Di tengah meningkatnya krisis sampah plastik global, para peneliti dan inovator di berbagai negara berlomba mengembangkan plastik berbasis tanaman. Diciptakan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding plastik berbahan baku minyak bumi. Berbeda dengan plastik konvensional, plastik berbasis hayati dirancang agar lebih mudah terurai dan berasal dari sumber daya terbarukan.
Kalpatara mengajak kalian untuk keliling dunia. Kita menengok temuan para ilmuwan dan inovator di berbagai negara menciptakan plastik yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan kualitas tanaman.
Selulosa Tanaman: Terobosan dari Jepang
Salah satu inovasi yang banyak mendapat perhatian datang dari Jepang. Peneliti di RIKEN Center for Emergent Matter Science berhasil mengembangkan plastik berbasis selulosa tanaman. Tetap kuat saat digunakan, namun dapat larut dan terurai di air laut tanpa menghasilkan mikroplastik.
Pada tahun 2025, tim peneliti yang dipimpin oleh Takuzo Aida mempublikasikan hasil riset mereka dalam jurnal Journal of the American Chemical Society. Dalam publikasi tersebut, para peneliti menjelaskan bahwa mereka berhasil merancang plastik berbasis tanaman. Dengan bahan dari selulosa nabati yang memiliki sifat kuat, lentur, dan mampu terurai dengan cepat di lingkungan alami. Karakteristik ini membuatnya berbeda dari banyak plastik yang selama ini dipasarkan sebagai biodegradable, namun pada kenyataannya sulit terurai di alam.
Sumber gambar: RIKENMaterial baru ini juga menyempurnakan desain sebelumnya dengan menggunakan carboxymethyl cellulose, yaitu bahan berbasis tanaman yang sudah disetujui FDA. Bahan ini banyak digunakan dalam produk makanan, seperti es krim, sebagai bahan pengental.
Rumput Laut dan Alga: Solusi untuk Lautan dari Inggris
Di Inggris, perusahaan rintisan Notpla mengembangkan kemasan berbasis rumput laut yang dapat terurai secara alami dan bahkan aman untuk dikonsumsi. Bahan bakunya tidak memerlukan lahan pertanian, air tawar, maupun pupuk, sehingga tidak bersaing dengan produksi pangan.
Inovasi Notpla yang paling dikenal adalah Ooho pod, yaitu kemasan cairan yang bisa dimakan. Produk ini mulai menarik perhatian publik saat digunakan pada London Marathon.
Selain itu, Notpla juga mengembangkan berbagai produk lain, seperti wadah sekali pakai yang dapat terurai dalam waktu hingga enam minggu. Ada pula alat makan berbahan rumput laut, hingga kertas dari rumput laut yang dapat mengurangi ketergantungan pada bubur kayu.
Sumber Gambar: NotplaPada tahun 2020, Earthshot Prize menganugerahkan penghargaan kepada Notpla, sebuah inovator yang menggantikan plastik konvensional dengan produk berbahan rumput laut dan tanaman lainnya.
Pada tahun 2023, Notpla berhasil menggantikan 4,4 juta unit plastik dengan produk kemasan ramah lingkungannya. Kemasan Notpla juga menjadi material pertama dan satu-satunya di dunia yang secara resmi diakui bebas plastik berdasarkan European Single Use Plastics Directive.
Dengan memanfaatkan ekstrak rumput laut dari Prancis, Spanyol (ROKO), dan Amerika Selatan, Notpla mengolah bahan unggulannya menjadi berbagai bentuk dan ukuran baru.
Para ilmuwan Notpla saat ini tengah mengembangkan gelas untuk minuman dingin maupun panas. Notpla juga terus menyempurnakan dan memperluas solusi kemasan ramah lingkungan yang sudah ada.
Hasil penelitian menunjukkan, serat selulosa berukuran sangat kecil (nanofiber) yang berasal dari rumput laut mudah terurai di alam. Karena sifat ini, bahan tersebut dinilai berpotensi menjadi pengganti plastik sintetis untuk kemasan ramah lingkungan dan beberapa kebutuhan medis.
Umumnya, pembuatan plastik berbasis rumput laut dimulai dari pengumpulan rumput laut, kemudian pengambilan zat alaminya, diolah hingga menjadi bahan plastik tipis atau lembaran. Dengan berkembangnya teknologi biologi dan rekayasa genetika, produksi plastik dari rumput laut diharapkan bisa menjadi lebih banyak, lebih berkualitas, dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Makan Sendok di Amerika
Pada tahun 2018, Dinesh Tadepalli, salah satu pendiri Incredible Eats, merasa tergugah setelah melihat kantong sampah penuh sendok plastik sekali pakai di sebuah toko es krim di California. Saat itu, ia mulai memikirkan masa depan anak-anaknya dan mempertanyakan dampak plastik sekali pakai yang terus digunakan setiap hari.
