Pertama Kalinya Sedotan Diseruput Menurut Arkeologis

Ini adalah cerita lengkap tentang sejarah sebuah benda sederhana yang ternyata telah berusia hampir 6000 tahun sejak pertama kali diseruput menurut bukti arkeologis.

Sedotan nyaris tak pernah menjadi pusat perhatian. Namun di balik bentuknya yang sederhana, sedotan menyimpan sejarah panjang, bahkan lebih tua dari banyak teknologi yang kita anggap penting hari ini.

Sedotan, sebuah inovasi kecil bisa bertahan ribuan tahun dan memengaruhi kebiasaan manusia lintas budaya dan zaman. Kita akan melakukan perjalanan ke waktu pertama kalinya sedotan diseruput menurut data arkeolois dan budaya dunia. Hingga tiba di masa kini, dimana sedotan sudah nyaris ditinggalkan.

Mari kita mulai perjalanan penelusuran sedotan.

Sumeria: Sedotan Pertama dari Lapis Lazuli

Sedotan pertama kalinya yang diketahui dibuat oleh bangsa Sumeria. Digunakan untuk meminum bir, dilengkapi dengan ujung penyaring yang dapat digunakan kembali untuk menghindari sisa-sisa padat hasil fermentasi yang tertinggal di dalam wadah bir yang belum disaring.

Tabung-tabung dari logam mulia yang ditemukan di Armenia pada tahun 1897, awalnya diduga sebagai tongkat kebesaran (scepter) atau penyangga kanopi. Kini diyakini sebagai sedotan tertua yang masih bertahan hingga saat ini, berasal dari budaya Maykop (sekitar 3700 hingga 2900 SM).

Salah satu contoh sedotan yang paling mencengangkan ditemukan di sebuah makam bangsawan Sumeria bertarikh sekitar 3000 SM. Berupa tabung emas yang dihiasi batu mulia berwarna biru, lapis lazuli dan sekarang menjadi koleksi British Museum.

Sedotan Lapis Lazuli yang digali dari Ur, koleksi British Museum

Bukti Sedotan untuk Aktivitas Sosial

Lalu muncul pertanyaan penting: bagaimana para arkeolog yakin bahwa tabung-tabung panjang yang ditemukan di makam kerajaan ini benar-benar merupakan sedotan minum? Jawabannya terletak pada kombinasi bukti yang nyaris sempurna.

Pertama, ada artefaknya sendiri. Tabung-tabung panjang tersebut dikuburkan bersama pemiliknya, dan dalam banyak kasus, salah satu ujungnya masih berada di dalam kendi besar. Di sini, masih merupakan posisi yang sulit dijelaskan apakah benda itu berfungsi sebagai tongkat upacara atau hiasan semata.

Kedua, ada bukti visual. Pada periode ini, masyarakat Mesopotamia meninggalkan banyak gambar kehidupan sehari-hari dalam bentuk segel silinder, batu kecil berbentuk silinder yang diukir dan digulirkan di atas tablet tanah liat sebagai tanda otorisasi atau “tanda tangan”. Pada segel-segel inilah para peneliti berulang kali menemukan adegan perjamuan: orang-orang minum dari sebuah kendi besar menggunakan tabung panjang yang diarahkan ke mulut mereka.

Adegan semacam ini cukup umum pada segel-segel dari milenium ketiga sebelum Masehi, dan bahkan jejaknya sudah muncul sekitar seribu tahun sebelumnya. Biasanya digambarkan dua orang berdiri di sisi kiri dan kanan sebuah kendi besar, masing-masing meminum cairan melalui sedotan melengkung. Menariknya, sering kali tampak dua atau tiga sedotan tambahan keluar dari kendi yang sama—petunjuk kuat bahwa minuman tersebut dinikmati bersama oleh lebih banyak orang.

Bila artefak fisik dan bukti visual ini disandingkan, maka para arkeolog menyimpulkan: tabung-tabung panjang di makam kerajaan itu memang sedotan, alat minum yang telah digunakan manusia ribuan tahun sebelum dunia modern mengenalnya.

Mesir: Dari Sebuah Lukisan Kuno

Sebuah lukisan Mesir Kuno ini dibuat di atas stela batu kapur, menggambarkan seorang tentara bayaran Suriah yang sedang meminum bir dari sebuah jenis amfora melalui bentuk awal sedotan minum, sekitar 1300 SM. Karya ini merupakan bagian dari koleksi Mesir Kuno di Neues Museum, Berlin.

Lukisan kecil ini—dibuat lebih dari 3.300 tahun lalu—penuh dengan detail menarik. Sang tentara bayaran, yang dapat dikenali sebagai orang Suriah dari pakaian dan gaya rambutnya, menikmati minuman segar di tempat yang tampaknya merupakan kedai minum Mesir Kuno.

Tombaknya disandarkan ke dinding, meskipun ia masih mengenakan belati yang terselip di ikat pinggangnya. Seorang pelayan muda Mesir terlihat mengangkat ujung dari sedotan minum kuno ke bibir sang pelanggan, dan kemungkinan juga menopangnya selama proses minum berlangsung.

