Serenada Sorgum

Di bentang khatulistiwa yang kaya cahaya dan musim, sorgum tumbuh tanpa banyak disebut. Ia hadir di ladang-ladang kecil, di tepi kebun, dan dalam ingatan pangan yang tidak selalu tercatat sebagai komoditas utama.

Sebelum beras menjadi pusat meja makan, sorgum adalah bagian dari keragaman serealia yang menghidupi wilayah-wilayah Nusantara. Kini, ketika perhatian kembali diarahkan pada pangan lokal, sorgum muncul bukan sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai penanda bahwa kekayaan hayati Indonesia selalu lebih beragam daripada yang selama ini kita rayakan.

Dikenal oleh Pemburu dan Peramu

Bukti arkeobotani menunjukkan bahwa sorgum telah dimanfaatkan manusia setidaknya sejak 8.000 tahun lalu. Temuan biji sorgum liar di situs Nabta Playa, Afrika Timur Laut, memperlihatkan bahwa tanaman ini menjadi bagian dari sistem pangan pemburu-peramu jauh sebelum mengalami domestikasi. Sorgum, dengan demikian, termasuk salah satu serealia paling awal yang dikenal manusia.

Migrasi manusia pada 5000 SM dan perdagangan yang semakin berkembang di era 1500-1000 SM menjadi jalan bagi sorgum tersebar hingga ke berbagai wilayah, terutama di Asia.

Peta penyebaran Sorgum dari Afrika. Sumber: Krystyna Wasylikowa and Jeff Dahlberg, “Sorghum in the Economy of the Early Neolithic Nomadic Tribes at Nabta Playa, Southern Egypt,” in The Exploitation of Plant Resources in Ancient Africa (Springer US, 1999),

Jejak Sorgum dalam Relief Candi

Jejak sorgum di Nusantara bahkan dapat ditelusuri hingga lanskap budaya Jawa kuno. Sejumlah peneliti dan sejarawan pertanian mencatat bahwa bentuk bulir yang menyerupai sorgum muncul dalam relief Candi Borobudur, berdampingan dengan penggambaran aktivitas bercocok tanam dan kehidupan agraris abad ke-8.

Meski tafsir atas relief tidak pernah tunggal, kehadiran tanaman serealia nonpadi dalam visual budaya tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa masa itu mengenal dan memanfaatkan beragam sumber pangan. Dalam tradisi lisan dan penamaan lokal, sorgum dikenal sebagai jali atau cantel, tanaman yang tumbuh di tegalan, ladang kering, dan kebun campur, menyatu dengan sistem pangan yang lebih beragam dibandingkan narasi pangan tunggal yang berkembang kemudian.

Sorgum di Masa Kolonial

Di abad 17, sorgum hadir dalam pengamatan seorang naturalis Georgius Everhardus Rumphius, ilmuwan kelahiran Jerman yang bekerja untuk VOC dan menetap lama di Ambon. Ia mencatat berbagai tumbuhan Nusantara dalam karyanya yang monumental, Herbarium Amboinense. Dalam karya itu, Rumphius tidak hanya mendeskripsikan tanaman rempah yang bernilai dagang, tetapi juga tanaman pangan yang tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat lokal.

Di antara catatannya, Rumphius menyinggung serealia nonpadi yang tumbuh di ladang dan kebun penduduk, termasuk tanaman yang kini dikenali sebagai sorgum. Ia mencatat keberadaannya sebagai tanaman yang dikenal masyarakat, memiliki sebutan lokal, dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai tanaman asing, melainkan bagian dari lanskap pangan setempat.

Dalam Herbarium Amboinense, Rumphius mencatat keberadaan serealia ladang yang ditanam masyarakat di wilayah Nusantara, lengkap dengan deskripsi bentuk bulir dan kegunaannya sebagai pangan. Meski belum disebut dengan nomenklatur botani modern, deskripsi tersebut oleh peneliti kemudian dibaca sebagai sorgum atau kerabat dekatnya. Catatan ini menunjukkan bahwa tanaman serealia nonpadi telah menjadi bagian dari pengetahuan dan praktik pangan lokal sejak setidaknya abad ke-17.

Rumphius, Herbarium Amboinense, Vol. V–VI

Catatan ini penting, karena menunjukkan bahwa sorgum telah dikenal dan tumbuh di Nusantara setidaknya sejak abad ke-17, jauh sebelum upaya introduksi dan standardisasi pertanian kolonial dilakukan secara intensif.

Pengamatan Rumphius menempatkan sorgum dalam posisi yang berbeda dari narasi “tanaman introduksi”. Sorgum hadir sebagai tanaman yang telah beradaptasi dengan lingkungan tropis dan masuk dalam pengetahuan lokal, meskipun tidak pernah menjadi komoditas utama. Baru pada abad-abad berikutnya, ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengembangkan kebun percobaan dan stasiun riset pertanian, sorgum diperlakukan sebagai objek uji yang diklasifikasikan, diukur, dan dipindahkan ke dalam logika produksi kolonial.

Tanaman ini dipelajari bukan terutama sebagai pangan utama masyarakat, melainkan sebagai bagian dari upaya diversifikasi komoditas yang dapat menunjang kebutuhan kolonial, mulai dari pakan ternak hingga bahan baku industri. Dari ruang-ruang percobaan inilah sorgum kemudian menyebar secara terbatas ke ladang-ladang petani, berbaur dengan sistem pertanian lokal yang sudah lebih dahulu mengenal berbagai jenis serealia.

Dengan demikian, sejarah sorgum di Indonesia tidak bergerak satu arah dari luar ke dalam. Ia berlapis: hadir dalam pengetahuan lokal yang dicatat Rumphius, lalu masuk ke fase eksperimen kolonial, sebelum akhirnya tersisih oleh sistem pangan yang semakin memusatkan perhatian pada beras. Sorgum, seperti banyak tanaman lain di khatulistiwa, lebih dulu hidup sebagai praktik, sebelum diperlakukan sebagai komoditas.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42