Selama puluhan tahun, para ilmuwan berpikir mereka sudah tahu siapa yang “membersihkan” karbon: organisme mikro unik yang hidup di kedalaman laut gelap. Namun sebuah penelitian terbaru dari University of California – Santa Barbara menunjukkan cerita yang jauh lebih menarik dan tidak terduga tentang bagaimana lautan berperan dalam menjaga iklim bumi.
Selama ini, ilmuwan yakin bahwa mikroba yang melakukan fixing (menangkap dan mengubah) karbon di laut dalam sebagian besar adalah amonia oxidizing archaea, mikroorganisme yang bisa hidup tanpa sinar matahari dan menggunakan energi dari nitrogen untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Tapi riset terbaru mengungkap hal mengejutkan: mereka ternyata bukan “pahlawan utama” seperti yang diperkirakan. Ketika aktivitas archaea ini dihambat dalam eksperimen, fixing karbon di laut dalam nyatanya tidak turun sebanyak yang diharapkan. Artinya, ada kelompok mikroba lain yang selama ini memainkan peran besar, namun hampir tidak diperhitungkan sebelumnya.
Pahlawan Tak Terduga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroba heterotrof, organisme yang biasa makan bahan organik hasil penguraian organisme lain, ternyata juga ikut fixing karbon dalam jumlah besar. Ini adalah penemuan yang mengejutkan karena selama ini heterotrof dianggap hanya “konsumen” energi, bukan “pencatat” karbon dari lingkungan.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa heterotrof bukan sekadar ikut terlibat. Mereka membantu menyimpan karbon di lautan dalam cara yang tidak pernah kita pahami lengkap sebelumnya. Penelitian ini membantu menjawab misteri panjang tentang mengapa perhitungan karbon di lautan sering tidak pas. Ternyata kita kurang memahami siapa saja yang ikut bekerja di sana.
Temuan baru ini bukan hanya menjawab pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang “mengikat” karbon di laut dalam. Lebih dari itu, penelitian ini membuka wawasan baru tentang bagaimana rantai makanan di laut terdalam Bumi tersusun dan bisa terus bertahan hidup.
Selama ini, laut dalam masih menyimpan banyak misteri. Di wilayah yang gelap, dingin, dan nyaris tanpa sumber makanan dari permukaan, para ilmuwan belum sepenuhnya memahami bagaimana kehidupan bisa tetap berjalan. Menurut peneliti Craig Santoro, dikutip dari Science Daily, masih ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab tentang cara kerja ekosistem ini.
“Ada aspek-aspek dasar tentang bagaimana rantai makanan di laut dalam bekerja yang belum kita pahami,” ujar Santoro.
Dengan kata lain, penelitian ini membantu ilmuwan melihat siapa yang memberi ‘makan’ seluruh ekosistem laut dalam dari level paling bawah. Mikroba-mikroba kecil yang selama ini luput dari perhatian ternyata berperan penting sebagai penyedia energi awal, yang kemudian menopang kehidupan organisme lain di kedalaman laut.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa meskipun tidak terlihat, laut dalam memiliki sistem kehidupan yang kompleks dan saling bergantung—dan mikroorganisme mikroskopis justru menjadi kunci utama keberlangsungannya.
Apa itu Amonia Oxidizing Archea?
Oxidising archaea adalah kelompok mikroba purba (archaea) yang mendapatkan energi dengan mengoksidasi amonia (NH₃) menjadi nitrit (NO₂⁻). Proses ini disebut nitrifikasi, dan terjadi tanpa bantuan cahaya matahari.
Mereka banyak hidup di laut dalam, perairan dingin dan gelap, tanah dan sedimen
Heterotrof adalah:
✔ organisme pemakan bahan organik
✔ “konsumen” dalam rantai makanan
✔ ternyata juga bisa berperan sebagai penyerap karbon
✔ kunci penting kehidupan di laut dalam