Sedotan tersebut tampak panjang dan membengkok hampir 90 derajat di bagian ujungnya, diperkuat dengan penyangga diagonal. Bagian yang tegak terendam di dalam bir, yang disimpan dalam sebuah amfora yang diletakkan di atas semacam dudukan atau tripod agar tidak terbalik.

Sedotan ini kemungkinan terbuat dari logam dan cukup berat, yang menjelaskan mengapa pelayan perlu menopangnya saat pelanggan minum.

Amerika Selatan: Sedotan Besi

Pada abad ke 16, suku-suku di Amerika Selatan diketahui telah menggunakan sedotan besi yang diberi nama bombilla. Dalam bahasa Spanyol di Chile, kata bombilla dapat merujuk pada semua jenis sedotan. Namun dalam bahasa Spanyol Rioplatense—yang digunakan di wilayah Argentina dan Uruguay—bombilla secara khusus merujuk pada sedotan yang digunakan untuk meminum mate.

Bombilla adalah sedotan logam berujung saringan, digunakan untuk meminum yerba mate—minuman herbal pahit yang diseduh dari daun Ilex paraguariensis. Minuman ini tidak disaring. Daun-daunnya langsung dimasukkan ke dalam labu kering yang disebut mate atau gourd, lalu diseduh air panas. Tanpa alat khusus, setiap tegukan akan penuh serpihan daun. Di sinilah bombilla mengambil peran penting. Benda ini juga bagian dari penjaga tradisi dan masih digunakan hingga kini.

Straw (Sedotan), Artinya Jerami

Nama straw berasal dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti jerami—yaitu batang kering tanaman serealia seperti gandum atau gandum hitam.

Asal-usul nama ini sangat literal. Sedotan paling awal di Eropa dan Amerika memang dibuat dari jerami asli, bukan dari kertas atau plastik. Batang jerami yang berongga dipotong pendek dan digunakan langsung sebagai alat untuk menyeruput minuman. Karena itulah, alat tersebut kemudian disebut straw.

Pada abad ke-19, koktail seperti Mint Julep mulai populer. Minuman ini biasanya disajikan sangat dingin di dalam cangkir logam, yang justru menghadirkan persoalan baru. Menyeruput langsung dari logam yang diselimuti embun es terasa tidak nyaman di bibir dan gigi.

Solusi paling masuk akal adalah tabung kecil untuk menyeruput minuman. Namun pertanyaannya: bahan apa yang mudah didapat?

Jawabannya datang dari ladang. Rumput gandum hitam (rye) dipanen untuk bijinya, sementara batang berongga yang tersisa (jerami) menjadi limbah pertanian yang melimpah dan murah. Orang-orang mulai memotong batang jerami ini menjadi potongan pendek dan menggunakannya sebagai alat minum.

Solusi ini sederhana dan sepenuhnya alami. Untuk pertama kalinya, manusia benar-benar minum menggunakan “jerami”. Nama itu pun melekat. Seperti dicatat dalam sumber sejarah, “Para sejarawan meyakini sedotan modern pertama dipotong dari batang gandum kering, dan dinamai sesuai dengan bahan pembuatnya.”

Paten Pertama Sedotan Kertas

Seorang pria bernama Marvin Stone adalah orang pertama yang mengajukan paten untuk sedotan minum pada tahun 1888. Smithsonian Institution mengutip sebuah kisah yang sering diceritakan, yang menyebutkan bahwa pada suatu hari musim panas yang panas pada tahun 1880, Stone sedang meminum mint julep ketika batang rumput gandum hitam (rye grass) yang saat itu digunakan sebagai sedotan mulai hancur dan terurai di dalam minumannya.

Stone, yang bekerja sebagai produsen pemegang rokok dari kertas, merasa bahwa pasti ada cara yang lebih baik. Dari pengalaman sederhana itulah, ia memutuskan untuk menciptakan sedotan yang lebih praktis dan tahan lama.

Stone melilitkan kertas di sekeliling sebuah pensil hingga membentuk tabung tipis, lalu menarik pensil tersebut keluar dari salah satu ujungnya dan merekatkan lapisan kertas dengan lem. Ia kemudian menyempurnakan desain ini dengan membuat mesin yang melapisi bagian luar sedotan kertas dengan lilin, sehingga sedotan tetap menyatu dan lemnya tidak larut ketika digunakan dalam minuman beralkohol seperti bourbon.

Selanjutnya, Stone bereksperimen dengan kertas manila yang dilapisi lilin parafin, agar sedotan tidak menjadi lembek saat digunakan. Sedotan buatan Stone memiliki panjang sekitar 8½ inci dan diameter yang cukup lebar untuk mencegah benda-benda kecil, seperti biji buah, tersangkut di dalam tabung.

Stone menerima paten untuk “sedotan buatan” (artificial straw) pada 3 Januari 1888. Sedotan tersebut terbuat dari kertas. Pada tahun 1890, pabrik milik Stone telah memproduksi lebih banyak sedotan minum dibandingkan pemegang rokok, menandai perubahan besar dalam fokus bisnisnya.

