Dunia yang Mengungkapkan Dirinya Melalui Mitos
Dalam banyak kebudayaan, mitologi tidak pernah berdiri sendiri sebagai cerita. Mitologi hadir sebagai cara manusia merasakan, memahami, dan memberi arah pada realitas yang melampaui pengalaman sehari-hari. Melalui mitos, manusia tidak hanya menuturkan asal-usul atau peristiwa masa lalu, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesuatu yang dianggap lebih besar dari dirinya, sesuatu yang memberi makna, batas, dan orientasi hidup.
Di titik inilah mitologi berkaitan erat dengan pengalaman akan yang sakral. Mitos menjadi jembatan antara dunia yang tampak dan dunia yang dirasakan hadir, antara keseharian dan dimensi yang melampaui manusia. Untuk memahami peran ini, pemikiran Mircea Eliade memberikan kerangka yang penting dalam membaca mitos sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar narasi simbolik.
Bagi Eliade, mitos merupakan sarana yang paling umum dan paling efektif untuk membangkitkan serta memelihara kesadaran akan adanya dunia lain, sebuah “yang di luar sana”, baik itu dunia ilahi maupun dunia para leluhur. “Dunia lain” ini merepresentasikan ranah yang melampaui manusia, suatu tingkat realitas yang transenden dan adikodrati, yakni ranah dari realitas absolut.
Dalam Myth and Reality (1963) Eliade menyatakan kekuatan mitos sebagai kebenaran terus diperbarui melalui ritual. Dengan mengingat dan mengulangi kembali peristiwa awal yang sakral, manusia menjaga hubungan dengan apa yang dianggap sungguh nyata. Apa yang dilakukan pada masa awal dipercaya terus hadir dan memberi kepastian bahwa ada nilai-nilai yang bersifat mutlak. Nilai inilah yang disebut sakral, sesuatu yang melampaui manusia, tetapi tetap dapat dialami. Melalui ritual, yang sakral tidak lagi jauh dan abstrak, melainkan hadir dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi manusia dalam masyarakat yang masih menghidupi mitos, dunia bukanlah sesuatu yang tertutup dan bisu. Meski penuh misteri, dunia tetap terbuka dan seolah “berbicara” kepada manusia. Untuk memahami bahasa dunia ini, manusia hanya perlu mengenal mitos dan menafsirkan simbol-simbolnya.
Melalui mitos dan simbol, seperti penampakan fase-fase bulan, manusia menangkap keterhubungan yang dengan waktu. Apa yang disimbolkan di langit dikoneksikan dengan kelahiran, kematian dan kebangkitan, seksualitas, kesuburan, hujan, tumbuhan, dan siklus kehidupan lainnya. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda yang terserak tanpa makna, melainkan sebagai kosmos yang hidup, tersusun, dan bermakna.
Pada akhirnya, dunia menyingkapkan dirinya sebagai bahasa. Ia berbicara kepada manusia bukan melalui kata-kata, melainkan melalui cara keberadaannya sendiri, melalui struktur, pola, dan ritme kehidupan yang terus berulang.




