Serenada Sorgum

Peta Jalan Sorgum 2022-2024

Pada periode 2022–2024, pemerintah menyusun sebuah peta jalan pengembangan sorgum yang menempatkan tanaman ini sebagai salah satu opsi pangan alternatif di tengah ketergantungan yang tinggi pada beras dan gandum.

Dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia yang dikeluarkan pada 4 Agustus 2022, menyampaikan peta jalan sorgum meliputi sasaran luas tanam pada tahun 2023 seluas 30.000 ha yang tersebar di 17 provinsi dengan produksi sebesar 115.848 ton (asumsi provitas 4 ton/ha). Sementara itu, sasaran luas tanam pada tahun 2024 seluas 40.000 ha yang tersebar di 17 provinsi dengan produksi sebesar 154.464 ton (asumsi provitas 4 ton/ha).

Roadmap tersebut merumuskan sorgum bukan semata sebagai bahan pangan, tetapi sebagai tanaman multifungsi: untuk pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Dalam dokumen perencanaan, sorgum dipandang lentur terhadap kondisi lingkungan Indonesia, terutama di wilayah dengan lahan kering dan curah hujan yang tidak menentu. Pendekatan yang dipilih bersifat bertahap, dimulai dari penyediaan benih, pengembangan demplot, hingga uji coba pengolahan dan konsumsi.

Peta langkah dan harapan Sorgum

Namun di lapangan, periode 2022–2024 lebih banyak diisi oleh eksperimen terbatas dan proyek percontohan. Sorgum kembali ditanam, diuji, dan diperkenalkan, sering kali di wilayah yang sejak lama sebenarnya telah mengenalnya. Di titik ini, roadmap lebih berfungsi sebagai pengakuan formal atas tanaman yang telah lama berada di pinggiran, ketimbang sebagai lompatan besar dalam sistem pangan nasional.

Berakhirnya periode roadmap tersebut tidak serta-merta mengubah posisi sorgum. Ia tetap bergerak perlahan, mengikuti irama ladang, pengetahuan petani, dan pasar yang belum sepenuhnya terbentuk. Dalam konteks ini, peta jalan 2022–2024 dapat dibaca sebagai satu episode dalam perjalanan panjang sorgum di Nusantara: sebuah upaya untuk kembali menyebut dan memetakan tanaman lama, di tengah kesadaran bahwa kekayaan pangan khatulistiwa tidak pernah benar-benar tunggal.

Panen Besar Sorgum di 2025

Memasuki 2025, posisi sorgum bergerak dalam lanskap kebijakan pangan yang lebih luas dan diformulasikan ulang. Alih-alih berdiri sebagai fokus tersendiri dalam sebuah peta jalan, sorgum kini menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk menguatkan ketahanan pangan melalui diversifikasi konsumsi lokal. Melalui Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, sorgum menjadi salah satu pangan lokal yang masuk dalam strategi hilirisasi.

Badan Pangan Nasional (Bapanas), lembaga yang membingkai agenda pangan nasional, mendorong gagasan agar pangan lokal menjadi salah satu tiang utama ketahanan pangan. Mandat ini sejalan dengan Peraturan Presiden yang mempercepat diversifikasi konsumsi berdasarkan potensi sumber daya lokal, termasuk sorgum, sagu, jagung, singkong, dan sukun sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Menurut Kepala Bapanas, memaksimalkan pangan lokal bukan hanya menjawab tantangan ketersediaan pangan, tetapi juga bagian dari transformasi ekosistem pangan nasional yang lebih beragam dan berkelanjutan. Di Bandung, misalnya, kegiatan panen dan pengolahan pasca panen sorgum di Sorghum Center Indonesia-SEIN Farm menjadi contoh nyata bagaimana tanaman ini hadir dalam praktik lapangan, di luar dokumen kebijakan.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42