Klaim Penemuan Kacamata
Meskipun sudah menjadi produk masal, siapa pembuat kacamata pertama kalinya tidak ditemukan di catatan sejarah. Bruder de Spina, meskipun memproduksi di abad 13, namun ia bukan penemu pertama. Kekosongan nama ini kemudian menurut Vincent Ilardi dalam Renaissance Vision from Spectacles to Telescopes (2007) mengungkapkan klaim yang diberikan kepada Salvino degli Armati.
Nama Salvino degli Armati kerap muncul dalam cerita populer sebagai penemu kacamata. Ia disebut-sebut sebagai seorang bangsawan atau pengrajin dari Florence yang hidup pada akhir abad ke-13 dan menemukan kacamata sekitar tahun 1280-an.
Menurut kisah yang beredar, Salvino menciptakan alat berupa dua lensa yang dipasang bersama dan digunakan di depan mata untuk membantu membaca, sebuah inovasi yang kemudian mengubah cara manusia melihat dan bekerja. Bahkan, pada suatu waktu, terdapat prasasti di Florence yang memujinya sebagai penemu kacamata. Dikabarkan tertulis seperti ini: +Here lies Salvino, son of Armato degli Armati of Florence, inventor of eyeglasses. May Godforgive his sins. A. D. 1317.
Namun, di sinilah cerita itu menjadi problematis.
Sebagian besar sejarawan modern meragukan keberadaan peran Salvino degli Armati sebagai penemu kacamata. Tidak ada bukti dokumenter dari abad ke-13 atau ke-14 yang secara meyakinkan menyebut namanya dalam konteks penemuan tersebut. Banyak yang percaya bahwa kisah ini baru muncul jauh kemudian, kemungkinan pada abad ke-17 atau bahkan lebih akhir, sebagai bagian dari upaya memberikan “tokoh penemu” pada sebuah inovasi yang sebenarnya berkembang secara kolektif.
Sebaliknya, sumber yang lebih dekat dengan periode tersebut, seperti khotbah Giordano da Pisa pada tahun 1306, menyebut bahwa kacamata adalah penemuan baru, tetapi tidak menyebut nama penemunya. Ini menguatkan dugaan bahwa kacamata bukan hasil karya satu individu, melainkan buah dari perkembangan bertahap di kalangan pengrajin kaca, terutama di Italia.
Abad Pencerahan, Kacamata Makin Diminati
Abad 15
Memasuki abad ke-15, perubahan besar terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg. Produksi buku meningkat pesat, dan kebutuhan akan kemampuan membaca pun melonjak. Kacamata, yang sebelumnya terbatas pada kalangan tertentu, mulai digunakan lebih luas oleh masyarakat yang terlibat dalam aktivitas literasi.
Pada periode ini pula muncul inovasi baru: lensa cekung untuk membantu rabun jauh (miopia). Sebelumnya, kacamata hanya menggunakan lensa cembung untuk rabun dekat. Penambahan jenis lensa ini menandai pemahaman yang semakin berkembang tentang berbagai kondisi penglihatan.
Abad 16
Pada awal abad ke-16, penggunaan nose spectacles, kacamata yang bertumpu di hidung, menjadi semakin umum. Desainnya mulai menunjukkan kemiripan dengan bentuk modern, terutama melalui jembatan (bridge) yang melengkung seperti busur dan menyambungkan kedua lensa. Bagian ini terkadang dibuat fleksibel, tergantung pada bahan yang digunakan, seperti kulit atau tulang paus. Menariknya, jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penopang di hidung, tetapi juga sebagai bagian yang dapat dijepit atau dipegang saat digunakan.
Meski demikian, kacamata pada masa ini belum sepenuhnya praktis untuk dipakai terus-menerus. Pengguna biasanya masih memegangnya dengan tangan dan hanya memakainya untuk waktu singkat, misalnya saat membaca atau mengamati objek dari dekat. Pada tahap ini, perkembangan teknologi lensa juga telah memungkinkan koreksi untuk dua jenis gangguan penglihatan sekaligus: rabun dekat dan rabun jauh.
Abad 17
Memasuki abad ke-17, bentuk dasar kacamata tidak mengalami perubahan drastis. Namun, berbagai penyempurnaan mulai dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan fleksibilitas. Di beberapa wilayah, terutama di Spanyol, muncul eksperimen dengan menambahkan loop atau tali yang dikaitkan ke telinga. Inovasi sederhana ini memungkinkan pengguna untuk tetap mengenakan kacamata sambil bergerak, tanpa harus terus memegangnya.
Sepasang kacamata unik dari era Mughal abad ke-17 pernah menarik perhatian dunia ketika dilelang oleh Sotheby’s pada Oktober 2021. Alih-alih menggunakan kaca, lensanya terbuat dari batu mulia: satu dari berlian yang dijuluki “Halo of Light”, dan satu lagi dari zamrud yang disebut “Gate of Paradise”. Perpaduan ini mencerminkan pertemuan antara sains dan estetika, di mana fungsi penglihatan berpadu dengan simbolisme dan keindahan.

Meski lensanya berasal dari periode Mughal, bingkai yang menampungnya ternyata dibuat jauh kemudian, yakni sekitar tahun 1890-an. Kacamata berhias dari era Mughal ini diyakini dipesan oleh seorang pangeran yang tidak diketahui identitasnya, dan dibuat oleh seorang perajin yang dengan luar biasa membentuk sebuah berlian seberat sekitar 200 karat serta zamrud Kolombia yang berkilau dengan berat setidaknya 300 karat menjadi sepasang lensa.
Kacamata ini tidak hanya menjadi artefak optik, tetapi juga simbol lintas budaya: menggabungkan tradisi perhiasan India, pengaruh desain Eropa, dan gagasan lama tentang kekuatan batu mulia dalam membantu penglihatan.
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




