Solusi dalam Bahaya
Baik pemikiran Heidegger maupun dekolonisasi tidak berada dalam posisi menolak teknologi, dalam hal ini adalah AI. Perjalanan penciptaan AI yang telah dimulai sejak tahun 50an merupakan bagian dari sejarah peradaban manusia yang tidak mungkin ditolak.
Bagi Heidegger, solusi dari bahaya teknologi tidak terletak pada penolakan teknologi atau kembalinya manusia ke keadaan pra-teknologis. Ia justru menolak romantisme semacam itu. Yang ia ajukan adalah perubahan sikap fundamental: manusia perlu berhenti memahami dirinya sebagai tuan sang penguasa teknologi, dan mulai melihat dirinya sebagai bagian dari proses penyingkapan dunia yang lebih luas dan kaya akan makna.
Heidegger menyebut sikap ini sebagai Gelassenheit, yang sering diterjemahkan sebagai “melepaskan” atau “membiarkan”. Dalam konteks teknologi, Gelassenheit bukan berarti pasif atau menyerah, melainkan kesediaan untuk tidak selalu memaksakan kehendak penguasaan. Manusia tetap menggunakan teknologi, tetapi tanpa ilusi bahwa segala sesuatu harus tunduk pada perhitungan, kontrol dan algoritma.
Dengan sikap Gelassenheit, manusia yang hidup bersama dengan mesin tidak lagi berdiri sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga keterbukaan makna. Teknologi diakui sebagai salah satu cara dunia menyingkapkan dirinya, bukan satu-satunya. Sikap ini membuka ruang bagi cara-cara lain memahami keberadaan, melalui seni, bahasa, perenungan, dan relasi antarmanusia yang tidak tunduk sepenuhnya pada logika efisiensi dan optimasi.
Dalam kerangka ini, relasi manusia dan teknologi menjadi relasi ko-eksistensial, bukan relasi dominasi. Manusia tidak mengatur dunia secara total, tetapi juga tidak larut sepenuhnya di dalam sistem teknologis. Ia menjaga jarak reflektif, sebuah jarak yang memungkinkan penilaian etis dan pengambilan keputusan yang tidak semata-mata ditentukan oleh kalkulasi teknis.
Kebersamaan dengan teknologi dapat dimaknai sebagai pembalikan sikap dari kehendak menguasai menuju kesediaan membiarkan; dari dominasi menuju penjagaan; dari efisiensi semata menuju makna. Manusia berhenti menjadi penguasa bukan dengan menyerahkan diri pada teknologi, tetapi dengan mengingat kembali bahwa ia bukan pusat tunggal dari keberadaan.
Ketika AI dirancang untuk mengelola, mengoptimalkan, dan bahkan mengambil keputusan, tantangan manusia bukanlah bagaimana mempertahankan kontrol absolut, melainkan bagaimana tetap hadir sebagai subjek yang mampu berkata “cukup”, “tidak”, atau “belum”. Di situlah martabat manusia dijaga bukan sebagai penguasa teknologi, tetapi sebagai penjaga makna di tengah dunia yang semakin terbingkai oleh sistem teknis.
Menjaga Ruang Lokal
Heidegger tidak menutup kemungkinan harapan di tengah bahaya teknologi. Ia percaya bahwa di dalam bahaya teknologi, tersimpan pula peluang keselamatan, jika manusia menyadari bahwa teknologi hanyalah satu cara menyingkap dunia, bukan satu-satunya.
Dalam konteks ini, tantangan yang dihadapi Global South bukanlah memilih antara menerima atau menolak AI. Pilihan semacam itu terlalu sederhana dan sering kali tidak realistis. Tantangan yang lebih mendalam adalah bagaimana menggunakan AI tanpa sepenuhnya tunduk pada logika yang dibawanya. Artinya, teknologi dimanfaatkan sebagai sarana, tetapi tidak dibiarkan mendikte nilai, ritme hidup, dan cara manusia berelasi satu sama lain.
Membuka ruang bagi cara-cara lain menyingkap dunia berarti mempertahankan pluralitas makna di tengah tekanan standardisasi global yang monokultur. AI boleh digunakan untuk meningkatkan layanan publik atau mendukung kerja, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran tentang apa yang dianggap berhasil, berguna, atau maju. Dalam kerangka ini, teknologi ditempatkan dalam posisi yang terbatas dan disadari, bukan sebagai otoritas yang tak terbantahkan.
Dalam konteks politik-kultural, Gelassenheit mengingatkan bahwa tidak semua proses harus diotomatisasi dan tidak semua keputusan harus diserahkan pada sistem. Ada ruang di mana manusia perlu tetap hadir secara merdeka, tidak untuk mengalahkan mesin, tetapi untuk menjaga nilai yang tidak bisa dihitung.
Dengan membaca Gelassenheit sebagai sikap politik–kultural, Global South tidak diposisikan sebagai penerima pasif teknologi global, melainkan sebagai subjek yang mampu menentukan cara berelasi dengan teknologi. Sikap ini membuka kemungkinan jalan tengah: menggunakan AI untuk kebutuhan nyata, sambil tetap merdeka dalam menjaga pluralitas cara hidup dan berpikir.
Gelassenheit menawarkan cara untuk hidup berdampingan tanpa kehilangan diri. Bagi Global South, ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan strategi eksistensial: bagaimana bergerak dalam dunia yang semakin dibingkai oleh teknologi, tanpa sepenuhnya tunduk pada bingkai tersebut.
Dengan demikian, harapan yang dimaksud Heidegger bukanlah harapan akan teknologi yang lebih manusiawi secara otomatis, melainkan harapan akan manusia yang dengan merdeka tetap mampu menjaga jarak reflektif terhadap teknologinya sendiri. Bagi Global South, jarak ini memungkinkan masyarakat untuk menegosiasikan ulang relasinya dengan AI, mengadopsi tanpa menyerah, memanfaatkan tanpa kehilangan, dan bergerak maju tanpa menanggalkan cara-cara hidup yang memberi makna.***

