Tenun Sekomandi: Cerita Tua yang Tak Pernah Putus

Di Sulawesi Barat, ada warisan budaya yang tak sekadar indah dipandang, tetapi juga sarat makna sejarah dan filosofi masyarakatnya. Tenun Sekomandi merupakan kain tradisional dari Kalumpang, Kabupaten Mamuju, yang telah ada selama ratusan tahun, bahkan diyakini sebagai salah satu tenun tertua di dunia.

Asal kata Sekomandi sendiri membawa pesan emosional dan sosial yang kuat. “Seko” berarti persaudaraan atau kekeluargaan, sementara “mandi” berarti kuat atau erat. Secara keseluruhan, Sekomandi menggambarkan ikatan keluarga dan komunitas yang erat dan tak mudah terpisahkan, sebuah nilai yang menjadi inti kehidupan masyarakat Kalumpang.

Kain ini bukan sekadar hasil kerajinan tangan. Ia adalah simbol sosial, alat perdagangan hingga bahan ritual budaya. Pada masa lalu, Sekomandi digunakan dalam acara-acara besar seperti upacara adat, tradisi keagamaan, pernikahan, hingga pesta duka, dengan motif yang masing-masing memiliki makna mendalam.

Makna Filososif dalam Motif

Salah satu motif yang paling dikenal adalah Ulu Karua atau juga disebut Ba’ba Deata, yang berarti “delapan ketua adat”. Motif ini merupakan pengingat akan para leluhur dan pemimpin adat yang membimbing masyarakat sejak dahulu. Perpaduan warna dan bentuk pada setiap motif pada kain Sekomandi tidak dibuat sembarang. Setiap pola menyimpan cerita, nilai, dan identitas budaya yang dijaga turun-temurun.

Selain itu, terdapat puluhan motif lain seperti Tosso Balekuan, Lelen Sepu’, dan Kokkong Totandung, yang masing-masing membawa pesan moral, spiritual, atau sejarah komunitas setempat.

Dari Warisan Budaya ke Daya Tarik Wisata

Di era modern, tenun Sekomandi tidak hanya melanjutkan fungsinya sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi magnet bagi wisata budaya Sulawesi Barat. Pemerintah daerah dan pelaku budaya aktif mendorong preservasi tenun ini melalui pameran, pendidikan, hingga program pelatihan bagi generasi muda.

Pengakuan formal sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2016 mempertegas nilai kulturalnya yang tinggi. Bahkan statusnya sebagai produk dengan indikasi geografis membantu menjaga kualitas, memperkuat nilai ekonomi, serta mendorong permintaan yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Tenun Sekomandi kini menjadi lebih dari sekadar kain. Tenun ini menjadi simbol identitas, sejarah, dan kekuatan komunitas. Dari Kalumpang, kain ini membawa cerita tentang persaudaraan, kearifan lokal, serta daya kreatif masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur. Dan saat helai kainnya disentuh mata dunia, Sekomandi pun berdiri sebagai bukti bahwa kebudayaan bisa menjadi kekuatan ekonomi, sosial, dan pariwisata yang tak ternilai.

Proses Pembuatan Tenun Sekomandi

Proses pembuatan tenun Sekomandi dimulai dengan memintal kapas menjadi benang, proses ini dinamakan ma’kare’. Kemudian masuk ke tahap mangrara, dimana bahan tersebut diberi perwarna alami yang diracik dari akar, daun, kulit kayu, hingga tanaman cabai. Tak ayal kain tenun Sekomandi memiliki harum khas rempah-rempah. Untuk warnanya, kain tenun Sekomandi didominasi oleh warna cokelat merah atau krem dengan hitam sebagai warna dasar.

Setelah itu, masuk ke proses ma’bida, mengikat benang sesuai motif atau pola yang diinginkan. Dan tahap terakhir ma’tannun yaitu proses menenun benang di atas alat tenun tradisional (gedogan).

Foto: Kementerian Pariwisata Republik Indonesia

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42