Mitologi sering disalahpahami oleh masyarakat modern sebagai sekadar cerita masa lalu. Mitologi kerap ditempatkan sebagai kisah dongeng tentang dewa, makhluk gaib, atau dunia yang dianggap tak lagi relevan. Padahal, bagi banyak antropolog dan filsuf, mitologi adalah salah satu cara paling awal manusia memahami realitas.
Kata mitos berasal dari bahasa Yunani, μῦθος (mûthos), yang berarti cerita atau tuturan. Mitos adalah kisah sakral yang hidup di tengah masyarakat dan membentuk cara sebuah komunitas memahami dunia dan kehidupannya. Melalui mitos, manusia mencoba menjawab pertanyaan paling mendasar: dari mana kita berasal, mengapa kita ada, ke mana kita akan pergi, dan apa makna keberadaan kita.
Karena itu, ketika istilah mitos digunakan, tidak berarti cerita bohong atau khayalan. Sebaliknya, mitos merujuk pada kisah yang dianggap suci dan bermakna. Rangkaian cerita yang menyimpan nilai, panduan hidup, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mitos sebagai Kerangka Nilai yang Dinamis
Antropolog Bronislaw Malinowski dalam Myth in Primitive Psikologi (1926) melihat mitologi bukan sebagai kisah fiksi, melainkan kenyataan yang dijalani. Bagi, Malinowski mitos bukan fiksi seperti yang kita baca dalam novel modern, melainkan realitas hidup yang diyakini pernah terjadi pada masa purba, dan sejak saat itu terus memengaruhi dunia serta nasib manusia.
Bronislaw Malinowski mengajukan kritik terhadap cara pandang modern dalam memahami mitos. Ia menyoroti kecenderungan untuk menggolongkan mitos sebagai kisah yang bertujuan menjelaskan asal-usul dunia, manusia, alam, atau tradisi tertentu. Disebut sebagai mitos aetiologis dalam kaca mata modern.
Namun, Malinowski menegaskan bahwa bagi masyarakat pemilik mitos, makna “menjelaskan” tidak sama dengan pengertian yang digunakan dalam tradisi modern. Kisah-kisah tentang asal-usul ritus dan adat tidak dimaksudkan sebagai penjelasan rasional atau teoritis. Mitos tidak berfungsi sebagai jawaban logis atas pertanyaan “mengapa”, melainkan sebagai peneguhan makna yang hidup dalam praktik sosial.
Alih-alih menjelaskan, kisah-kisah tersebut menghadirkan preseden sakral, contoh ideal dari masa purba yang menjadi dasar legitimasi bagi keberlangsungan ritus dan adat. Dalam beberapa kasus, mitos juga memuat petunjuk konkret tentang cara menjalankan praktik tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan modern yang menganggap mitos aetiologis lahir dari dorongan intelektual untuk menjelaskan dunia, menurut Malinowski, justru keliru. Cara pandang ini memisahkan mitos dari konteks budaya dan organisasi sosialnya, serta mengabaikan kepentingan praktis yang membuat mitos terus hidup dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat.
Sisi intelektual sebuah kisah mungkin selesai pada teksnya, tetapi fungsi kultural, sosial, dan pragmatisnya justru terwujud dalam praktik dan hubungan kontekstualnya dalam kehidupan sehari-hari, sama pentingnya dengan teks itu sendiri.
Malinowski menyimpulkan, mitos merupakan unsur yang tak terpisahkan dari setiap kebudayaan. Mitos juga bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Mitos bergerak bersama dengan pembawa ceritanya. Mitos terus-menerus diperbarui. Setiap perubahan sejarah melahirkan mitologinya sendiri, meskipun mitologi tersebut tidak pernah berkaitan langsung dengan fakta sejarah.




