Di pegunungan Andes, bumi dimaknai bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai entitas hidup yang suci. Ia disebut Pachamama—Ibu Semesta yang meliputi tanah, air, gunung, dan seluruh sistem kehidupan.
Dalam kosmologi masyarakat adat Quechua dan Aymara, manusia hidup dalam relasi timbal balik dengan Pachamama: mengambil secukupnya dan menjaga keseimbangan agar harmoni tetap terpelihara. Pachamama dipandang sebagai divinitas tertinggi yang menaungi kehidupan. Ia berkaitan dengan kesuburan, kelimpahan, prinsip feminin, kemurahan hati, serta proses pematangan tanaman. Selain memberi hasil panen, Pachamama juga diyakini memberikan perlindungan bagi manusia dan seluruh makhluk yang hidup di dalam ruang kosmosnya.
Secara etimologis, nama Pachamama kerap diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Mother Earth. Kata pacha dalam bahasa Quechua dan Aymara memiliki makna yang luas: bukan hanya “bumi”, tetapi juga “alam semesta”, “ruang”, “waktu”, dan tatanan kosmik secara keseluruhan. Sementara itu, mama berarti “ibu”.
Tradisi masyarakat adat Andes, yang berkembang di wilayah kini dikenal sebagai Peru, Bolivia, Ekuador, dan negara tetangga, Pachamama bukan sekadar mitos. Ia adalah dewi ibu yang menopang kehidupan, kesuburan, panen, dan keseimbangan kosmos. Representasi tradisionalnya sering digambarkan sebagai simbol spiral atau sosok wanita yang membawa hasil bumi seperti kentang atau daun coca—simbol hubungan manusia dengan alam.
Penyatuan Kosmologi
Konsep Pachamama mencerminkan pandangan holistik dunia adat Andes, di mana manusia, hewan, tumbuhan, gunung (apus), sungai, dan langit adalah bagian dari satu totalitas yang saling terhubung. Dalam pandangan ini, setiap unsur kehidupan saling memengaruhi: apa yang terjadi pada tanah akan berpengaruh pada manusia dan sebaliknya.

Ritual tradisional untuk menghormati Pachamama masih dipraktikkan hingga hari ini. Misalnya, di Bolivia setiap bulan Agustus keluarga dan komunitas berkumpul di pegunungan untuk mengadakan persembahan yang disebut mesitas—sebuah upacara syukur dan permohonan harmoni hidup dengan alam, yang mencakup makanan, daun coca, dan bahan lain yang dibakar atau ditempatkan di bumi sebagai tanda hubungan timbal balik.
Pachamama dalam Hukum Modern
Gagasan Pachamama kini merambah ranah hukum modern. Pada 2008, Ekuador mencatat sejarah global dengan memasukkan rights of nature atau hak-hak alam ke dalam konstitusinya—sebuah terobosan hukum yang mengakui alam sebagai subjek yang memiliki hak untuk hidup dan dipulihkan ketika rusak.
Konstitusi Ekuador menyatakan bahwa alam memiliki hak untuk: eksis dan dipertahankan keberadaanya, memelihara siklus alami dan dipulihkan ketika mengalami degradasi akibat aktivitas manusia.
Pengakuan ini juga membuka ruang bagi warga negara untuk mengajukan gugatan hukum atas nama ekosistem yang rusak, seperti sungai, hutan, atau pegunungan yang terancam oleh kegiatan ekstraktif atau pembangunan yang tidak berkelanjutan.
.
Kasus Konkret Hak Alam di Ekuador
Pengakuan hak-hak alam dalam Konstitusi 2008 di Ekuador tidak berhenti sebagai simbol. Sejumlah perkara penting menunjukkan bagaimana konsep yang terinspirasi dari kosmologi Pachamama benar-benar diuji di ruang sidang.
Kasus Sungai Vilcabamba (2011)
Kasus pertama yang menjadi preseden terjadi di Provinsi Loja. Pemerintah daerah memperlebar jalan dan membuang material galian ke Sungai Vilcabamba tanpa kajian dampak lingkungan memadai. Dua warga menggugat atas nama sungai tersebut dengan dasar pelanggaran hak alam.
Pengadilan memutuskan bahwa tindakan pemerintah melanggar hak sungai untuk mempertahankan siklus dan fungsi ekologisnya. Hakim memerintahkan pemulihan serta kewajiban melakukan studi dampak lingkungan yang layak. Putusan ini menjadi tonggak karena untuk pertama kalinya hak alam ditegakkan secara konkret.
Sumber: First Successful Case Enforcing Rights of Nature in Ecuador
Perlindungan Hutan Los Cedros (2021)
Kasus besar berikutnya melibatkan hutan lindung Los Cedros yang terancam konsesi pertambangan. Komunitas lokal dan aktivis lingkungan menggugat izin tambang dengan dasar pelanggaran hak alam.
Pada 2021, Mahkamah Konstitusi Ekuador memutuskan bahwa pemberian izin tersebut melanggar hak alam serta hak masyarakat atas lingkungan yang sehat. Putusan ini memperkuat prinsip bahwa kegiatan ekstraktif harus tunduk pada perlindungan konstitusional terhadap ekosistem.
Putusan ini juga memperluas tafsir bahwa hak alam mencakup perlindungan keanekaragaman hayati dan prinsip kehati-hatian (precautionary principle), terutama di wilayah dengan ekosistem rapuh.
Sumber: Case No. 1149-19-JP/21 (Ecuador) – Los Cedros Decision
Putusan tentang Hak Ekosistem dan Prinsip Kehati-hatian
Dalam beberapa perkara lain, termasuk sengketa terkait proyek ekstraktif di wilayah adat, Mahkamah Konstitusi Ekuador menegaskan bahwa:
- Hak alam bersifat langsung berlaku (self-executing),
- Negara memiliki kewajiban aktif mencegah kerusakan,
- Pemulihan lingkungan adalah kewajiban hukum, bukan kebijakan sukarela.
Lembaga seperti Mahkamah Konstitusi Ekuador memainkan peran penting dalam menafsirkan pasal-pasal hak alam agar tidak sekadar normatif, melainkan operasional.
Antara Idealisme Konstitusi dan Realitas Ekonomi
Meski preseden hukum terus berkembang, tantangan tetap nyata. Ekuador masih membuka ruang t minyak dan pertambangan sebagai sumber utama penerimaan negara. Ketegangan antara perlindungan hak alam dan kebutuhan fiskal sering kali memunculkan konflik kebijakan.
Namun demikian, kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa hak alam bukan sekadar deklarasi moral. Ia telah menjadi instrumen hukum yang dapat membatalkan izin, menghentikan proyek, dan mewajibkan pemulihan ekologis.
Dalam konteks global, praktik di Ekuador menjadi rujukan penting bagi gerakan rights of nature. Dari konsep kosmologis Andes, Pachamama kini hidup dalam yurisprudensi—membuktikan bahwa bumi bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek hukum yang haknya dapat dibela di pengadilan.***




