Pakat bakar adalah salah satu kuliner tradisional khas Mandailing-Sumatera Utara yang tergolong unik Makanan ini terbuat dari rotan muda yang dibakar, lalu dikupas dan diambil bagian dalamnya untuk dikonsumsi. Meski terdengar ekstrem, pakat bakar justru menjadi hidangan favorit terutama saat bulan Ramadan.
Menurut cerita tradisi yang berkembang di masyarakat Mandailing, pakkat awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh para pekerja adat saat mencari makanan di hutan pada masa kolonial. Mereka menemukan rotan dengan pucuk yang lembut, lalu memasaknya sehingga menjadi makanan yang layak disantap.
Cara Pengolahan dan Penyajian
PENGOLAHAN
Pembakaran: Pakkat dibakar di atas bara api (sering menggunakan batok kelapa) hingga matang dan lunak (sekitar 15-30 menit).
Pengupasan: Setelah matang, kulit luar yang hangus dibuang/dikupas menggunakan pisau untuk mengambil bagian dalam yang berwarna putih.
PENYAJIAN
Sebagai Lalapan: Daging pakkat yang sudah bersih dipotong-potong atau disajikan utuh bersama sambal tuk-tuk (campuran cabe, bawang, dan andaliman).
Sebagai Menu Pendamping: Pakkat bakar sering disajikan sebagai lalapan untuk menemani makan ikan mas arsik atau ikan jurung.
Penyajian Lain: Selain dibakar, pakkat yang sudah dikupas bisa direbus dan disajikan dengan bumbu campuran cabe, bawang, garam, dan jeruk nipis.

Kandungan Gizi dan Potensi Manfaat Rotan Muda
Penelitian Nasria, Andi Tanra Tellu, dan Musdalifah Nurdin dari Universitas Tadulako, Sulawesi Utara menunjukkan rotan muda memiliki kandungan lemak sebesar 0,3% setiap 100 gram BDD. Berdasarkan anjuran WHO yang merekomendasikan bahwa asupan lemak tidak lebih dari 30% dari asupan total energi per hari. Selain itu, tingginya nilai karbohidrat dalam rotan muda, membuat panganan ini dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat harian.
Berdasarkan data Kemenkes RI (TKPI), setiap 100 gram rotan muda dalam bentuk sayur mengandung 5,7 kkal energi, 5,40 g protein, 2,60 g lemak, dan 3,10 g karbohidrat. Sementara itu, zat gizi unggulan dari tanaman ini adalah tembaga yang nilainya 25%, vitamin B1 dengan nilai 20% dan fosfor sebesar 20%
Walaupun ada indikasi kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif, belum ada bukti klinis kuat yang menyatakan konsumsi pakkat secara langsung dapat menyembuhkan atau mencegah penyakit tertentu. Penelitian yang ada masih bersifat awal dan terbatas pada analisis laboratorium.
Yang terpenting adalah makanan tradisional ini baik adanya untuk dikonsumsi dalam jumlah tertentu dan pengolahan yang tepat.***




