Meski kita biasa berbicara tentang musim hujan, kemarau, atau musim panas dan dingin, ada ritme lain yang jauh lebih besar dan lebih kuat yang “bermain” di balik semua itu: musim Matahari. Yang dimaksud musim Matahari adalah siklus aktivitas Matahari yang membentang sekitar11 tahun, dan yang secara langsung memengaruhi Bumi hingga atmosfer dan teknologi yang kita gunakan.
Fenomena ini bukan sekadar gejala astronomi abstrak. Siklus matahari gejala alami kehidupan Matahari, yang memengaruhi aurora di kutub, satelit di orbit rendah, serta kondisi magnetik yang pada akhirnya bisa berimbas pada infrastruktur listrik di permukaan planet.
Apa Itu “Musim” Matahari?
Matahari bukanlah bintang pasif yang memancarkan energi secara konstan. Matahari memiliki siklus aktivitas yang berlangsung kira-kira 11 tahun, naik turun antara masa aktivitas puncak (solar maximum) dan masa tenang (solar minimum). Selama periode puncak, Matahari memancarkan lebih banyak partikel bermuatan dan medan magnet yang kuat, fenomena yang biasa disebut angin Matahari yang intens.
Salah satu cara untuk melacak siklus Matahari adalah dengan menghitung jumlah bintik Matahari (sunspots). Awal dari sebuah siklus Matahari ditandai oleh minimum Matahari, yakni periode ketika jumlah bintik Matahari berada pada titik terendah.
Seiring waktu, aktivitas Matahari meningkat, diikuti oleh bertambahnya jumlah bintik Matahari. Puncak dari siklus ini disebut maksimum Matahari, yaitu fase ketika Matahari memiliki jumlah bintik terbanyak.
Setelah mencapai puncaknya, aktivitas Matahari perlahan menurun hingga kembali ke fase minimum, menandai berakhirnya satu siklus dan dimulainya siklus Matahari yang baru.
Dalam kacamata ilmiah, siklus ini bisa dianggap sebagai “musim” di tingkat bintang, ritme tahunan yang memberi “temperatur lingkungan ruang angkasa” yang naik turun sesuai aktivitas Matahari.
Dampaknya bagi Atmosfer dan Magnetosfer Bumi
Ketika angin Matahari yang kuat mencapai Bumi, interaksinya dengan magnetosfer — medan magnet yang mengelilingi planet — menerjemahkan energi itu ke dalam fenomena fisik yang dapat diamati. Salah satu yang paling memukau adalah aurora borealis dan aurora australis, cahaya warna-warni yang menyapu langit di daerah kutub utara dan selatan ketika partikel-partikel Matahari menabrak atom di lapisan atas atmosfer Bumi.
Tetapi ada sisi lain dari musim Matahari yang lebih serius:
- Gangguan satelit — Elektronik di satelit dapat rusak karena paparan partikel bermuatan yang intens.
- Gangguan jaringan listrik bumi — Geomagnetic storms yang dipicu oleh lontaran massa korona Matahari dapat menghasilkan arus listrik induksi besar yang merusak jaringan transmisi listrik di permukaan. Contohnya, pada 1989, badai geomagnetik semacam ini memutus listrik besar-besaran di Kanada hanya dalam hitungan puluhan detik.
- Satelit dan teknologi ruang angkasa — Tekanan partikel membuat atmosfer bagian atas melebar saat aktivitas Matahari turun, menciptakan hambatan aerodinamis bagi satelit orbit rendah dan memperpendek umur operasionalnya.
Solar Cycle 25 di Tahun 2026
Tahun 2026, kita masih berada dalam Solar Cycle 25, yakni siklus aktivitas Matahari ke-25 yang dimulai sejak Desember 2019 setelah berakhirnya siklus sebelumnya (Solar Cycle 24).
Solar Cycle 25 diperkirakan mencapai puncaknya antara akhir 2024 hingga pertengahan 2025, menurut prediksi umum dari NOAA dan lembaga antariksa lain. Aktivitas kemudian mulai menurun secara bertahap sejak puncak tersebut, masih berlanjut sepanjang tahun 2026. Walaupun puncak aktivitas diperkirakan terjadi pada akhir 2024 hingga sekitar 2025, tingkat aktivitas masih tetap tinggi pada 2026, memberikan peluang besar untuk melihat aurora selama beberapa bulan pertama tahun ini.
Pada 1–2 Februari 2026, Matahari melepaskan serangkaian solar flare kuat, termasuk letusan kelas tinggi dari wilayah bintik Matahari yang sangat aktif. Ledakan energi ini sempat memicu gangguan komunikasi radio dan meningkatkan kewaspadaan terhadap badai geomagnetik, sekaligus membuka peluang aurora yang lebih intens di lintang tinggi.
Peristiwa tersebut menegaskan bahwa interaksi Matahari dan Bumi bukanlah fenomena jauh di ruang angkasa, melainkan proses yang berdampak langsung pada atmosfer, teknologi, dan kehidupan modern. Partikel plasma Matahari terus “menyentuh” Bumi siang dan malam, membentuk ritme kosmik yang masih terus dipelajari. Dengan memahami hubungan kompleks antara Matahari dan planet kita, manusia tidak hanya belajar membaca cuaca antariksa, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang ruang angkasa—dan posisi kita di dalamnya.***


