Permainan Tradisional
Mattojang, bagi masyarakat Bugis berarti permainan berayun-ayun. Dalam permainan ini suku Bugis membangun ayunan raksasa dari pohon kapuk yang tinggi dan talinya dibuat dari rotan.
Untuk membangun ini, masyarakat suku Bugis bergotong royong mencari bahan di atas gunung. Pohon kapuk besar yang ditebang dari gunung, dibawa beramai-ramai menuju ke lokasi pelaksanaan.
Selain pohon kapuk, di beberapa daerah lain di wilayah adat Bugis, pembangunan Mattojang juga ada yang menggunakan bambu. Dibutuhkan empat batang bambu besar (bambu betung) yang tingginya kira-kira 10 meter.
Setiap dua batang bambu dipasang menyilang dengan mempertemukan kedua ujung bagian atasnya. Kemudian sebuah bambu yang panjangnya sekitar enam meter dipasang melintang diatas bambu yang berdiri sebagai tempat penyanggah tali ayunan.
Tali ayunan digunakan kulit kerbau yang telah dikeringkan dan dianyam membentuk tali. Namun saat ini pemakaian tali ayunan sudah banyak yang menggunakan rantai besi
Dalam melaksanakan permainan, tidak semua orang bisa melakukannya. Dibutuhkan keahlian khusus menjadi pelaku Mattojang. Biasanya pelaku terdiri dari 3 orang, 1 yang ditojang (diayun) dan 2 orang yang mattojang (mengayun). Pengalaman dan kerja sama menentukan keberhasilan permainan ini.
Pesta Mattojang juga menjadi ajang silaturahim antar-petani. Saat pesta digelar di tempat inilah biasanya para petani mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi termasuk menentukan jadwal turun sawah.
Kisah Turunnya Manusia Pertama
Kajian yang dilakukan oleh Dwi Ayu Wulandari dari Universitas Negeri Makassar berjudul Peran Masyarakat dalam Melestarikan Budaya Mattojang di Desa Ketteong Kabupaten Pinrang mengungkapkan bahwa permainan mattojang berakar kuat pada kepercayaan masyarakat Bugis. Dalam kepercayaan tersebut, prosesi turunnya Batara Guru dari negeri Khayangan ke bumi dilakukan dengan menggunakan Tojang Pulaweng, yang secara harfiah berarti ayunan emas.
Kisah sakral ini kemudian tersimpan dalam memori kolektif masyarakat Bugis dan diwariskan secara turun-temurun. Seiring waktu, narasi mitologis tersebut tidak hanya bertahan sebagai cerita, tetapi berkembang menjadi bagian penting dari prosesi adat dan praktik budaya, salah satunya diwujudkan melalui permainan tradisional Mattojang. Dengan demikian, Mattojang tidak sekadar menjadi permainan rakyat, melainkan simbol budaya yang merepresentasikan hubungan antara kepercayaan, tradisi, dan identitas masyarakat Bugis.
Dalam kepercayaan Bugis, manusia pertama yaitu Batara Guru dari Botting Langi’ (Turunnya Batara’ Guru dari Negeri Khayangan ke Bumi). Batara Guru adalah nenek dari Sawerigading. Selanjutnya, Sawerigading adalah ayah dari La Galigo, tokoh yang melahirkan kitab terpanjang di dunia, La Galigo.
Tradisi Mattojang yang semula dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur Suku Bugis, belakangan lebih banyak menonjolkan unsur hiburan dan permainannya.
Saat ini Mattojang sebagai permainan adat pun jarang dilihat di perkotaan. Aktivitas adat ini masih diselenggarakan di desa dengan mengambil momentum pesta panen.***




