Pertama Kalinya Kacamata Memperjelas Pandangan

Kronik Pisa dan Rahasia Sang Penemu

Edward Rosen dalam The Invention of Eyeglasses (1956) menuliskan kacamata diketahui pertama kali digunakan oleh para biarawan. Data ini berdasarkan cuplikan singkat khotbah Paskah yang disampaikan di biara Dominikan Santa Maria Novella di Florence pada tanggal 23 Februari 1306. Khotbah ini disampaikan oleh pengkhotbah paling populer pada zamannya, Bruder Giordano da Pisa atau da Rivalto. Giordano mengatakan telah bertemu dengan si pembuat kacamata dua puluh tahun lalu, tanpa menyebut nama dan lokasi pembuatannya.

Bagi para teolog di biara-biara pada masa itu, kacamata menjadi alat yang sangat membantu dalam pekerjaan mereka. Tugas utama para teolog adalah menelaah naskah-naskah, yang sering kali ditulis dengan aksara sangat kecil dan rapat, sehingga sulit dibaca tanpa bantuan visual.

Di ruang-ruang sunyi biara, kacamata menjadi lebih dari sekadar alat bantu; ia menjadi perantara antara keterbatasan fisik manusia dan keberlanjutan tradisi intelektual.

Selain Giordano, Bruder Alexander de Spina juga dicatat Rosen sebagai saksi si pembuat kacamata yang nama dan lokasinya dirahasiakan. Berbeda dengan Giordano, de Spina adalah Bruder yang serba bisa. Kacamata yang teknologinya dirahasiakan saat itu, dibuat ulang oleh de Spina, sehingga menjadi benda yang bisa dibagikan ke banyak orang. Digambarkan dalam dokumen yang ditemukan Rosen, de Spina membuat dan membagikan kacamata buatannya dengan riang gembira.

Venice dan Aturan Dagang Kacamata

Venice, pada kenyataannya, menjadi salah satu pusat awal yang tidak hanya memproduksi kaca, tetapi juga mengatur secara resmi pembuatan dan perdagangan kacamata. Dalam dokumen Capitolare dell’arte dei cristalleri (1300), yang mengatur para pengrajin kristal, tercantum ketentuan yang sebenarnya telah lebih dulu dicatat pada tahun 1284.

Peraturan tersebut melarang para anggota serikat membuat benda dari kaca bening yang dipalsukan agar menyerupai kristal batu (rock crystal) atau kuarsa. Larangan ini bahkan diperluas kepada pihak di luar serikat. Lebih jauh lagi, tidak seorang pun diperbolehkan memesan atau menjual barang-barang tiruan semacam itu.

Menariknya, dalam daftar benda yang sering dipalsukan terdapat item seperti rodi de botacelis et da ogli (cakram untuk botol kecil dan untuk mata) serta lapides ad legendum, yaitu “batu untuk membaca” atau lensa pembesar. Penyebutan ini menunjukkan bahwa pada masa itu, benda-benda optik seperti lensa sudah cukup umum digunakan hingga perlu diatur dalam perdagangan.

Catatan ini menjadi bukti penting bahwa pada pergantian abad ke-14, lensa pembesar dan cikal bakal kacamata bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan telah menjadi komoditas yang diproduksi, diperdagangkan, dan bahkan diawasi kualitasnya.

Ketentuan tambahan yang diberlakukan pada tahun berikutnya di Venice justru menunjukkan bahwa kacamata semakin diakui sebagai kebutuhan yang sah. Aturan itu memperbolehkan pembuatan dan penjualan vitreos ab oculis ad legendum, secara harfiah berarti “kaca untuk mata untuk membaca” oleh siapa pun, baik anggota serikat maupun bukan. Namun, ada satu syarat penting: penjual harus bersumpah untuk secara jujur melabelinya sebagai kacamata dengan lensa kaca.

Sejarawan seperti Pietro Zecchin menduga bahwa pada masa ini lensa kaca sudah menjadi bahan yang umum digunakan untuk kacamata, sementara lensa dari kristal yang lebih mahal hanya digunakan oleh kalangan yang lebih mampu. Ini menunjukkan adanya diferensiasi sosial bahkan dalam penggunaan teknologi penglihatan.

Namun, perkembangan ini juga menyisakan tanda tanya. Jika pada awal abad ke-14 siapa saja sudah diperbolehkan membuat dan menjual kacamata berlensa kaca, mengapa pada tahun 1317 muncul aturan khusus yang memberikan izin eksklusif kepada seorang individu bernama Francesco, putra dari mendiang ahli bedah Nicholas, untuk memproduksi dan menjual oglarios de vitro (kacamata berbahan kaca) di kota tersebut?

Keputusan ini mengisyaratkan bahwa meskipun kacamata mulai meluas penggunaannya, produksi dan distribusinya tetap berada dalam dinamika regulasi, keahlian, dan mungkin juga kepentingan ekonomi tertentu. Dengan kata lain, kacamata pada masa itu bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga bagian dari sistem perdagangan dan kekuasaan yang sedang berkembang.

Portrait of Hugh of Saint-Cher, 1352 Karya Tommaso da Modena. Ditengarai sebagai lukisan pertama yang menampilkan seseorang yang menggunakan kacamata. Source: Wikipedia

Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 59