Resolusi 2026: Apa yang Perlu Diselamatkan? Manusia di Dalam Diri Kita

Tahun 2026 tidak datang dengan janji ketenangan. Tahun yang akan kita jelang hadir sebagai kelanjutan dari tahun-tahun yang menguras batin: cuaca yang semakin sulit ditebak, ekonomi yang menuntut ketahanan tanpa banyak jeda, serta kehidupan digital yang terus menarik perhatian manusia ke luar dirinya sendiri. Di Indonesia, semua itu terasa dekat, nyata, dan personal.

Maka pertanyaan tentang resolusi di tahun 2026 seharusnya tidak lagi dimulai dari apa yang ingin dicapai?, melainkan apa yang ingin diselamatkan?

Barangkali, yang paling membutuhkan penyelamatan adalah manusia di dalam diri kita sendiri.

Selama bertahun-tahun, banyak orang Indonesia hidup dengan tuntutan untuk selalu tampak kuat. Kuat menghadapi pekerjaan yang tak pasti, kuat menopang keluarga, kuat menghadapi perubahan yang datang tanpa diminta. Namun jarang ada ruang untuk berkata jujur bahwa lelah itu nyata, bahwa cemas itu ada, dan bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.

Resolusi di 2026 mungkin sesederhana ini: berhenti memaksa diri untuk selalu kuat.

Mengakui lelah bukan tanda kegagalan. Justru di sanalah manusia belajar mengenali batasnya. Dalam masyarakat yang terbiasa menuntut ketahanan, keberanian untuk beristirahat adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, namun paling manusiawi.

Di saat yang sama, kehidupan digital kian mendominasi keseharian. Di Indonesia, layar ponsel telah menjadi ruang baru untuk bekerja, berelasi, bahkan mencari pengakuan. Namun semakin sering kita menatap layar, semakin jarang kita benar-benar hadir. Kita membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain, lalu pulang dengan perasaan kurang, tanpa tahu dari mana asalnya.

Resolusi batin di 2026 menuntut keberanian untuk menarik jarak. Tidak semua hal perlu dibagikan. Tidak semua opini harus direspons. Tidak semua pencapaian orang lain adalah cermin kegagalan diri sendiri.

Ada ketenangan yang hanya bisa ditemukan saat manusia berhenti berlari dari dirinya sendiri.

Ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi Indonesia juga meninggalkan jejak kecemasan kolektif. Banyak orang hidup dengan perasaan waswas: takut tidak cukup, takut tertinggal, takut masa depan tak berpihak. Dalam situasi seperti ini, resolusi terdalam bukan tentang menjadi lebih cepat atau lebih hebat, melainkan menerima bahwa hidup memang tidak selalu stabil.

Tidak semua fase hidup adalah fase bertumbuh. Ada fase bertahan. Dan bertahan bukanlah kekalahan.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42