Pengetahuan Tradisional
Banjir kerap dipahami sebagai bencana alam yang datang tiba-tiba, seolah terlepas dari sejarah panjang hubungan manusia dengan lingkungannya. Padahal, jauh sebelum istilah mitigasi bencana dikenal dalam kebijakan modern, masyarakat adat di berbagai wilayah Nusantara telah mengembangkan pengetahuan dan praktik untuk membaca alam, mengelola lanskap, serta meminimalkan risiko dari air dan tanah yang bergerak.
Pengetahuan itu lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan hutan, sungai, lereng, dan musim. Ia terwujud dalam tata ruang kampung, sistem pertanian, aturan adat, hingga larangan-larangan yang diwariskan lintas generasi. Praktik-praktik ini tidak selalu ditulis dalam buku, tetapi hidup dalam ingatan kolektif dan dijalankan sebagai bagian dari keseharian.
Artikel ini menghadirkan empat contoh kearifan lokal masyarakat adat dalam memitigasi banjir, bukan sebagai romantisasi masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa solusi berbasis alam dan budaya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara. Di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, pengetahuan lokal ini menawarkan perspektif penting tentang cara membangun relasi yang lebih seimbang antara manusia dan lingkungan.
Dengan menengok kembali praktik-praktik tersebut, kita diajak untuk melihat bahwa mitigasi bencana bukan hanya soal teknologi dan infrastruktur, tetapi juga soal mendengar kembali suara-suara lama yang tumbuh dari pengalaman hidup bersama alam.
Berikut ini sejumlah kearifan lokal dalam mitigasi bencana banjir dan longsor yang ada di Indonesia:
Lamban Langgakh, Mitigasi Banjir di Lampung
Lamban Langgakh merupakan sebutan untuk rumah panggung di daerah Pesisir Barat, Lampung. Kearifan lokal berupa rumah panggung ini selain digunakan untuk mitigasi bencana gempa dan tsunami, serta juga digunakan untuk mitigasi bencana banjir.
Rumah panggung ini berbahan utama kayu atau papan yang diperkuat dengan pasak dan tiang, serta memiliki ketinggian 2-3 meter di atas permukaan tanah.
Bangunan rumah panggung yang ditinggikan ini dapat menjadi alternatif solusi dalam menghadapi bencana banjir. Sebab, air yang datang ketika banjir tidak akan sampai merendam dan masuk ke rumah warga.
Berdasarkan studi tentang mitigasi bencana, Lamban langgakh memiliki nilai penting bagi masyarakat Lampung karena melambangkan kekuatan, keindahan, kenyamanan, dan kebanggaan budaya. Rumah adat ini dibangun dari kayu pilihan sehingga mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Pada awalnya, lamban langgakh berfungsi sebagai perlindungan dari hewan buas seperti harimau dan gajah. Selain itu, bahan bangunannya mudah diperoleh dari alam sekitar. Seiring waktu, fungsi tersebut berkembang. Struktur rumah panggung yang fleksibel dan tahan gempa membuat lamban langgakh relevan sebagai bentuk mitigasi bencana, terutama untuk mengurangi dampak gempa bumi dan tsunami.
Bangunan ini memiliki bentuk memanjang dengan ukuran yang proporsional, sehingga membantu menjaga kestabilan rumah. Pembagian ruang di dalamnya juga dirancang untuk memperkuat struktur bangunan. Teknik konstruksi bongkar-pasang memungkinkan rumah bergoyang mengikuti getaran gempa tanpa mengalami kerusakan besar, menjadikan lamban langgakh sebagai contoh kearifan lokal dalam menghadapi bencana alam.
Pikukuh Karuhun, Panduan Cegah Bencana Masyarakat Kanekes
Pikukuh Karuhun merupakan sejumlah aturan atau ketentuan adat yang harus dilaksanakan masyarakat Kanekes untuk mencegah terjadinya bencana alam.
Ketentuan Pikukuh Karuhun ini di antaranya adalah terkait pembuatan bangunan (rumah, jembatan, lumbung), larangan untuk mengubah jalan air, mengubah kontur tanah, dan meratakan tanah untuk pemukiman.
Pada masyarakat Kanekes, bangunan rumah panggung terbuat dari bahan kayu, bambu, ijuk, rumbia, dan tanpa menggunakan paku dengan ukuran yang hampir sama masing-masing rumahnya.
Hal tersebut dilakukan masyarakat setempat semata-mata sebagai upaya mitigasi bencana gempa, longsor, banjir, dan kebakaran.
Tatali Paranti Karuhun Warga Kasepuhan Gunung Halimun Sukabumi
Tradisi Tatali Paranti Karuhun berisi norma-norma dan pengetahuan tentang cara bertani yang dilakukan masyarakat Kasepuhan. Terdapat dua jenis pertanian yang dilakukan, yakni perladangan dan sawah.
Dalam sistem perladangan yang dilakukan warga Kasepuhan, terdapat tahapan nyacar, yaitu tahap penyiapan lahan. Pada tahap ini, pepohonan yang menutupi lahan sengaja tidak ditebang karena hal itu dianggap pamali oleh warga sekitar.
Sehingga lahan yang sudah siap tersebut tidak akan mengalami perubahan yang mendasar, dan juga tidak akan beralih fungsi ke penggunaan yang lain (deforestasi).
Sistem perladangan dengan metode tradisi Tatali Paranti Karuhun ini tidak memicu longsor dan sebagai upaya mitigasi bencana banjir dan longsor.
Selain itu, ada juga sejumlah kearifan lokal warga Kasepuhan lainnya yang digunakan sebagai upaya mitigasi bencana longsor adalah bentengan, lelemahan, ngebeberah dan talutug.
Saoraja dan Pananrang Cara Masyarakat Wajo-Bugis Mitigasi Banjir
Bagi masyarakat Wajo, banjir sudah menjadi bagian dari siklus hidup mereka. Dengan mengedepankan pengetahuan warisan leluhur, mereka menyikapi banjir dengan arif dan dilakukan secara kolektif.
Mereka yang berdomisili di wilayah yang biasa disinggahi banjir tahunan, cara mereka untuk beradaptasi dengan banjir adalah dengan mempertahankan bentuk dan konstruksi rumah adat suku Bugis.
Rumah adat Bugis yang disebut Saoraja merupakan bangunan dari kayu dengan bentuk panggung. Ketinggian rumah mereka sampai tiga meter dengan atap berbentuk pelana. Alih-alih menggunakan paku, kayu-kayu untuk Saoraja disatukan dengan kayu pula atau besi.
Dengan konstruksi rumah panggung, terdapat ruang kosong di bawah rumah untuk dijadikan garasi bagi kendaraan mereka atau sekadar tempat santai dengan bale-bale sederhana.
Jika banjir datang, kendaraan bermotor dan ternak yang perlu mereka pikirkan. Selain itu, air akan melewati ruang kosong di bawah tempat tinggal mereka.
Antisipasi lain yang juga berbasis budaya adalah dengan Pananrang, pengetahuan lokal Suku Bugis yang berisi pertanda-pertanda alam. Pananrang diwariskan secara turun temurun melalui tutur lisan. Selain diwariskan secara lisan, isi Pananrang ini juga terdapat dalam manuskrip kuno I Lagaligo.
Kearifan lokal dalam hal relasi hubungan manusia dengan alamnya sudah dapat dibuktikan dapat menjadi upaya mitigasi bencana seperti banjir dan longsor di beberapa wilayah di Indonesia. Yang masih mengedepankan pengetahuan tradisional sebagai tata aturan, norma dan adat yang masih relevan dengan kondisi saat ini.***




