Editorial Juli
Setiap World Population Day, dunia kembali sibuk menghitung manusia. Berapa jumlah penduduk yang lahir, berapa yang memasuki usia produktif, berapa yang akan menjadi tenaga kerja masa depan. Tahun 2026, perhatian diarahkan kepada kaum muda (youth), generasi yang disebut-sebut akan menentukan arah dunia beberapa dekade ke depan.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah mereka: masa depan seperti apa yang sedang kita wariskan kepada generasi muda?
Hari ini dunia dihuni lebih dari delapan miliar manusia. Sekitar 1,2 miliar di antaranya berusia 15–24 tahun, menjadikan mereka kelompok generasi muda terbesar dalam sejarah. Indonesia juga sedang mengalami situasi serupa. Lebih dari 64 juta penduduk Indonesia merupakan pemuda, sekitar seperlima dari total populasi nasional. Mereka sering disebut sebagai modal pembangunan, mesin inovasi, bahkan “bonus demografi”.
Sayangnya, istilah itu terlalu sering diterima tanpa dipertanyakan.
Bonus bagi siapa?
Dalam wacana pembangunan, bonus demografi dipahami sebagai peluang ekonomi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada kelompok usia nonproduktif. Seolah-olah semakin banyak pemuda, semakin besar pula peluang kemakmuran.
Padahal kenyataan tidak sesederhana itu.
Ekologi Politik dan Malapetaka Demografi
Dari sudut pandang ekologi politik, persoalan utama bukanlah jumlah manusia, melainkan distribusi kekuasaan atas sumber-sumber kehidupan. Krisis yang kita hadapi hari ini juga terjadi karena ruang hidup semakin terkonsentrasi pada sedikit pihak. Tanah berubah menjadi komoditas, hutan menjadi konsesi, laut menjadi kawasan industri, sungai kehilangan fungsi ekologisnya, sementara akses masyarakat terhadap pangan, air, dan energi semakin timpang.
Dalam situasi seperti itu, bertambahnya jumlah penduduk tidak otomatis menghadirkan bonus. Ia justru dapat memperbesar kompetisi terhadap sumber daya yang sejak awal telah didistribusikan secara tidak adil.
Karena itu, yang patut kita khawatirkan sebenarnya adalah malapetaka demografi, ketika semakin banyak generasi muda memasuki usia produktif, tetapi menghadapi kesempatan hidup yang semakin sempit. Mereka berebut pekerjaan yang terbatas, berebut tanah yang terus menyusut, berebut ruang tinggal di kota-kota yang semakin padat, sementara biaya hidup, krisis iklim, dan kerusakan lingkungan terus meningkat.
Ironisnya, generasi yang akan paling lama hidup bersama krisis itu justru masih paling sedikit dipercaya untuk menentukan arah kebijakan.
Mereka hadir dalam forum-forum konsultasi, tetapi tidak duduk di meja pengambilan keputusan. Mereka diminta berpartisipasi, tetapi bukan berbagi kuasa. Mereka dipuji sebagai agen perubahan, sementara keputusan-keputusan strategis mengenai masa depan lingkungan, energi, tata ruang, dan pembangunan tetap didominasi oleh generasi yang tidak akan menanggung dampaknya selama mereka.
Inilah paradoks antargenerasi yang sedang kita alami.
Kita meminta kaum muda memperbaiki dunia yang rusak, tetapi tidak sungguh-sungguh memberi mereka ruang untuk ikut menentukan bagaimana dunia itu seharusnya dibangun.
Padahal regenerasi bukan sekadar memindahkan tongkat estafet kepemimpinan. Regenerasi adalah membangun kepercayaan.
Kepercayaan berarti memberi kesempatan untuk memimpin sebelum dianggap sempurna. Memberi ruang untuk mengambil keputusan, belajar dari kegagalan, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Tidak ada pemimpin yang lahir dari ruang tunggu; pemimpin tumbuh karena ada generasi sebelumnya yang bersedia berbagi ruang dan berbagi kuasa.
Namun hubungan antargenerasi tidak boleh dipahami sebagai pergantian peran semata.
