Serial Pengetahuan Ekologis Tradisional Aceh
Dalam kehidupan masyarakat Aceh, alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup, tetapi juga menjadi penanda waktu. Perubahan angin, datangnya hujan, perilaku hewan, hingga pergerakan benda-benda langit diamati dan dibaca sebagai tanda untuk menentukan kapan manusia perlu bertindak. Pengetahuan semacam ini dikenal dalam sistem Keuneunong, sebuah pengetahuan lokal yang menghubungkan perhitungan waktu dengan tanda-tanda alam.
Dalam serial Pengetahuan Ekologis Aceh, Kalpatara melihat Keuneunong sebagai salah satu cara masyarakat Aceh memahami hubungan antara manusia dan lingkungannya. Jika pada seri sebelumnya Panglima Laot memperlihatkan bagaimana masyarakat mengatur ruang laut melalui adat, Keuneunong menunjukkan sisi lain dari pengetahuan ekologis: bagaimana masyarakat membaca waktu berdasarkan perubahan alam.
Apa Itu Keuneunong?
Keuneunong kerap disebut sebagai penanggalan atau kalender tradisional Aceh. Namun, pengertian tersebut belum sepenuhnya menggambarkan cara pengetahuan ini bekerja. Penelitian Surmaini dkk tentang kalender pertanian masyarakat Aceh dalam abstraknya menjelaskan Keuneunong sebagai model perhitungan yang menghubungkan indikator alam dengan kalender budidaya. Sistem ini membagi satu tahun ke dalam 12 periode yang masing-masing memiliki tanda-tanda alam tertentu dan digunakan sebagai acuan untuk menentukan waktu berbagai kegiatan.
Dalam praktiknya, Keuneunong membantu masyarakat membaca perubahan lingkungan untuk menentukan waktu membajak, menyemai, menanam, dan memanen. Pengetahuan tersebut juga disebut digunakan untuk menentukan waktu memancing dan berlayar. Dengan demikian, Keuneunong tidak hanya mencatat waktu, tetapi menghubungkan waktu dengan keputusan ekologis.
Logikanya sederhana, alam diamati, tanda-tandanya dikenali, perubahan musim diperkirakan, lalu keputusan diambil. Karena itu, Kalpatara menilai Keuneunong lebih tepat dipahami sebagai sistem pengetahuan ekologis berbasis waktu. Sistem ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam mengamati lingkungan dan mengenali pola perubahan alam yang berulang.
Astronomi Tradisional dalam Keuneunong
Salah satu dimensi penting dalam Keuneunong adalah hubungan antara penanggalan tradisional dengan pengamatan terhadap benda-benda langit. Penelitian Rahmalia mengenai Keuneunong dalam perspektif ilmu falak menjelaskan istilah keunong sebagai sesuatu yang “kena”, “mengenai”, “bertemu”, atau “menyentuh”. Penelitian tersebut menghubungkan sistem Keuneunong dengan pengamatan posisi bulan dan rasi bintang yang dalam tradisi Aceh dikenal sebagai Bintang Kala.
Sementara itu, dokumentasi Majelis Adat Aceh juga menempatkan pengamatan benda-benda langit dan pengetahuan perbintangan sebagai bagian dari cara masyarakat menentukan waktu dalam sistem Keuneunong.
Majelis Adat Aceh mencatat, salah satunya adalah Bintang Lhèe atau Bintang Tiga yang dikenal dalam astronomi sebagai Orion. Tingkat terang salah satu bintang dalam gugusan ini dipercaya menjadi penanda tahapan bercocok tanam. Ketika salah satu bintang tampak paling terang, masyarakat menandainya sebagai waktu untuk mulai menabur benih. Jika bintang yang berada di tengah tampak paling terang, saatnya bibit ditanam. Sementara itu, ketika bintang yang berada paling timur terlihat paling terang, masa tanam dianggap telah berakhir. Garis yang menghubungkan ketiga bintang tersebut juga digunakan sebagai penunjuk arah kiblat.

Selain Bintang Lhèe, masyarakat Aceh mengenal Bintang Zohra atau Venus, yang disebut pula Bintang Timu atau Bintang Kejora karena tampak terang di ufuk timur pada pagi hari dan di sebelah barat pada malam hari. Bintang ini juga dikenal dengan sebutan Bintang Rusa atau Bintang Pencuri, yang dikaitkan dengan waktu ketika rusa mulai keluar mencari makan dan lebih mudah terlihat.
Pengetahuan mengenai perbintangan pada masa lalu dimiliki oleh orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan membaca tanda-tanda langit. Dalam tradisi yang dicatat Majelis Adat Aceh, kain sutera bahkan disebut digunakan sebagai alat bantu untuk mengamati gugusan bintang agar tampak lebih jelas. Selain itu, masyarakat Aceh mengenal Bintang Takat sebagai salah satu penanda awal dalam perhitungan musim, serta Bintang Pari (Paroè) dan berbagai gugusan bintang lainnya.
