Sorgum (Sorghum bicolor) adalah tanaman serealia yang telah lama dibudidayakan di berbagai wilayah dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis yang kering. Meski namanya belum sepopuler padi atau gandum, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sorgum memiliki manfaat penting, baik bagi kesehatan manusia, lingkungan, maupun keberlanjutan sistem pangan.
Berdasarkan studi di Science Direct, secara biologis, sorgum termasuk tanaman dengan sistem fotosintesis C4 yang sangat efisien. Mekanisme ini memungkinkan sorgum menggunakan air secara lebih hemat dan tetap tumbuh pada suhu tinggi. Karena itu, banyak penelitian pertanian mencatat sorgum sebagai tanaman yang tahan kekeringan dan cocok dikembangkan di lahan kering serta lahan marginal, di mana tanaman pangan lain sulit berproduksi.
Manfaat Pangan
Dari sisi gizi, studi tersebut juga menunjukkan bahwa sorgum merupakan sumber karbohidrat kompleks dengan kandungan serat yang relatif lebih tinggi dibandingkan beras putih. Serat berperan penting dalam membantu pencernaan dan menjaga rasa kenyang lebih lama. Sorgum juga mengandung protein serta mineral seperti zat besi, fosfor, dan magnesium yang dibutuhkan tubuh dalam aktivitas sehari-hari.
Salah satu keunggulan sorgum yang banyak dibahas dalam penelitian kesehatan adalah sifatnya yang bebas gluten. Karena itu, sorgum aman dikonsumsi oleh penderita penyakit celiac maupun individu dengan sensitivitas gluten. Dalam berbagai studi pengembangan pangan, sorgum sering digunakan sebagai bahan alternatif pengganti gandum dalam produk bebas gluten.
Secara global, sorgum termasuk dalam lima besar tanaman serealia terpenting di dunia. Namun, pemanfaatannya sebagai pangan manusia masih kalah dominan dibandingkan beras, gandum, dan jagung. Penelitian dan kajian kebijakan pangan menyebutkan bahwa tantangan utama sorgum terletak pada kebiasaan konsumsi, teknologi pengolahan, serta struktur pasar pangan yang belum mendukung secara luas.
Manfaat Energi
Salah satu potensi sorgum yang banyak diteliti adalah kemampuannya menjadi bahan baku bioetanol, yakni etanol yang dihasilkan dari fermentasi gula tanaman dan bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Beberapa studi menunjukkan bahwa berbagai bagian tanaman sorgum, terutama batang atau dedak dari sorgum manis mengandung gula yang cukup tinggi untuk difermentasi menjadi bioetanol melalui proses hidrolisis dan fermentasi enzimatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dari dedak sorgum manis dapat menghasilkan bioetanol dengan rendemen yang nyata, memperlihatkan bahwa tanaman ini layak dijadikan sumber energi nabati.
Pengembangan bioetanol berbasis sorgum juga berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan campuran atau pengganti sebagian bahan bakar konvensional, sehingga membantu menekan penggunaan energi yang bersumber dari minyak bumi. Dalam jangka panjang, pemanfaatan bioetanol dari sorgum berpotensi meningkatkan ketahanan energi, khususnya di negara yang memiliki keterbatasan sumber energi fosil.
Selain itu, proses produksi bioetanol dari sorgum dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan energi fosil. Siklus produksinya melibatkan tanaman yang dapat diperbarui, dengan emisi karbon yang relatif lebih rendah karena sebagian karbon yang dilepaskan saat pembakaran berasal dari karbon yang sebelumnya diserap tanaman selama masa tumbuh. Dengan demikian, sorgum tidak hanya menawarkan solusi energi alternatif, tetapi juga mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dan transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Tidak hanya batangnya untuk bioetanol, sisa biomassa sorgum, seperti bagasse (sapitan batang) juga dapat diolah menjadi sumber energi lain seperti biopelet.
Penelitian yang dilakukan oleh IPB pada pemanfaatan bagasse sorgum menunjukkan bahwa limbah biomassa ini dapat dikompresi menjadi biopelet, yang memiliki nilai kalor tinggi (sekitar 4.000+ kkal/kg). Nilai kalor ini sebanding dengan bahan bakar padat lain dan menunjukkan bahwa sisa tanaman sorgum setara dengan bahan bakar padat lain dan memenuhi persyaratan standar mutu energi padat.
Pengembangan energi dari sorgum juga berarti memperkuat ketahanan energi berbasis lokal. Karena sorgum dapat tumbuh di lahan kering dan non-irigasi yang luas di daerah tropis seperti banyak wilayah di Indonesia, pemanfaatannya dapat membuka peluang energi terbarukan yang tidak terlalu bergantung pada pasokan impor energi fosil.
Selain itu, bioetanol maupun biopelet dari sorgum berpotensi untuk disinergikan dengan kebijakan energi baru terbarukan, sehingga bisa menjadi bagian dari mix energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di tingkat komunitas maupun nasional.***