Generasi yang lebih tua tetap memiliki tanggung jawab yang tidak tergantikan. Mereka menyimpan ingatan ekologis yang sering hilang dalam statistik pembangunan. Mereka mengetahui bagaimana hutan pernah dikelola sebagai ruang hidup, bagaimana laut dihormati sebagai sumber kehidupan, bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan dengan alam jauh sebelum istilah sustainability dikenal. Ingatan itu adalah pengetahuan yang dibutuhkan untuk menghadapi krisis hari ini.
Sebaliknya, generasi muda membawa keberanian untuk membayangkan cara-cara baru dalam merawat bumi. Mereka lebih terbuka terhadap kolaborasi, teknologi, dan bentuk-bentuk kepemimpinan yang lebih setara. Ketika ingatan ekologis bertemu dengan keberanian berinovasi, di situlah lahir perubahan yang berakar sekaligus bergerak maju.
Siapa Orang Tua Kandung Generasi Muda?
Di tengah proses regenerasi yang tersendat, ada perubahan lain yang sedang berlangsung tanpa banyak kita sadari.
Ketika generasi senior perlahan kehilangan perannya sebagai penjaga nilai, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong.
Peran ini segera diisi oleh teknologi.
Hari ini, anak-anak dan kaum muda lebih banyak menghabiskan waktu bersama layar dibandingkan bersama orang tua, guru, atau tetua adat. Mereka bertanya kepada mesin sebelum bertanya kepada orang yang lebih tua. Mereka mengenal dunia melalui algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian, bukan untuk menumbuhkan kebijaksanaan.
Teknologi tentu bukan musuh. Teknologi telah membuka akses pengetahuan yang luar biasa luas. Tetapi teknologi tidak mampu menggantikan fungsi manusia dalam mewariskan nilai. Algoritma dapat menunjukkan jalan tercepat menuju suatu tempat, tetapi tidak pernah mengajarkan mengapa sebuah sungai harus dihormati. Mesin dapat menjawab ribuan pertanyaan, tetapi tidak dapat mewariskan rasa tanggung jawab terhadap tanah leluhur atau mengajarkan bahwa hutan bukan sekadar sumber kayu, melainkan rumah bagi kehidupan.
Ketika para orang tua, guru, pemimpin masyarakat, akademisi, dan tetua adat berhenti menjadi penjaga nilai, generasi muda perlahan diasuh oleh “orang tua angkat” bernama teknologi. Bukan karena teknologi merebut mereka, tetapi karena kita menyerahkan ruang itu tanpa sadar.
Teknologi kemudian tidak hanya menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, ruang membangun identitas, bahkan ruang menentukan cara pandang terhadap dunia. Persoalannya, algoritma tidak bekerja untuk membentuk warga yang bijaksana. Algoritma bekerja untuk mempertahankan perhatian, mengumpulkan data, dan menggerakkan pasar.
Karena itu, tantangan terbesar hubungan antargenerasi hari ini bukan memilih antara manusia atau teknologi. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat, bukan pengasuh utama.
Dalam masyarakat adat, pelajaran ini sesungguhnya telah lama hidup. Pengetahuan tidak diwariskan melalui ceramah, tetapi melalui kehidupan bersama. Anak-anak belajar dengan mengamati, mengikuti, mencoba, dan dipercaya. Tetua tidak memonopoli pengetahuan; mereka memastikan pengetahuan itu terus hidup pada generasi berikutnya. Kepemimpinan tidak lahir dari perebutan kuasa, tetapi dari kesiapan untuk memikul tanggung jawab terhadap sesama dan alam.
World Population Day seharusnya mengingatkan bahwa setiap perubahan demografi selalu berkaitan dengan keadilan ekologis, distribusi akses terhadap sumber-sumber kehidupan, dan hubungan antargenerasi. Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh berapa banyak generasi muda yang kita miliki. Masa depan ditentukan oleh apakah kita cukup berani berbagi ruang, berbagi kuasa, dan berbagi kepercayaan kepada mereka.
Sebab anak-anak kita memang lahir dari rahim orang tua. Tetapi jika generasi senior gagal hadir sebagai penjaga nilai, mereka akan tumbuh bersama orang tua angkat yang bernama teknologi.
Dan pertanyaan yang akan menentukan masa depan adalah nilai-nilai siapa yang sedang diajarkan kepadanya?
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



