Sejarah logam tanah jarang tidak bermula dari gegap gempita industri, melainkan dari kerja sunyi para ilmuwan di laboratorium-laboratorium kecil Eropa pada akhir abad ke-18. Jauh sebelum unsur-unsur ini menjadi kunci kendaraan listrik dan turbin angin, logam tanah jarang adalah teka-teki kimia yang membingungkan para peneliti selama lebih dari satu abad.
Logam tanah jarang, meskipun namanya kerap menimbulkan kesan eksotis, bukanlah kelompok logam yang benar-benar langka di alam. Istilah ini merujuk pada 17 unsur kimia yang terdiri atas 15 unsur lantanida, dari lanthanum hingga lutetium, ditambah scandium dan yttrium. Unsur-unsur ini memiliki sifat kimia yang mirip satu sama lain, sehingga hampir selalu ditemukan berkelompok di dalam batuan dan jarang muncul dalam bentuk murni. Justru karena kesamaan sifat inilah mereka disebut “jarang”: bukan karena jumlahnya sedikit, melainkan karena sulit dipisahkan secara teknis dan ekonomis.
Dalam kerak bumi, beberapa logam tanah jarang bahkan lebih melimpah dibandingkan logam industri seperti timah atau perak. Namun, mereka tersebar dalam konsentrasi rendah dan sering menjadi mineral ikutan dari proses geologi lain. Selama berabad-abad, karakter ini membuat logam tanah jarang lebih dikenal sebagai objek penelitian ilmiah ketimbang bahan industri. Baru ketika teknologi modern membutuhkan sifat-sifat spesifik, magnet kuat, kemampuan luminesensi, dan kestabilan termal. Logam tanah jarang beralih dari keingintahuan laboratorium menjadi fondasi teknologi global.
Berawal di Abad 18
Kisahnya dimulai pada tahun 1787, ketika seorang perwira militer Swedia bernama Carl Axel Arrhenius menemukan batuan hitam aneh di sebuah desa kecil bernama Ytterby, dekat Stockholm. Batuan itu kemudian diteliti lebih lanjut dan menghasilkan oksida baru yang kala itu disebut “yttria”. Tak ada yang menyangka bahwa dari desa kecil tersebut akan lahir nama-nama unsur yang kelak dikenal dunia: yttrium, terbium, erbium, dan ytterbium. Ytterby menjadi satu-satunya tempat di dunia yang “melahirkan” empat unsur kimia berbeda.
Tambang Ytterby. Foto Wikipedia Commons
Pada masa itu, para ilmuwan menyebut unsur-unsur ini sebagai rare earth atau tanah jarang, bukan karena jumlahnya sedikit, melainkan karena sifatnya yang sulit dipisahkan. Unsur-unsur tersebut selalu hadir bersama, memiliki karakter kimia yang nyaris identik, dan menolak diklasifikasikan dengan mudah. Selama puluhan tahun, para kimiawan berdebat apakah mereka sedang berhadapan dengan unsur berbeda atau hanya variasi dari satu zat yang sama.
Abad 19 dan Abad 20
Abad ke-19 menjadi era panjang pemisahan dan penamaan. Penemuan logam tanah jarang bukanlah lompatan besar, melainkan rangkaian kemajuan kecil yang melelahkan. Para ilmuwan seperti Carl Gustaf Mosander, Jean Charles Galissard de Marignac, dan Georges Urbain memisahkan unsur demi unsur melalui kristalisasi berulang. Ini adalah sebuah pekerjaan yang menuntut ketelitian ekstrem.
Hingga awal abad ke-20, hampir seluruh 15 unsur lantanida akhirnya berhasil diidentifikasi, menjadikan logam tanah jarang sebagai salah satu kelompok unsur terakhir yang “lengkap” dalam tabel periodik.
Yttrium. Sumber: Wikipedia
Selama bertahun-tahun setelah itu, logam tanah jarang tetap berada di pinggiran sejarah industri. Mereka dikenal, dipelajari, namun jarang dimanfaatkan secara luas. Baru pada pertengahan abad ke-20, terutama setelah Perang Dunia II, perhatian terhadap logam tanah jarang meningkat. Perkembangan teknologi radar, elektronik, dan kemudian energi nuklir membuka mata dunia akan sifat unik unsur-unsur ini, yaitu kemampuan magnetik, optik, dan katalitik yang tidak dimiliki logam lain.
Masuknya logam tanah jarang ke jantung teknologi modern terjadi secara perlahan namun pasti. Pada dekade 1960–1980-an, unsur-unsur ini mulai digunakan dalam televisi berwarna, katalis kendaraan, dan magnet berkinerja tinggi. Namun, saat itu produksinya masih tersebar, dengan Amerika Serikat dan beberapa negara lain sebagai pemain utama.
Perubahan besar terjadi menjelang akhir abad ke-20, ketika Tiongkok secara sistematis mengembangkan industri logam tanah jarang—dari tambang hingga pemurnian. Dengan kombinasi kebijakan industri, investasi teknologi, dan biaya lingkungan yang kala itu belum menjadi perhatian global, Tiongkok menjelma menjadi pusat produksi dunia. Sejak saat itu, logam tanah jarang tak lagi sekadar objek ilmiah, melainkan instrumen geopolitik dan ekonomi global.
Abad 21
Memasuki abad ke-21, krisis iklim dan transisi energi mengangkat kembali logam tanah jarang ke panggung utama sejarah. Unsur-unsur yang dahulu dipelajari dengan kaca pembesar di laboratorium kini menentukan arah masa depan energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi rendah karbon. Namun, bersamaan dengan itu, muncul kesadaran baru. Sejarah logam tanah jarang juga menyimpan jejak pencemaran, ketimpangan, dan pengorbanan lingkungan.
Sejarah logam tanah jarang, pada akhirnya, adalah cermin dari relasi manusia dengan pengetahuan dan kekuasaan atas alam. Unsur-unsur yang selama lebih dari satu abad menjadi teka-teki ilmiah kini berada di pusat peradaban teknologi modern. Dari laboratorium sunyi di Eropa hingga tambang-tambang besar di berbagai belahan dunia, logam tanah jarang menandai bagaimana kemajuan sains perlahan berubah menjadi kepentingan industri, lalu menjelma menjadi isu geopolitik dan lingkungan global.
Di era transisi energi dan krisis iklim, logam tanah jarang kembali memperoleh makna baru. Tidak lagi sekadar unsur kimia, tetapi simbol ambisi dunia untuk membangun masa depan rendah karbon. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa setiap lonjakan teknologi selalu membawa jejak ekologisnya sendiri.
Cara dunia memperlakukan logam tanah jarang hari ini tentang bagaimana ia ditambang, diolah, dan didistribusikan akan menjadi bagian dari catatan sejarah berikutnya: apakah transisi energi benar-benar menjadi jalan keluar dari krisis, atau justru membuka bab baru persoalan lingkungan global?***




