Pertama kalinya manusia mengukur dunia, ia tidak memerlukan alat khusus. Tidak ada penggaris atau meteran. Prinsipnya sederhana: setiap orang membawa “alat ukur” ke mana pun ia pergi. Tubuh manusia—lengan, tangan, jari, dan kaki—menjadi acuan paling awal untuk memahami panjang dan jarak. Dari kebutuhan paling dasar inilah satuan ukur berbasis tubuh manusia, atau body-based units of measurement, lahir.
Edward Nicholson dalam Man and Measures, a History of Weight and Measures, Ancient and Modern (1912) mencatat paling tidak ada lima satuan kuno berbasis tubuh manusia. Digunakan untuk ukuran jarak hingga membangun piramid sejak 2560 sebelum Masehi.
Empat satuan itu adalah:
- Cubit, jarak dari siku hingga ujung jari tengah yang direntangkan), sekitar 18 hingga 8 inci;
- Span, ukuran antara ibu jari dan ujung kelingking dari telapak tangan yang dibentangkan, setengah dari cubit, sekitar 9 inci;
- Palm, lebar keempat jari, sepertiga dari rentang, seperenam dari hasta, sekitar 3 inci;
- Digit, lebar jari di sekitar tengah jari tengah, seperduabelas dari rentang, seperdua puluh empat dari cubit, sekitar 3/4 inci.
- Fathom, satuan panjang tangan yang terbentang.
Jangan kaget, di Indonesia juga mengenal ukuran-ukuran kuno ini. Cubit disebut Hasta. Span disebut sebagai jengkal. Palm disebut saja sebagai tapak tangan. Sedangkan digit sekarang sudah bergeser pada ukuran angka. Lalu fanthom kita sebut sebagai depa.
Sumber: Wikimedia CommonsBagaimana Tubuh Menjadi Alat Ukur?
Nicholson berargumen kisah tentang cubit, baik kuno maupun abad pertengahan, telah menunjukkan bahwa semuanya berasal, secara langsung atau tidak langsung, dari pengukuran meridian bumi. Beberapa di antaranya mungkin ditetapkan dengan keinginan untuk menjadikannya representatif dari hubungan garis lintang dan garis bujur.
Dalam beberapa kasus, satuan ini ditetapkan dengan sengaja agar bisa menjadi representasi dari hubungan antara garis lintang dan garis bujur. Dengan demikian sehingga pengukuran di darat bisa mencerminkan proporsi bumi secara keseluruhan.
Artinya, bahkan sejak ribuan tahun lalu, manusia berusaha menghubungkan ukuran sehari-hari dengan skala planet. Tubuh menjadi alat ukur pertama, lalu satuan seperti hasta mulai distandarkan dengan memperhitungkan bentuk dan ukuran bumi itu sendiri. Ini menunjukkan langkah awal menuju konsep standarisasi global, jauh sebelum muncul sistem metrik modern.
Sebuah jurnal berjudul Body-based units of measure in cultural evolution yang dipublikasikan di science.org mencoba menjawab mengapa tubuh manusia dijadikan ukuran yang pertama kalinya. Dengan menelusuri berbagai ukuran berbasis tubuh di 186 budaya, peneliti menyimpulkan sistem pengukuran awal, termasuk yang berbasis tubuh (body‑based units), bukan diciptakan secara sembarangan. Mereka mengacu pada kebutuhan sehari‑hari namun pada waktu yang sama dipengaruhi oleh perkembangan konvensi budaya dan cara berpikir numerik masyarakat.
Sumber: Body-based units of measure in cultural evolutionDari Ukuran Tubuh ke Ukuran Standard
Seiring waktu, ketidakseragaman satuan lokal mendorong munculnya sistem pengukuran modern, seperti sistem metrik (meter, liter, kilogram) pada abad ke-18. Sistem ini dirancang agar universal, tetap, dan dapat direplikasi di seluruh dunia. Keunggulannya jelas: ukuran menjadi pasti, konsisten, dan dapat dipahami lintas negara.
Namun, di balik kepresisian ini, standarisasi modern secara perlahan memutus hubungan langsung antara ukuran dan tubuh manusia. Panjang yang dulu bisa “dirasa” dengan lengan atau jari, kini ditentukan oleh angka dan alat ukur, menjadikan pengalaman fisik manusia tidak lagi menjadi dasar pengukuran.
Meski demikian, jejak ukuran kuno tetap ada dalam konteks tertentu—hand untuk tinggi kuda, foot/inch di beberapa negara, dan cubit sebagai referensi sejarah. Standarisasi tidak menghapus budaya secara total, tetapi menggeser titik acuan ukuran dari tubuh ke angka universal, sebuah transformasi yang menegaskan dominasi logika presisi atas pengalaman manusia sehari-hari.
Dari lengan, jari, dan kaki manusia yang pertama kali dijadikan pengukur dunia, hingga batang tembaga Nippur, hasta yang mencerminkan bumi, dan akhirnya sistem metrik yang universal, perjalanan pengukuran menunjukkan pergeseran dari pengalaman tubuh ke angka yang presisi. Standarisasi modern memang mempermudah komunikasi dan perdagangan global, tetapi juga menggeser pengukuran jauh dari sentuhan manusia.
Sejarah pengukuran mengingatkan kita bahwa ukuran bukan sekadar angka, tetapi juga cerita manusia: pengalaman fisik, adaptasi budaya, dan kreativitas yang menuntun manusia memahami dunia. Bahkan ketika angka universal mengambil alih, jejak tubuh tetap hidup, dalam istilah dan sejarah.
Jadi ukuran pertama kalinya adalah dari tubuh manusia sendiri.




