Antara Janji dan Luka: Kaleidoskop Lingkungan Indonesia 2025

Sampah & Polusi: Kesadaran Seremonial

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025, mengusung tema Hentikan Polusi Plastik. Aksi bersih-bersih sungai dan pantai digelar serentak di berbagai daerah. Namun, laporan tahunan menunjukkan bahwa upaya ini belum menyentuh akar persoalan.

Di wilayah perkotaan dan daerah wisata, sampah tetap menumpuk. Sungai tetap tercemar. Kesadaran publik tumbuh, tetapi masih bersifat episodik, muncul saat momentum peringatan, lalu mereda.

Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total timbulan sampah di seluruh Indonesia mencapai lebih dari 38 juta ton, dengan sekitar 65,75 tidak terkelola, sedangkan 34,25 % sisanya tidak terkelola dengan baik. Infrastruktur pengelolaan limbah masih terbatas, terutama di perkotaan besar dan daerah pinggiran. Timbunan terbesar dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Data SIPSN juga menunjukkan bahwa 19,74 % dari 34,2 juta ton sampah nasional adalah sampah plastik, meningkat signifikan dari sekitar 11 % pada 2010. Komposisi ini menempatkan plastik sebagai jenis sampah terbesar kedua setelah sampah makanan. Sampah sisa makanan 38,2% masih berada di tingkat pertama.

Proyeksi dari Universitas Gadjah Mada memperkirakan bahwa jika tren ini terus berlangsung, Indonesia bisa menghasilkan sampai 82 juta ton sampah per tahun menjelang 2045, memperlihatkan tekanan yang semakin besar pada sistem persampahan nasional.

Soal plastik, World Bank memperkirakan jutaan ton plastik yang tidak terkelola akan mengalir ke sungai dan laut, termasuk sekitar 346.5 ribu ton per tahun dari daratan menuju lingkungan laut dari wilayah Jawa dan Sumatra saja.

Udara yang dihirup dan hujan yang turun di Indonesia sepanjang 2025 tidak lagi sepenuhnya bersih. Di balik kabut polusi dan partikel debu halus, ilmuwan dan organisasi lingkungan menemukan ancaman yang nyaris tak kasat mata: mikroplastik. Partikel plastik berukuran lebih kecil dari lima milimeter itu kini tidak hanya mencemari laut dan sungai, tetapi juga melayang di udara, menempel pada partikel polutan, dan jatuh kembali ke bumi bersama hujan.

Penelitian global yang juga relevan dengan kondisi Indonesia menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjadi bagian dari polusi udara perkotaan. Serat dari pakaian sintetis, partikel ban kendaraan, sisa pembakaran sampah plastik, serta debu industri terfragmentasi menjadi partikel mikro yang mudah terhirup. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kawasan industri di Jawa dan Sulawesi, mikroplastik ditemukan bercampur dengan PM2.5 dan PM10, partikel halus yang selama ini dikenal sebagai pemicu utama penyakit pernapasan.

Profesor dari IPB University menjelaskan bahwa hujan di Jakarta memang dapat mengandung mikroplastik karena partikel sangat ringan dapat naik ke atmosfer melalui angin dan kemudian turun kembali saat hujan.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42