Roti pertama kali dibuat sekitar 14.400 tahun lalu, jauh sebelum manusia mengenal pertanian. Fakta ini terungkap dari bukti arkeologis yang ditemukan di situs prasejarah Shubayqa 1 di wilayah timur laut Yordania. Temuan ini menjadikan roti sebagai salah satu produk olahan pangan tertua dalam sejarah manusia.
Sisa-sisa roti prasejarah ditemukan dalam bentuk remah roti hangus yang tertinggal di perapian kuno. Roti ini dibuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di alam, terutama biji-bijian liar seperti gandum liar (wild einkorn) dan barley, serta umbi-umbian. Semua bahan tersebut diolah tanpa teknologi pertanian maupun peralatan modern.
Dikutip dari Archeology Magazine, sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh ahli arkeobotani Universitas Kopenhagen, Amaia Arranz-Otaegui, menemukan bahwa orang-orang yang tinggal di tempat perapian kuno ini ditemukan, adalah pemburu-pengumpul yang termasuk dalam budaya yang dikenal sebagai Natufian.
Perapian Kuno Shubayqa 1. Foto Credit: Amaia Arranz-Otaegui et alMereka telah membuat produk mirip roti tanpa ragi setidaknya 4.000 tahun sebelum munculnya pertanian. Sisa-sisa hangus dari tempat pembakaran menunjukkan bahwa orang-orang Natufian mengumpulkan sereal dan umbi-umbian liar untuk membuat tepung untuk roti. Pada saat itu roti mungkin bukan makanan pokok, tetapi suguhan langka yang diperuntukkan untuk acara-acara khusus.
Roti sebagai Teknologi Pangan Awal
Dalam konteks prasejarah, pembuatan roti merupakan bentuk awal teknologi pengolahan pangan. Proses pemanasan dan penggilingan memungkinkan manusia mengubah bahan mentah menjadi makanan yang lebih efisien secara energi.
Temuan ini menunjukkan bahwa manusia telah memahami prinsip dasar pengolahan makanan seperti transformasi fisik akibat panas, jauh sebelum berkembangnya teknik bercocok tanam.
Remah roti di Yordania berusia 14.000 ini memperkuat temuan sebelumnya yang memberi petunjuk mengenai konsumsi makanan mirip roti pada masa prasejarah. Penelitian lain menunjukkan bahwa praktik pengolahan bahan bertepung kemungkinan telah dilakukan jauh lebih awal.
Sejumlah penelitian arkeologi di Eropa mengungkap adanya residu pati pada alat-alat batu penggiling yang berasal dari periode sekitar 30.000 tahun lalu. Temuan ini ditemukan di beberapa situs Paleolitik Atas di Italia, Rusia, dan Republik Ceko.
Residu tersebut berasal dari tumbuhan bertepung, seperti rumput liar dan tanaman rawa, yang diyakini telah dikeringkan, ditumbuk menjadi tepung, lalu dimasak. Meski tidak ditemukan sisa makanan utuh, para peneliti berpendapat bahwa bahan tersebut kemungkinan diolah menjadi flatbread atau roti pipih sederhana sebagai sumber energi karbohidrat.
Berbeda dengan temuan di Shubayqa 1, bukti dari periode 30.000 tahun lalu ini bersifat tidak langsung. Yang ditemukan bukan produk akhir berupa roti, melainkan jejak teknologi pengolahan bahan pangan yang memungkinkan pembuatan makanan mirip roti.
Flatbread, The First Bread
Bentuk remah roti yang ditemukan di Yordania dipercaya seperti flatbread yang sekarang masih kita nikmati di era modern ini.
Roti pipih atau flatbreaad mencakup berbagai jenis roti yang berbeda satu sama lain, tetapi selalu relatif tipis. Secara ekonomis, berdasarkan penelitian dari Italia, flatbread memiliki beberapa keunggulan, antara lain: dapat dibuat dari serelia lain selain gandum dan tidak membutuhkan oven untuk memanggang. Karena cukup keras, flatbread juga dapat berfungsi sebagai piring atau sendok.
Foto: nimpairings.comDengan keunggulan ini, maka tak heran, sejak kuno, flatbread sudah populer di wilayah Near East dan Middle Asia, juga di Mediterania, India dan Arab.
Mengapa Orang Kuno Membuat Roti?
Tentu jawaban ini mudah saja, karena mereka butuh makan. Namun, kenapa roti? Jika melihat sejarahnya, Kalpatara menganalis, roti kuno dalam bentuk flatbread yang mudah dibuat dan bisa dibawa sebagai bekal untuk perjalanan beberapa waktu menunjukkan memiliki karakter yang sesuai dengan kebiasaan nomaden. Hidup yang berpindah-pindah membutuhkan bekal yang bisa dibawa kemanapun mereka pergi.
Temuan Flatbread kuno di wilayah sub tropis juga menunjukkan kepiawaian orang-orang kuno dulu dalam bertahan hidup menghadapi musim dingin. Ketika musim dingin datang, tidak ada lagi perjalanan mencari makan yang bisa dilakukan, maka bertahan hidup di tempat perlindungan, seperti gua atau shelter dadakan membuat mereka bisa tetap bertahan hidup dengan makan roti sepanjang musim dingin berlangsung.
Analisis ini juga bisa dibandingkan dengan pola pengolahan makan di wilayah tropis. Dengan musim yang hangat sepanjang tahun, roti bukan menjadi pilihan orang-orang kuno bertahan hidup. Di wilayah tropis, umbi-umbi an menjadi makanan yang tersedia dan dimanfaatkan.
Jadi, pertama kalinya roti dibuat memiliki satu alasan utama, agar mampu bertahan hidup dalam segala cuaca dan perjalanan.
Referensi:
Amaia Arranz-Otaegui et al., “Archaeobotanical Evidence Reveals the Origins of Bread 14,400 Years Ago in Northeastern Jordan,” Proceedings of the National Academy of Sciences 115, no. 31 (2018): 7925 – 7930,
Anna Revedin et al., “Thirty Thousand-Year-Old Evidence of Plant Food Processing,” Proceedings of the National Academy of Sciences 107, no. 44 (2010): 18815 – 18819