Di antara penanda musim yang paling penting adalah Bintang Kala, yang merujuk pada rasi Scorpio. Gugusan ini disebut sebagai salah satu pedoman utama dalam mengatur perhitungan musim, sementara Bintang Tujoh atau Bintang Ureuèng Lee, yang dikenal sebagai Pleiades. Ada pula gugusan yang dikenal sebagai Puyoh Meulòt atau Puyuh Berantam, yang terdiri dari dua bintang di bagian ekor Scorpio yang tampak berhadapan dan seolah berlomba dalam memancarkan cahaya. Sementara itu, gugusan lain yang disebut Boih Glem atau Buah Glem dikenali berdasarkan bentuknya yang menyerupai ekor kalajengking.
|
Nama Bintang Bahasa Lokal |
Nama Bintang Astronomi Modern |
Fungsi |
|---|---|---|
|
Bintang Lhèe atau Bintang Tiga |
Sabuk Orion (Mintaka, Alnilam, Alnitak) |
Penanda Bercocok Tanam, Petunjuk Arah Kiblat |
|
Bintang Zohra/Bintang Timu/ Bintang Kejora/Bintang Rusa/ Bintang Pencuri |
Venus |
Penanda arah Timur di pagi hari, Penanda musim rusa mulai keluar mencari makan |
|
Bintang Takat |
Belum Diketahui |
|
|
Bintang Tujoh/Bintang Ureuèng Lee |
Pleiades |
Pedoman utama perhitungan musim |
|
Bintang Kala |
Scorpio |
Penanda Musim |
|
Puyoh Meulòt atau Puyuh Berantam, |
Dua bintang bagian ekor Scorpio |
|
|
Bintang Paro |
Ketika muncul di Timur, penanda datangnya Angin Barat |
Ragam pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa langit bagi masyarakat Aceh bukan sekadar bentang alam yang diamati, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengetahuan untuk membaca waktu, menentukan musim, dan mengatur aktivitas kehidupan.
Keuneunong tidak dapat direduksi menjadi sistem astronomi semata. Pengamatan langit merupakan salah satu bagian dari pengetahuan yang lebih luas. Masyarakat juga membaca perubahan cuaca, angin, perilaku hewan, dan gejala alam lainnya. Karena itu, langit menjadi salah satu pintu untuk membaca waktu, tetapi pengetahuan tersebut kemudian diuji dan diperkaya melalui pengalaman langsung terhadap lingkungan.
Menghitung Keuneunong
Antropolog UIN Ar-Raniry, Abdul Manan dalam penelitiannya tentang Keuneunong menjelaskan terdapat dua acuan kalender yang saling berhubungan: kalender Hijriah dan kalender Gregorian. Keduanya memiliki panjang bulan yang berbeda. Bulan Hijriah berlangsung sekitar 29–30 hari, sedangkan bulan Gregorian memiliki 30 atau 31 hari. Akibatnya, posisi bulan-bulan dalam kedua sistem kalender tersebut terus bergeser dari tahun ke tahun.
Menurut Manan, pergeseran ini membuat perhitungan Keuneunong memiliki hubungan dengan siklus waktu yang lebih panjang. Sekitar setiap 33 tahun, siklus tahun Gregorian dan Hijriah kembali berada pada posisi yang hampir bertepatan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa cara menghitung Keuneunong tidak dapat dianggap sama untuk seluruh wilayah Aceh. Manan secara eksplisit mengingatkan bahwa formula yang digunakan di wilayah penelitian di Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, tidak otomatis berlaku untuk dataran tinggi, Aceh bagian utara, atau pesisir timur. Perbedaan geografis dan orientasi wilayah—misalnya kawasan yang menghadap Samudra Hindia dibandingkan kawasan yang menghadap Selat Malaka—dapat memengaruhi pola musim dan penggunaannya.
Catatan ini penting. Keuneunong memang merupakan pengetahuan yang dikenal luas dalam masyarakat Aceh, tetapi penerapannya tetap memiliki konteks geografis.
Dalam penelitian Manan, dasar perhitungan Keuneunong dijelaskan melalui formula yang dirujuk dari Mahmud dkk (1977)
K = C – 2 x B
K = Keuneunong, C= nilai konstanta, B= bulan Gregorian
Contoh yang diberikan adalah:
K = 25 – 2 × 10 (Oktober)
K = 5
Dengan perhitungan tersebut, Keuneunong 5 dikaitkan dengan bulan Oktober. Dalam konteks masyarakat Blangporoh, periode ini berhubungan dengan datangnya musém timu, atau musim timur.
