Bumi Memanas, Jamur Patogen Mengintai: Ancaman Senyap di Era Krisis Iklim

Ketika berbicara tentang perubahan iklim, yang terlintas di benak kebanyakan orang biasanya adalah gelombang panas, banjir, kekeringan, atau mencairnya es di kutub. Namun, di balik perubahan cuaca yang semakin ekstrem, ada ancaman lain yang bergerak tanpa suara dan nyaris tak terlihat: jamur penyebab penyakit.

Selama bertahun-tahun, dunia kesehatan lebih banyak memusatkan perhatian pada virus dan bakteri. Pandemi COVID-19 semakin memperkuat anggapan bahwa ancaman terbesar bagi manusia datang dari kedua kelompok mikroorganisme tersebut. Padahal, para ilmuwan kini mulai memperingatkan bahwa jamur patogen berpotensi menjadi tantangan kesehatan global berikutnya, terutama ketika perubahan iklim membuat lingkungan semakin ramah bagi pertumbuhannya.

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 untuk pertama kalinya menerbitkan Fungal Priority Pathogens List, yaitu daftar 19 spesies jamur yang dinilai paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Langkah ini menunjukkan bahwa infeksi jamur bukan lagi isu pinggiran, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian global.

Dunia Menghangat, Jamur Meluas

Jamur hidup hampir di setiap sudut Bumi. Mereka tumbuh di tanah, pepohonan, dedaunan yang membusuk, bahkan beterbangan di udara dalam bentuk spora mikroskopis. Sebagian besar tidak berbahaya dan justru berperan penting sebagai pengurai yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun, sebagian kecil di antaranya mampu menyebabkan penyakit serius pada manusia.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perubahan suhu, pola hujan, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dapat mengubah habitat alami jamur. Wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi spesies tertentu kini mulai menjadi tempat yang ideal untuk tumbuh dan berkembang.

Di saat yang sama, suhu yang lebih tinggi juga mendorong sebagian jamur beradaptasi agar mampu bertahan hidup pada kondisi yang sebelumnya tidak memungkinkan, termasuk mendekati suhu tubuh manusia.

Artinya, perubahan iklim bukan hanya menggeser musim atau meningkatkan frekuensi bencana alam. Ia juga perlahan mengubah peta persebaran penyakit.

Aspergillus, Jamur yang Selalu Ada di Sekitar Kita

Salah satu jamur yang menjadi perhatian ilmuwan adalah Aspergillus. Kelompok jamur ini sebenarnya sangat umum ditemukan di lingkungan. Sporanya beterbangan setiap hari dan tanpa sadar terhirup oleh manusia.

Bagi orang sehat, keberadaan spora tersebut umumnya tidak menimbulkan masalah karena sistem kekebalan tubuh mampu mengatasinya.

Namun bagi pasien kanker, penerima transplantasi organ, penderita HIV/AIDS, maupun individu yang menjalani terapi penekan sistem imun, infeksi Aspergillus dapat berkembang menjadi aspergilosis invasif, yaitu infeksi paru-paru yang dapat menyebar ke organ lain dan berakibat fatal.

Yang mengkhawatirkan, beberapa spesies Aspergillus mulai menunjukkan resistensi terhadap obat antijamur yang selama ini menjadi andalan terapi. CDC menyebut penggunaan fungisida golongan azol di sektor pertanian turut berkontribusi terhadap munculnya strain yang kebal terhadap obat, sehingga pengobatan menjadi semakin sulit.

Krisis Iklim Mengubah Peta Penyakit

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh penelitian terbaru dari University of Manchester yang memodelkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi persebaran tiga spesies Aspergillus, yakni A. fumigatus, A. flavus, dan A. niger.

Melalui pemodelan iklim global, para peneliti menemukan bahwa kenaikan suhu diperkirakan akan membuat wilayah beriklim sedang hingga dingin menjadi semakin cocok bagi pertumbuhan beberapa spesies jamur tersebut. Sebaliknya, sebagian wilayah yang saat ini menjadi habitat utamanya justru diprediksi menjadi terlalu panas.

Dengan kata lain, ancaman bukan semata-mata karena jumlah jamur bertambah, melainkan karena wilayah persebarannya bergeser menuju daerah yang sebelumnya relatif aman dari paparan jamur patogen.

Mengapa Jamur Lebih Sulit Dilawan

Infeksi jamur memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan infeksi bakteri.

Jika bakteri dapat diatasi dengan berbagai jenis antibiotik, pilihan obat antijamur jauh lebih terbatas. WHO mencatat bahwa saat ini hanya tersedia empat kelompok utama obat antijamur, sementara pengembangan obat baru berlangsung relatif lambat. Di sisi lain, resistensi terhadap obat terus meningkat.

Masalah lain adalah diagnosis. Gejala infeksi jamur sering kali menyerupai pneumonia, tuberkulosis, atau infeksi saluran pernapasan lainnya. Akibatnya, pasien kerap baru mendapatkan terapi setelah infeksi berkembang lebih berat.

WHO menilai kurangnya investasi dalam riset, diagnostik, dan pengembangan terapi menjadi salah satu alasan mengapa penyakit jamur masih sering terabaikan, meskipun dampaknya terhadap kesehatan masyarakat semakin besar.

Dampaknya Tidak Berhenti Pada Kesehatan

Ancaman jamur tidak hanya menyasar manusia.

Banyak spesies jamur merupakan penyebab utama penyakit tanaman yang menyerang jagung, gandum, kacang-kacangan, dan berbagai komoditas pangan lainnya. Sebagian bahkan menghasilkan mikotoksin, senyawa beracun yang dapat mencemari bahan pangan dan membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi.

Ketika perubahan iklim memperluas habitat jamur, risiko terhadap sektor pertanian pun ikut meningkat. Akibatnya, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.

Inilah sebabnya para ahli semakin sering menggunakan pendekatan One Health, yaitu memandang kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

Ancaman yang Masih Menyimpan Misteri

Para ilmuwan memperkirakan terdapat jutaan spesies jamur di Bumi, tetapi hanya sebagian kecil yang telah dipelajari secara mendalam. Pengetahuan mengenai bagaimana perubahan iklim memengaruhi evolusi, penyebaran, dan kemampuan infeksi jamur pun masih sangat terbatas.

Karena itu, para peneliti menilai dunia perlu memperkuat sistem surveilans penyakit jamur, meningkatkan kapasitas laboratorium, mempercepat pengembangan obat antijamur baru, dan memperluas penelitian mengenai hubungan antara perubahan iklim dengan penyakit infeksi.

Perubahan iklim ternyata bukan hanya soal cuaca yang semakin panas. Ia juga perlahan mengubah hubungan manusia dengan dunia mikroorganisme di sekitarnya.

Jamur mungkin tidak datang dengan ledakan besar seperti badai atau gempa bumi. Ia tidak terlihat, tidak bersuara, dan sering kali baru disadari ketika infeksi telah terjadi. Namun justru karena sifatnya yang senyap itulah, ancaman ini layak mendapat perhatian yang lebih besar di tengah dunia yang terus menghangat.***


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 72