Di tahun 1895, sedotan kertas ciptaan Stone mulai dipasarkan secara publik melalui iklan.

Inovasi Sedotan yang Ditekuk

Baru pada tahun 1930-an sedotan memperoleh kemampuan untuk ditekuk. Terinspirasi ketika melihat putrinya kesulitan menjangkau milkshake menggunakan sedotan kertas lurus, seorang penemu bernama Joseph Friedman menemukan solusi sederhana namun brilian.

Friedman memasukkan sebuah sekrup ke dalam sedotan, melilitkan benang di sepanjang ulir sekrup tersebut, lalu menarik sekrupnya keluar. Bekas lekukan yang tertinggal memungkinkan sedotan ditekuk dengan mudah tanpa patah.

Paten Amerika Serikat nomor 2.094.268 diterbitkan untuk penemuan baru ini dengan judul “Drinking Tube” pada 28 September 1937. Pada dekade 1950-an, Friedman kemudian mengajukan dan memperoleh dua paten tambahan di Amerika Serikat serta tiga paten internasional yang berkaitan dengan proses pembentukan dan konstruksi sedotan tersebut.

Sejak tahun 1937, Friedman sempat mencoba menjual paten sedotannya kepada sejumlah produsen sedotan yang sudah ada, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Karena itu, setelah berhasil menyelesaikan mesin pembuat sedotannya sendiri, ia memutuskan untuk memproduksi sedotan tersebut secara mandiri.

Ia kemudian mematenkan temuannya dan mendirikan Flex-Straw Company untuk memproduksi desain tersebut secara massal.

Rumah sakit menjadi salah satu pengguna awal sedotan lentur ini, karena alat tersebut memungkinkan pasien minum sambil berbaring di tempat tidur.

Dalam dekade-dekade berikutnya, sedotan kertas yang semakin praktis pun menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya minum di Amerika, hadir di minuman bersoda dan milkshake di seluruh negeri.

Plastic Booming, Sedotan Juga Kena

Awal abad 19 M, plastik mulai diproduksi sebagai bahan yang awet dan murah. Pada gilirannya, sedotan kertas pun terimbas berganti bahan menjadi plastik.

Pada tahun 1969, Flex-Straw Company milik Friedman dijual kepada Maryland Cup Corporation. Perusahaan yang berbasis di Baltimore ini memproduksi berbagai macam produk plastik dan segera berkembang menjadi salah satu produsen sedotan plastik terbesar di Amerika Serikat. Pada 1983, Fort Howard Corporation mengakuisisi Maryland Cup Corporation dan melanjutkan produksi sedotan plastik tersebut.

Pada dekade 1980-an, berbagai variasi baru sedotan plastik pun bermunculan, mulai dari sedotan jumbo hingga sedotan unik berlekuk-lekuk (crazy straws), yang semakin mengukuhkan posisinya dalam budaya populer.

Sejak saat itu, sedotan plastik terus menumpuk—di tempat pembuangan akhir, di pantai-pantai, di dasar laut, dan tentu saja, di hidung penyu laut. Setiap sedotan plastik hampir pasti memiliki usia pakai yang lebih panjang daripada seluruh sejarah sedotan di planet ini.

Sedotan Mengalami Putaran Waktu

Ketika sedotan plastik mulai dilarang di berbagai kota dan negara, dunia seolah dipaksa menoleh ke belakang. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk mencari ulang solusi yang pernah ditinggalkan. Inovasi yang dulu dianggap kuno—bahkan tidak efisien—kini kembali ke meja makan.

Sedotan kertas muncul kembali, mirip dengan rancangan Marvin Stone lebih dari seabad lalu. Kali ini, diproduksi dengan teknologi yang lebih baik: lebih kuat, lebih tahan cairan, dan tetap sekali pakai. Di sisi lain, sedotan logam—dari baja nirkarat—menggemakan praktik kuno Mesopotamia dan tradisi bombilla Amerika Selatan: tahan lama, dapat digunakan berulang kali, dan dimiliki secara personal.

Bambu dan bahan alami lain pun kembali dilirik. Seperti sedotan dari jerami dan alang-alang di masa lalu, bambu menawarkan sesuatu yang sederhana: tumbuh cepat, mudah terurai, dan tidak meninggalkan jejak abadi di alam. Sedotan ini bukan produk revolusi teknologi, melainkan rekonsiliasi dengan alam.

Ironisnya, setelah puluhan ribu tahun bereksperimen—dari tabung emas di makam raja, sedotan kertas berlapis lilin, hingga plastik sekali pakai—manusia tiba pada kesimpulan yang nyaris purba: yang bertahan bukan yang paling murah atau paling praktis, melainkan yang paling bertanggung jawab.

Sedotan, benda kecil yang sering dianggap remeh, kini kembali mengajarkan pelajaran lama. Bahwa kemajuan bukan garis lurus ke depan. Kadang, ia adalah lingkaran—sebuah perjalanan pulang***

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 49