Di bawah rindangnya pohon sawo atau asam, anak-anak pada masa lalu sering memungut biji-biji yang berserakan di tanah. Biji-biji itu tidak dibuang, melainkan dibawa pulang untuk dimainkan di atas papan kayu berlubang yang dikenal sebagai congklak.
Bagi banyak orang, permainan ini hanyalah hiburan masa kecil. Namun jika ditelusuri lebih jauh, congklak sesungguhnya menyimpan jejak hubungan manusia dengan alam yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Berbeda dengan banyak permainan modern yang bergantung pada plastik dan perangkat elektronik, congklak lahir dari pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di sekitar masyarakat. Hampir seluruh komponennya berasal dari alam, mulai dari papan kayu hingga biji-bijian sebagai alat bermain. Kesederhanaan inilah yang menjadikan congklak dekat dengan prinsip konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Congklak Memiliki Banyak Nama di Nusantara
Indonesia mengenal permainan ini dengan beragam nama yang mencerminkan kekayaan budaya lokal. Di Jawa, congklak lebih dikenal sebagai dakon, dhakon, atau dhakonan. Masyarakat Melayu di Sumatra, Kepulauan Riau, Kalimantan, hingga Malaysia menyebutnya congkak. Di Sulawesi Selatan dikenal nama manggaleceng atau aggalacang, sementara di Lampung permainan serupa memiliki penyebutan dentuman lamban.

Keberagaman nama tersebut menunjukkan bahwa congklak adalah bagian dari tradisi masyarakat Nusantara yang berkembang mengikuti kondisi lingkungan dan budaya masing-masing. Bahkan secara global, permainan ini termasuk dalam keluarga permainan kuno mancala, yang ditemukan di berbagai wilayah Afrika, Timur Tengah, hingga Asia.
Menariknya, meskipun nama dan bentuk papannya berbeda, bahan yang digunakan hampir selalu memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar.
Biji-Bijian Menjadi Jembatan Mengenal Keanekaragaman Hayati
Salah satu ciri khas congklak adalah penggunaan biji-bijian sebagai alat bermain. Di berbagai daerah, masyarakat menggunakan biji sawo (Manilkara zapota), biji asam jawa (Tamarindus indica), biji saga (Adenanthera pavonina), biji tanjung (Mimusops elengi), kemiri (Aleurites moluccanus), hingga cangkang kerang kecil.

Pilihan bahan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan yang memang tumbuh di sekitar mereka. Dengan demikian, setiap daerah memiliki karakteristik congklak yang berbeda sesuai dengan potensi keanekaragaman hayatinya.
Bagi anak-anak, pengalaman memegang, menghitung, dan memainkan biji-bijian menjadi proses belajar yang alami. Mereka mengenali bentuk, ukuran, tekstur, bahkan asal tumbuhan dari biji yang digunakan. Tanpa disadari, permainan ini memperkenalkan konsep biodiversitas melalui pengalaman langsung, bukan melalui buku pelajaran.
Dalam perspektif pendidikan lingkungan, proses ini sangat penting. Anak yang mengenal nama pohon dan manfaatnya cenderung memiliki kedekatan emosional dengan alam dibandingkan anak yang hanya melihat gambar di layar.
Prinsip Konservasi dalam Permainan Tradisional
Nilai konservasi dalam congklak bukan hanya terletak pada bahan yang digunakan, tetapi juga pada cara masyarakat memperolehnya.
Biji congklak umumnya dikumpulkan dari buah yang telah matang atau jatuh ke tanah. Artinya, masyarakat memanfaatkan hasil alam tanpa harus menebang pohon atau merusak habitatnya. Prinsip ini sejalan dengan konsep pemanfaatan berkelanjutan (sustainable use) dalam konservasi, yakni memanfaatkan sumber daya alam tanpa mengurangi kemampuan alam untuk terus menyediakan sumber daya tersebut di masa depan.

Hal yang sama terlihat pada papan congklak tradisional. Papan dibuat dari kayu yang digunakan dalam waktu sangat lama, bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak ada budaya konsumsi sekali pakai sebagaimana banyak ditemukan pada mainan modern.
Cara hidup seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat tradisional telah menerapkan praktik yang kini dikenal sebagai ekonomi sirkular: menggunakan sumber daya secara efisien, memperpanjang umur pakai barang, dan meminimalkan limbah.***
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