Darimana Nilai Konstansta 25
dalam Perhitungan Keuneunong?
Nilai Konstanta ditetapkan adalah 25. Didapatkan dari acuan hari sideris dan sinodis bulan, sebagai berikut:
12 bulan dalam perhitungan Qomariah = 354 hari,
Sideris bulan = 27,3 hari,
Sinodis bulan = 29,5 hari.
Lalu hari Qomariah dibagi dengan sideris bulan ditambah hari Qomariah dibagi sinodis bulan.
354/27,3 = 13
354/29,5 = 12
Jumlah keduanya: 13 + 12 = 25. Dijadikan Nilai Konstanta
Sumber: Rahmalia (2022)
Formula ini memperlihatkan bahwa Keuneunong memiliki logika perhitungan yang lebih terstruktur daripada sekadar pengamatan tanda alam secara spontan. Ada sistem matematis yang digunakan untuk menentukan periode, sementara hasil perhitungannya kemudian dihubungkan dengan kondisi musim, curah hujan, dan arah angin.
Dengan kata lain, Keuneunong bekerja pada dua lapis pengetahuan. Pertama, perhitungan waktu. Kedua, pembacaan kondisi alam. Keduanya kemudian bertemu dalam keputusan praktis.
Dari Perhitungan ke Tanda Alam
Perhitungan Keuneunong tidak berdiri sendiri. Setiap periode memiliki tanda-tanda alam dan perilaku hewan yang diamati masyarakat.
Dalam penelitian Manan, misalnya, Keuneunong 9 yang dimulai pada Agustus dikaitkan dengan munculnya bintang padé di sebelah timur, setelah Bintang Tujoh lebih dahulu terbit. Pada periode ini, kepiting darat yang disebut bing krungkhong mulai bergerak mencari tempat berlindung karena hujan lebat diperkirakan akan datang.
Tanda lain berasal dari pohon syafa dan perilaku ulat yang hidup di dalamnya. Ketika kepala ulat mengarah ke atas, masyarakat menganggap bahwa saat tersebut lebih aman untuk menabur benih padi. Sebaliknya, jika kepala ulat masih mengarah ke bawah, petani memilih menunda karena ada kekhawatiran tanaman padi kelak akan diserang ulat.
Di sini kita melihat bagaimana perhitungan Keuneunong bertemu dengan pengamatan ekologis. Angka dan kalender memberikan kerangka waktu, sementara alam memberikan tanda untuk membaca apakah kondisi tersebut benar-benar sesuai untuk melakukan aktivitas tertentu. Karena itu, Keuneunong tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan tentang lingkungan.
Dua Belas Keuneunong
Satu tahun dalam sistem Keuneunong dibaca melalui 12 periode. Masing-masing periode memiliki karakteristik tertentu yang berkaitan dengan perubahan alam dan aktivitas masyarakat. Karena itu, 12 Keuneunong bukan sekadar pembagian kalender menjadi dua belas bagian. Setiap bagian membawa informasi ekologis mengenai apa yang sedang terjadi di lingkungan.
Yang perlu diiingat adalah, menurut Rahmalia dan Manan, yang menjadi acuan dalam 12 periode ini adalah posisi bulan yang bergerak dari bintang Kala sampai kembali ke bintang Kala.

Untuk pembaca modern, sistem ini mungkin tampak seperti kalender. Namun bagi masyarakat yang menggunakannya, sistem ini bekerja lebih menyerupai kalender yang memiliki petunjuk tindakan. Pergantian periode bukan hanya menunjukkan bahwa waktu telah berlalu, tetapi memberi isyarat mengenai apa yang mungkin terjadi di alam dan apa yang sebaiknya dilakukan manusia.
Siapa yang Memegang Pengetahuan?
Meskipun Keuneunong merupakan pengetahuan yang hidup dalam komunitas, bukan berarti seluruh anggota masyarakat menguasainya dengan tingkat pemahaman yang sama.
Penelitian Rahmalia menunjukkan bahwa pengetahuan ini dikenal di kalangan petani dan digunakan untuk menentukan jadwal tanam serta pilihan tanaman. Namun, sebagian besar petani tidak memahami keseluruhan sistem Keuneunong dan menyerahkan interpretasinya kepada otoritas tertentu yang disebut Kejrun Blang.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pengetahuan ekologis memiliki struktur sosial. Ada pengetahuan yang dimiliki bersama, tetapi ada pula bagian tertentu yang ditafsirkan oleh orang-orang yang memiliki otoritas.
Hal ini menunjukkan pula bahwa penetapan waktu bagi komunitas dianggap sebagai sesuatu yang perlu validasi dan sakral. Dibutuhkan pemahaman yang lebih dari sekadar perhitungan, sehingga tidak bisa masing-masing orang menetapkan waktunya.