Di Amerika Serikat saja, sekitar 100 juta alat makan plastik digunakan setiap hari, dan sebagian besar akhirnya berakhir di tempat pembuangan sampah. Dari kegelisahan inilah, Tadepalli mulai mengeksplorasi ide alat makan yang bisa dimakan.
Selama kurang lebih delapan bulan, ia bereksperimen dengan berbagai campuran bahan dan cetakan. Hasilnya adalah sendok yang bisa dimakan, dibuat dari bahan alami seperti gandum, oat, jagung, kacang arab, dan beras merah. Demi mewujudkan idenya, Tadepalli bahkan menjual rumah keluarganya untuk mendanai pabrik produksi di India.
Kini, Incredible Eats tidak hanya memproduksi sendok, tetapi juga sedotan dan garpu yang bisa dimakan, tersedia dalam berbagai rasa manis dan gurih. Produk-produk ini dirancang tetap kuat dan tidak mudah hancur, bahkan bisa bertahan hingga 30 menit saat digunakan untuk sup panas atau hidangan dingin. Hingga saat ini, Incredible Eats mengklaim telah menggantikan sekitar tujuh juta alat makan plastik.
Sumber Gambar: IG thewholefoodsveganMenurutnya, meminta perusahaan makanan besar untuk sepenuhnya mengganti alat makan plastik memang tidak mudah. Namun, ia yakin bahwa konsumen akan memilih sendok yang bisa dimakan jika diberi pilihan.
“Kesadaran adalah kuncinya. Jika sendok yang bisa dimakan ditawarkan sebagai pilihan tambahan, pelanggan akan mencobanya,” ujar Tadepalli.
Pada tahun 2022, Dippin’ Dots merek es krim asal Amerika Serikat yang terkenal dengan bentuknya yang butiran kecil seperti mutiara mengumumkan partershipnya dengan Increadible Eats. Uniknya, sendok yang bisa dimakan ini tersedia dalam dua rasa, vanila dan cokelat, dan dapat dipadukan dengan semua varian es krim.
Indonesia Lupakan Sekali Pakai
Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan serius terkait sampah plastik, terutama di wilayah pesisir dan laut. Setiap hari, jutaan kemasan sekali pakai digunakan dan berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan. Di tengah persoalan ini, berbagai inisiatif lokal mulai bermunculan untuk menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan.
Salah satunya adalah Ecoware Indonesia, yang memanfaatkan bahan-bahan alami yang berasal dari sumber daya terbarukan, banyak di antaranya berasal dari kekayaan hayati Indonesia.
Salah satu bahan utama yang digunakan adalah rumput laut. Bahan ini diolah menjadi kemasan tipis untuk produk seperti kopi, bumbu, dan makanan kering. Keunggulannya, kemasan berbasis rumput laut ini dapat larut dalam air atau terurai secara alami, bahkan aman jika tertelan, sehingga tidak meninggalkan residu plastik di lingkungan.
Sumber Gambar: Ecoware IndonesiaSelain rumput laut, Ecoware juga menggunakan singkong sebagai bahan dasar pembuatan kantong ramah lingkungan. Untuk kebutuhan kemasan makanan siap saji, Ecoware memanfaatkan ampas tebu (bagasse), yaitu sisa serat dari industri gula. Bahan ini diolah menjadi kotak makanan, piring, dan wadah yang cukup kuat untuk makanan panas maupun berminyak, namun tetap bisa terurai setelah digunakan.
Ecoware juga mengembangkan produk berbahan beras dan tapioka, yang digunakan sebagai bahan dasar sedotan ramah lingkungan. Sedotan ini aman digunakan, dapat terurai secara alami, dan tidak mencemari lingkungan seperti sedotan plastik sekali pakai.
Sementara itu, untuk alat makan Ecoware memanfaatkan bambu dan kayu dari sumber yang dikelola secara berkelanjutan. Ada pula produk tertentu yang dibuat dari daun palma, yang digunakan tanpa proses kimia berat dan tetap mempertahankan sifat alaminya.
Pada akhirnya, berbagai inovasi plastik berbasis tanaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa alternatif plastik sekali pakai bukan lagi sekadar wacana. Tantangan terbesar kini bukan hanya pada teknologi, tetapi pada keberanian untuk berubah, baik di tingkat kebijakan, industri, maupun kebiasaan konsumsi sehari-hari.***




