MEDIA KALPATARA

Mitologi sering disalahpahami oleh masyarakat modern sebagai sekadar cerita masa lalu. Mitologi kerap ditempatkan sebagai kisah dongeng tentang dewa, makhluk gaib, atau dunia yang dianggap tak lagi relevan. Padahal, bagi banyak antropolog dan filsuf, mitologi adalah salah satu cara paling awal manusia memahami[…]

Pangan Lokal Di banyak meja makan Indonesia, tempe hadir dalam beragam menu sehari-hari. Digoreng sederhana, ditumis cepat, dibacem manis, atau diiris tipis menjadi mendoan. Harganya murah, bentuknya bersahaja, dan aromanya begitu akrab. Karena terlalu dekat, tempe kerap dianggap biasa. Padahal, di balik kesederhanaannya,[…]

Manuskrip Nusantara Prasasti Katiden II ditemukan di Malang. Berisi perintah Raja Wikramawarddhana untuk menjaga alam dan sekaligus memberikan tata cara manajemen lingkungan secara gotong royong. Prasasti Katiden II, ada yang menyebutnya Prasasti Lumpang. Muhamad Yamin pernah menerjemahkan prasasti ini ada dalam catatan bukunya[…]

Permainan Tradisional Mattojang, bagi masyarakat Bugis berarti permainan berayun-ayun. Dalam permainan ini suku Bugis membangun ayunan raksasa dari pohon kapuk yang tinggi dan talinya dibuat dari rotan. Untuk membangun ini, masyarakat suku Bugis bergotong royong mencari bahan di atas gunung. Pohon kapuk besar[…]

Kebajikan Lokal Dalam Lontar Purana Bali, sebagai manusia yang memahami baktinya kepada Tuhan, berkewajiban menjalankan Sad Krti yang diartikan sebagai enam laku mulia. Laku ini berkaitan dengan relasi intim antara manusia dengan alam. Sad Krti merupakan perwujudan perilaku manusia yang mulia. Dalam bahasa[…]

Serial Penanggalan Pawukon Wuku Mandasiya (Jawa) atau Medangsia (Bali|) memiliki karakter bawaaan yang dibawa sejak lahir. Hal ini diungkap oleh Penanggalan Pawukon sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat tradisi yang disusun bukan hanya dalam waktu sebentar, melainkan pengamatan yang lama. Wuku Mandasiya atau Medangsia[…]

Serial Penanggalan Pawukon Nama Langkir diambil dari nama Raden Langkir, anak Dewi Sinta dan Prabu Watugunung yang kesebelas. Kelahiran Wuku Langkir ada di bawah naungan Batara Kala. Dalam kisah pewayangan, Batara Kala, putera Batara Guru. Batara Kala ditempatkan sebagai penguasa waktu. Kata “kala”[…]

Serial Penanggalan Pawukon Dinaungi Dewa Indra, kelahiran Wuku Kuningan mendapatkan anugerah keistimewaan. Karakter bawaan lahir yang istimewa ini turut berperan dalam proyeksi nasibnya. Seperti apakah istimewanya? Menurut Kitab Pawukon, setiap kelahiran dalam kurun waktu wuku tertentu akan mendapatkan karakter bawaan lahir yang bisa[…]

Pengetahuan Tradisional Banjir kerap dipahami sebagai bencana alam yang datang tiba-tiba, seolah terlepas dari sejarah panjang hubungan manusia dengan lingkungannya. Padahal, jauh sebelum istilah mitigasi bencana dikenal dalam kebijakan modern, masyarakat adat di berbagai wilayah Nusantara telah mengembangkan pengetahuan dan praktik untuk membaca[…]

Penanggalan Pawukon Wuku Galungan adalah nama salah satu wuku di Penanggalan Pawukon yang berlaku di Jawa. Sedangkan di Bali disebut sebagai Wuku Dungulan. Wuku ini membawa karakter bagi yang lahir di bawah naungan Wuku Galungan atau Dungulan. Wuku Galungan atau Dungulan diambil dari[…]
Kaleidoskop Lingkungan Hidup ini dihadirkan Kalpatara sebagai ruang refleksi untuk menengok kembali relasi manusia dan alam, melalui peristiwa, praktik, dan perubahan yang membentuk lanskap lingkungan hidup dari waktu ke waktu.


Email: redaksi@kalpatara.id