Suatu hari nanti, Bumi akan tetap berputar mengelilingi Matahari. Gunung masih berdiri, benua mungkin telah bergeser, dan langit tetap membentang. Namun ada satu hal yang tak lagi menghijau: tidak ada lagi pepohonan yang menjulang, rumput yang bergoyang diterpa angin, ataupun lumut yang menyelimuti batu. Fotosintesis, proses yang selama miliaran tahun mengubah cahaya menjadi kehidupan, akhirnya berhenti.
Skenario tersebut terdengar seperti kisah fiksi ilmiah. Namun, bagi para ilmuwan, pertanyaan tentang kapan tumbuhan terakhir di Bumi akan punah merupakan persoalan yang dapat dipelajari melalui hukum fisika, evolusi bintang, dan dinamika iklim planet.
Hasil penelitian terbaru di Journal of Geophysical Research: Atmospheres menunjukkan bahwa biosfer tumbuhan di Bumi kemungkinan masih memiliki waktu sekitar 1,84 hingga 1,87 miliar tahun sebelum kondisi planet ini tak lagi mampu menopang kehidupan tumbuhan. Angka itu memang berada jauh di luar rentang waktu kehidupan manusia, tetapi memberikan jendela untuk memahami bagaimana sebuah planet yang hidup pada akhirnya akan menua.
Matahari yang Perlahan Berubah
Sering kali Matahari dipandang sebagai sumber kehidupan. Tanpa energinya, Bumi hanyalah bola batu yang dingin dan gelap. Ironisnya, justru bintang yang sama suatu hari diprediksi akan menjadi penyebab berakhirnya sebagian besar kehidupan.
Bintang seperti Matahari tidak bersinar dengan intensitas yang tetap. Seiring bertambahnya usia, reaksi fusi di intinya perlahan mengubah komposisi internal sehingga luminositasnya meningkat. Para astronom telah lama mengetahui bahwa Matahari hari ini lebih terang dibanding miliaran tahun lalu, dan tren tersebut akan terus berlangsung.
Kenaikan intensitas cahaya mungkin terdengar kecil jika dihitung dalam skala tahunan. Namun dalam rentang miliaran tahun, tambahan energi itu cukup untuk mengubah iklim seluruh planet.
Untuk memahami masa depan Bumi, para peneliti menggunakan model iklim tiga dimensi yang mensimulasikan interaksi antara atmosfer, lautan, daratan, dan siklus karbon dalam skala waktu geologi.
Hasilnya menunjukkan bahwa tumbuhan dapat mencapai akhir kehidupannya melalui dua jalur yang berbeda.
Jalur pertama berkaitan dengan karbon dioksida. Bagi manusia, gas ini sering dikaitkan dengan pemanasan global. Namun bagi tumbuhan, karbon dioksida adalah bahan baku utama fotosintesis. Dalam skala jutaan hingga miliaran tahun, proses geologi secara perlahan mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer. Jika konsentrasinya turun di bawah ambang tertentu, tumbuhan tidak lagi mampu menghasilkan energi, meskipun air dan sinar Matahari masih tersedia.
Jalur kedua adalah panas yang berlebihan. Ketika Matahari terus bertambah terang, suhu rata-rata permukaan Bumi diperkirakan akan meningkat hingga puluhan derajat di atas kondisi saat ini. Pada titik tertentu, panas ekstrem akan membuat jaringan tumbuhan tidak lagi mampu menjalankan fungsi biologisnya.

Dengan kata lain, kehidupan hijau di Bumi dapat berakhir karena “kelaparan” karbon dioksida atau karena “kepanasan”. Mana yang terjadi lebih dahulu bergantung pada bagaimana sistem iklim dan geologi planet berkembang selama miliaran tahun mendatang.
Fotosintesis yang Mengubah Dunia
Sulit membayangkan Bumi tanpa tumbuhan. Selama lebih dari dua miliar tahun, organisme yang mampu berfotosintesis telah mengubah wajah planet ini secara mendasar.
Melalui proses tersebut, karbon dioksida diubah menjadi senyawa organik, sementara oksigen dilepaskan ke atmosfer. Perubahan itu memungkinkan evolusi hewan, termasuk manusia, yang bergantung pada oksigen untuk bernapas.
Hutan hujan, padang rumput, rawa, hingga ganggang mikroskopis di lautan membentuk fondasi hampir seluruh rantai makanan modern. Ketika fotosintesis berhenti, pasokan oksigen perlahan menurun dan jaringan kehidupan yang selama ini menopang keanekaragaman hayati mulai runtuh.
Karena itu, kepunahan tumbuhan bukan sekadar hilangnya pepohonan. Itu menandai berakhirnya biosfer seperti yang kita kenal.
Bumi Pernah Bertahan dari Banyak Krisis
Meski terdengar dramatis, sejarah Bumi menunjukkan bahwa kehidupan memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.
Planet ini telah melewati tumbukan asteroid raksasa, zaman es global, letusan gunung api berskala benua, hingga lima peristiwa kepunahan massal. Setelah setiap bencana, kehidupan menemukan jalannya kembali.
Karena itu, para ilmuwan mengingatkan bahwa hasil simulasi bukanlah kepastian mutlak. Penelitian tersebut belum memperhitungkan kemungkinan evolusi organisme selama hampir dua miliar tahun ke depan. Tumbuhan masa depan bisa saja memiliki mekanisme yang sama sekali berbeda dari flora yang hidup saat ini.

Selain itu, jika suatu saat muncul peradaban dengan kemampuan merekayasa iklim planet secara global, umur biosfer juga berpotensi diperpanjang, meski untuk saat ini hal itu masih berada di wilayah spekulasi ilmiah.
Perspektif tentang Planet yang Rapuh
Bagi manusia, satu abad sudah terasa panjang. Peradaban modern bahkan belum berusia 10.000 tahun. Dibandingkan dengan rentang hampir dua miliar tahun, seluruh sejarah manusia hanyalah sekejap.
Namun justru di situlah nilai penelitian semacam ini. Penelitian ini mengingatkan bahwa kelayakhunian Bumi bukanlah kondisi yang abadi, melainkan hasil keseimbangan yang rumit antara Matahari, atmosfer, lautan, batuan, dan kehidupan itu sendiri.
Paradoksnya, ancaman terbesar bagi tumbuhan bukanlah sesuatu yang terjadi besok pagi. Tantangan paling nyata justru datang dari perubahan lingkungan yang berlangsung sekarang: hilangnya hutan, perubahan iklim akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Masa depan kosmik Bumi memang masih sangat jauh. Akan tetapi, masa depan ekosistem yang menopang kehidupan manusia ditentukan oleh keputusan yang diambil hari ini. Di tengah perjalanan panjang menuju akhir sebuah planet, barangkali itulah pelajaran yang paling relevan bagi kita.***
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




