Sumpah Bobeto: Janji Leluhur Tidore untuk Menjaga Alam

Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat Kampung Kalaodi di Pulau Tidore masih memegang teguh sebuah tradisi adat yang diwariskan oleh leluhur mereka. Tradisi tersebut dikenal sebagai Sumpah Bobeto, sebuah pesan moral yang mengajarkan manusia untuk tidak merusak alam.

Bagi masyarakat Kalaodi, Bobeto bukan sekadar nasihat atau ungkapan budaya. Ia merupakan kearifan lokal yang menjadi pedoman hidup dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Tradisi ini bahkan dianggap sebagai hukum sosial yang mengikat masyarakat agar tetap menghormati alam.

Alam Kalaodi

Kampung Kalaodi merupakan salah satu permukiman yang berada di wilayah Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Desa ini terletak di lereng Gunung Tidore atau juga dikenal dengan nama Kie Matubu dengan ketinggian sekitar 600 hingga 900 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berada di daerah pegunungan membuat udara di kawasan ini terasa sejuk serta menawarkan panorama alam yang luas. Dari kawasan Kalaodi, masyarakat dapat menyaksikan pemandangan Kota Tidore di bagian bawah, serta pulau-pulau di sekitarnya seperti Halmahera, Maitara, dan Ternate.

Secara ekologis, wilayah Kalaodi berada di sekitar kawasan Hutan Lindung Tagafura. Keberadaan hutan tersebut berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama sebagai daerah tangkapan air bagi wilayah yang berada di dataran lebih rendah. Kondisi alam yang masih relatif terjaga menjadikan kampung ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan lingkungan yang cukup lestari di Tidore.

Wilayah Kalaodi memiliki luas sekitar dua ribu hektare yang mencakup kawasan permukiman, lahan perkebunan, serta hutan. Sebagian besar area tersebut masih dipertahankan sebagai kawasan hijau karena masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Kesadaran ini tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai adat yang diwariskan oleh leluhur. Salah satu nilai yang paling dikenal adalah sumpah Bobeto, yaitu pesan adat yang mengingatkan masyarakat untuk tidak merusak alam. Nilai tersebut menjadi dasar bagi masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara bijaksana.

Apa Itu Sumpah Bobeto?

Bobeto adalah sumpah atau petuah adat yang diucapkan oleh pemimpin adat masyarakat Tidore, yang disebut Sowohi. Sumpah ini berisi pesan tentang hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

Salah satu ungkapan Bobeto yang terkenal berbunyi:

Nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha si jira se ngon.”
siapa merusak alam, maka dirinya akan dirusak alam

Makna dari sumpah ini sangat jelas: manusia harus menjaga alam karena kerusakan lingkungan akan kembali berdampak kepada manusia sendiri.

Tradisi Bobeto membuat masyarakat Kalaodi memiliki berbagai aturan adat dalam memanfaatkan sumber daya alam. Mereka tidak menebang pohon sembarangan dan menjaga kawasan hutan yang berada di sekitar Gunung Tidore.

Hutan bagi masyarakat Kalaodi memiliki fungsi penting sebagai sumber air dan penyangga ekosistem. Jika hutan rusak, maka wilayah di bawahnya, termasuk Kota Tidore, bisa mengalami banjir atau kekeringan.

Kesadaran ini membuat masyarakat sangat berhati-hati dalam mengelola alam. Mereka hanya mengambil hasil alam secukupnya dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Alam sebagai Ruang Sakral

Dalam kepercayaan masyarakat Kalaodi, alam juga memiliki nilai spiritual. Beberapa bukit, lembah, atau pohon besar dipercaya memiliki penjaga sehingga tidak boleh dirusak.

Kepercayaan tersebut membentuk sikap hormat terhadap alam. Jika ada orang yang melanggar aturan adat dan merusak alam, masyarakat percaya bahwa pelaku bisa mendapatkan konsekuensi buruk seperti sakit atau kesialan.

Nilai spiritual ini memperkuat fungsi Bobeto sebagai pengingat moral untuk menjaga lingkungan.

Sebagian besar masyarakat Kalaodi bekerja sebagai petani. Komoditas utama yang dihasilkan adalah cengkih dan pala, dua rempah yang sejak lama menjadi identitas ekonomi wilayah Maluku. Selain itu, masyarakat juga menanam durian, kayu manis, dan berbagai tanaman perkebunan lainnya.

Pada musim panen cengkih, suasana kampung menjadi sangat ramai. Warga sering menjemur cengkih di halaman rumah atau di sepanjang jalan desa. Dalam musim panen besar, masyarakat bahkan bisa mendatangkan ratusan pekerja dari luar kampung untuk membantu proses panen.

Wilayah Kalaodi sendiri memiliki luas sekitar 2.000 hektare yang terdiri dari kawasan permukiman, kebun, serta hutan.

Paca Goya Perwujudan Bobeto

Nilai Bobeto juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan budaya. Salah satunya adalah ritual Paca Goya, sebuah upacara adat yang dilakukan masyarakat Kalaodi untuk membersihkan kawasan hutan atau tempat yang dianggap keramat.

Paca artinya membersihkan, dan Goya diartikan sebagai tempat keramat atau lokasi sakral yang berada di kawasan hutan atau pegunungan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah panen raya cengkih.

Bagi masyarakat Kalaodi, Paca Goya bukan sekadar kegiatan membersihkan tempat, tetapi memiliki makna budaya dan spiritual, yaitu: menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam; menghormati leluhur yang dipercaya menjaga kawasan hutan atau gunung dan memperkuat komitmen masyarakat untuk menjaga lingkungan, sesuai dengan nilai adat seperti sumpah Bobeto dan mempererat solidaritas sosial, karena ritual ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.

Ritual ini menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus sarana untuk memperkuat kebersamaan masyarakat. Melalui tradisi ini, pesan Bobeto terus diwariskan kepada generasi muda.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Di tengah modernisasi dan eksploitasi sumber daya alam, nilai yang terkandung dalam Bobeto menjadi semakin relevan. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat adat telah memiliki konsep pelestarian lingkungan jauh sebelum isu tersebut menjadi perhatian global.

Kearifan lokal seperti Bobeto mengajarkan bahwa manusia tidak berada di atas alam, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Pesan leluhur masyarakat Kalaodi tersebut sederhana namun mendalam: jika manusia menjaga alam, maka alam juga akan menjaga manusia.


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 58