Namun pada sisi lain, penelitian tersebut juga menunjukkan persoalan dalam transmisi pengetahuan. Ketika pengetahuan terlalu bergantung pada otoritas tertentu, generasi berikutnya dapat kehilangan kesempatan untuk memahami proses dan logika yang berada di balik pengetahuan tersebut.
Di sinilah kita melihat bahwa keberlanjutan pengetahuan ekologis tidak hanya bergantung pada apakah pengetahuan itu masih digunakan, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan dan dipelajari.
Sebuah komunitas mungkin masih mengikuti kalender tradisional, tetapi jika semakin sedikit orang yang memahami cara membaca tanda-tanda alam yang menjadi dasar kalender tersebut, maka pengetahuan ekologis di baliknya perlahan dapat menghilang.
Keuneunong di Tengah Perubahan Iklim
Penggunaan Keuneunong sangat berkaitan dengan kondisi pertanian. Petani yang mengelola sawah dengan irigasi, misalnya, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi musim karena ketersediaan air dapat dikendalikan.
Sebaliknya, petani sawah tadah hujan masih harus menyesuaikan kegiatan mereka dengan musim dan cuaca. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan penggunaan Keuneunong tidak hanya berkaitan dengan perubahan generasi, tetapi juga dengan perubahan teknologi dan cara manusia mengelola lingkungan. Data terakhir menunjukkan, petani sudah tidak serentak melakukan penanaman seperti yang dipandu oleh Keuneunong.
Di tengah perubahan iklim, tantangannya menjadi semakin kompleks. Ketika pola hujan dan musim berubah, masyarakat menghadapi pertanyaan baru: apakah tanda-tanda alam yang dahulu digunakan masih dapat dipercaya? Apakah waktu yang selama ini dianggap tepat untuk menanam atau melaut masih sesuai dengan kondisi lingkungan yang sekarang?
Penelitian Rahmalia petunjuk yang menarik. Meskipun penggunaan Keuneunong tidak lagi merata dalam praktik kehidupan masyarakat, pola waktu angin yang tercermin dalam Keuneunong masih menunjukkan relevansi hingga 83% dengan kondisi angin yang diamati pada tahun 2021. Data ini diperoleh melalui perbandingan data arah angin dari BMKG.
Meskipun demikian, narasumber yang diwancarainya juga mengaku bahwa ada beberapa ketidakcocokan musim lagi sesuai penanda Keuneunong jika dibaca di masa iklim yang telah berubah ini.
Di sinilah Keuneunong menjadi menarik untuk dibaca kembali dalam konteks perubahan iklim. Pengetahuan tradisional tidak harus dipertahankan dengan cara membekukannya sebagai aturan yang tidak boleh berubah. Sebaliknya, ia dapat dipahami sebagai rekaman panjang pengamatan masyarakat terhadap lingkungan.
Jika pola angin yang dicatat dalam Keuneunong masih menunjukkan kesesuaian dengan kondisi masa kini, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Rahmalia, maka pengetahuan tersebut layak dipelajari kembali. Bukan untuk menggantikan pengamatan dan ilmu pengetahuan modern, tetapi untuk melihat apakah pengetahuan lokal dapat menjadi salah satu sumber informasi dalam memahami perubahan lingkungan.
Pada akhirnya, tantangan Keuneunong bukan hanya bagaimana mempertahankan sebuah sistem penanggalan tradisional, tetapi bagaimana menjaga kemampuan masyarakat untuk membaca alam. Sebab ketika iklim berubah, yang paling berharga dari sebuah pengetahuan ekologis mungkin bukan sekadar tanggal atau angka Keuneunongnya, melainkan kemampuan untuk mengenali hubungan antara angin, hujan, musim, langit, hewan, tumbuhan, dan keputusan manusia.***
kalpatara mempersembahkan
Serial Pengetahuan Ekologis Tradisional Aceh
Pengetahuan Ekologis Tradisional Aceh
Kalpatara menelusuri bagaimana masyarakat Aceh mengenali alam, memanfaatkan sumber daya, dan membangun keberlanjutan
Panglima Laot dan Tata Kelola Laut Aceh
Panglima Laot, bagian dari tata kelola masyarakat Aceh, menghubungkan pengetahuan lokal, hukum adat, penyelesaian konflik, dan relasi masyarakat dengan laut.
Keuneunong, Aceh Membaca Waktu dan Alam
Keuneunong adalah salah satu cara masyarakat Aceh memahami hubungan antara manusia dan lingkungannya. Perhitungan waktu dan penanda alam dibaca dalam khitmad.
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




