Pertama Kalinya Kacamata Memperjelas Pandangan

Kacamata Pelindung Matahari

British Optical Associatiin Museum mencatat, salah satu rujukan paling awal tentang penggunaan alat bantu penglihatan untuk melindungi mata dari cahaya datang dari era Romawi. Menurut Pliny the Elder (abad ke-1 M), Kaisar Nero konon menyaksikan pertarungan gladiator melalui sebuah batu zamrud. Beberapa spekulasi menyebutkan bahwa batu tersebut digunakan untuk mengurangi silau, meski tidak ada bukti bahwa ia dipasang dalam bingkai atau dikenakan seperti kacamata modern.

Beranjak ke abad ke-15, tercatat nama Nuno Fernandes, seorang ilmuwan Portugis yang pada tahun 1459 meminta kacamata untuk digunakan saat berkuda di tengah salju. Beberapa sejarawan menduga lensa tersebut mungkin berwarna atau memiliki fungsi untuk mengurangi pantulan cahaya, namun catatan sejarah tidak memberikan konfirmasi pasti mengenai hal ini.

Baru pada akhir abad ke-18, perkembangan yang lebih jelas terlihat di Venice. Salah satu jenis kacamata paling terkenal adalah yang oleh para kolektor disebut sebagai “alla Goldoni” diproduksi. Hingga kini, hanya sekitar selusin contoh yang diketahui masih ada di dunia. Kacamata ini memiliki lensa bulat berwarna hijau serta pelindung samping dari kain sutra, semacam “payung kecil” yang membantu mengurangi silau dari pantulan cahaya air.

Source: muranonet.com

Pada awalnya, para pengrajin kaca menyebutnya sebagai “gondola glasses”, dan hampir pasti bahwa kacamata ini memang dirancang untuk menyaring sinar matahari, terutama bagi mereka yang beraktivitas di kanal-kanal kota. Keberadaannya juga terdokumentasi dalam buku Lunettes et Lorgnettes de Jadis (1911) karya Madame Alfred Haymann. Dalam buku tersebut, ia menyertakan ilustrasi kacamata ini dan menyebutnya sebagai kaca hijau untuk gondola atau untuk wanita, yang berguna melindungi penglihatan dari pantulan cahaya.

Menariknya, tidak hanya bentuk kacamata yang berevolusi, tetapi juga istilahnya. Pada akhir abad ke-13, istilah seperti “roidi da ogli” atau “rodoli de vero per ogli per lezer” digunakan untuk menyebut lensa atau alat bantu membaca. Namun, pada tahun 1317, istilah yang lebih dekat dengan bahasa modern mulai muncul: “occhiali”.

Hal ini tercatat dalam dokumen komersial di Venice, yang secara resmi menggunakan kata “occhiali” untuk merujuk pada kacamata, bahkan dalam konteks pemberian lisensi kepada seorang pedagang untuk menjualnya.

Kacamata, Bukan Temuan Tunggal

Pada akhirnya, kacamata bukanlah sekadar benda kecil yang bertengger di wajah. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang peradaban. Hasil dari dari rasa ingin tahu manusia tentang bagaimana dunia terlihat, dan bagaimana penglihatan dapat diperbaiki.

Dari pengamatan sederhana tentang cahaya oleh Seneca the Younger, hingga penjelasan ilmiah dalam Book of Optics karya Ibn al-Haytham, dari reading stone hingga kacamata pertama di Venice dan Pisa, semuanya terhubung dalam satu garis perkembangan yang panjang.

Kacamata lahir bukan dari satu penemuan tunggal, melainkan dari pertemuan berbagai disiplin: pemahaman tentang cahaya, eksperimen optik, keterampilan mengolah kaca, hingga kebutuhan praktis manusia untuk terus membaca, bekerja, dan melihat dengan jelas.

Di balik bentuknya yang sederhana hari ini, tersimpan sejarah yang kompleks, sebuah cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kerajinan, dan kebutuhan manusia saling bertemu, lalu perlahan mengubah cara kita memandang dunia.

Jadi, kacamata digunakan untuk memperjelas pandangan terhadap dunia.


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 59