini melibatkan pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas pelestari bahasa, lembaga keagamaan, masyarakat umum, LSM, dan BUMN.

Namun, negara tidak dapat bekerja sendiri. Nasib bahasa ibu pada akhirnya ditentukan di ruang paling kecil: rumah. Bahasa hidup bukan karena ditetapkan dalam undang-undang, melainkan karena diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Ketika orang tua berhenti berbicara kepada anak-anaknya dalam bahasa ibu, transmisi antargenerasi terputus,. Di situlah sebuah bahasa mulai memasuki senyapnya.

Masyarakat memiliki peran yang jauh lebih mendasar. Menuturkan bahasa ibu di rumah, menceritakan dongeng sebelum tidur, menyanyikan lagu tradisional, menggunakan sapaan kekerabatan asli, serta merawat ritual dan perayaan lokal adalah bentuk-bentuk sederhana namun menentukan.

Sekolah dan perguruan tinggi memegang peranan penting dalam pelestarian bahasa. Di tingkat sekolah dasar dan menengah, peran paling penting adalah memastikan bahwa bahasa ibu tidak dianggap sebagai penghalang kemajuan, melainkan sebagai fondasi pembelajaran. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar awal terbukti membantu anak memahami konsep dengan lebih baik karena ia belajar melalui bahasa yang sudah akrab secara emosional dan kognitif. Program muatan lokal, pelajaran bahasa daerah, pementasan sastra lisan, serta kegiatan budaya sekolah dapat menjadi ruang di mana bahasa ibu hadir bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pengalaman hidup.

Komunitas juga dapat menghidupkan bahasa melalui kegiatan sastra, teater, film pendek, media sosial, atau dokumentasi digital, membawa bahasa ibu ke ruang modern tanpa kehilangan akarnya.

Kaum muda memiliki posisi strategis. Ketika bahasa ibu hadir dalam musik, puisi, konten kreatif, atau percakapan sehari-hari antar teman. Dalam posisi ini bahasa ibu berhenti menjadi simbol masa lalu dan kembali menjadi bahasa hidup. Bahasa tidak harus dibekukan sebagai artefak budaya; ia perlu bergerak, bercampur, dan beradaptasi agar tetap relevan dengan zaman.

Sebuah Tanggung Jawab Kolektif

Upaya menjaga bahasa ibu tidak pernah dapat berdiri sendiri. Kerja ini bukan proyek satu lembaga, satu generasi, atau satu ruang sosial. Bahasa hidup karena relasi, antara keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia pengetahuan. Ketika salah satu mata rantai ini terputus, keberlangsungan bahasa ikut melemah.

Keluarga mungkin dapat menuturkan bahasa ibu di rumah, tetapi tanpa pengakuan di sekolah, anak akan segera belajar bahwa bahasa itu tidak memiliki nilai di ruang publik. Ia akan memahami bahwa bahasa ibunya hanya “boleh” dipakai secara privat, sementara bahasa lain menjadi simbol kecerdasan dan kemajuan. Sebaliknya, sekolah dapat mengajarkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran. Namun, jika tidak digunakan di rumah dan lingkungan sosial, bahasa itu berubah menjadi hafalan tanpa kehidupan, sebuah pengetahuan yang diketahui, tetapi tidak dihuni.

Masyarakat adat dan komunitas lokal dapat menjaga tradisi lisan, ritual, dan kesenian dalam bahasa ibu. Namun tanpa dukungan dokumentasi, penelitian, dan kebijakan negara, warisan itu rentan hilang ketika generasi tua meninggal. Banyak bahasa punah bukan karena tidak dicintai, melainkan karena tidak sempat dicatat dan ditransmisikan dalam bentuk yang dapat bertahan melampaui usia penuturnya.

Di sisi lain, pemerintah dapat merancang program revitalisasi, kurikulum muatan lokal, atau pendokumentasian. Namun kebijakan tidak akan bermakna jika masyarakat sendiri tidak menuturkan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian, menyusun kamus, merekam sastra lisan, dan mengembangkan teori tentang bahasa dan budaya. Tetapi tanpa komunitas penutur yang aktif, penelitian itu berisiko menjadi museum akademik, lengkap secara ilmiah, namun kosong secara eksistensial. Sebaliknya, komunitas tanpa dukungan akademik sering kehilangan akses untuk mendokumentasikan pengetahuan mereka dalam bentuk yang diakui secara luas.

Karena itu, pelestarian bahasa ibu menuntut kerja bersama yang saling melengkapi. Keluarga menurunkan bahasa, sekolah menormalkan penggunaannya, masyarakat menjaga konteks budayanya, negara memberikan perlindungan struktural, dan perguruan tinggi memastikan ia dipahami sebagai sumber pengetahuan. Tidak ada satu pun yang cukup sendirian.

Selama bahasa itu masih dituturkan, selama itu pula sebuah dunia, dengan seluruh ingatan, pengetahuan, dan cara pandangnya, masih bernapas melalui manusia yang mengucapkannya. Bahasa ibu adalah identitas yang bersuara, dan masa depannya bergantung pada apakah kita masih bersedia mendengarkan dan menuturkannya kembali.***

Riset dan Artikel Pendukung tentang Pentingnya Bahasa Ibu

Imron, Aly, Ni Putu Somawati, and Lubna Ali Mohammed. “Preserving Mother Tongues Remains Crucial for Cultural Identity and Diversity amid the Homogenizing Forces of Globalized Educational Systems.Journal of Language, Literature, Social and Cultural Studies 3, no. 2 (2025): 128 – 141.

Nunung Sitaresmi, Meilani Puji Astini, Lilis Siti Sulistyaningsih, Isah Cahyani, and Rahmawati Rahmawati. “The Vitality of Mother Tongues in a Multilingual Society in Dieng, Central Java.” Jurnal Arbitrer 10, no. 4 (2024): 309 – 322.

UNESCO. “Why Mother Language-Based Education Is Essential.” April 20, 2023. https://www.unesco.org/en/articles/why-mother-language-based-education-essential.

Arsendy, Senza. “Mother-Tongue Language Education: Improving Education Quality While Preserving Culture.” Indonesia at Melbourne. https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/mother-tongue-language-education-improving-education-quality-while-preserving-culture/.

Leighton, Margaret. “Mother Tongue Reading Materials as a Bridge to Literacy.” Economics of Education Review 91 (December 2022): 102312.


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Lisa Febriyanti
Lisa Febriyanti
Articles: 5