Pada 15 Maret 2025, panen perdana sorgum dilaksanakan di kawasan Perhutanan Sosial di Karawang, Jawa Barat, sebagai bagian dari kegiatan kelompok tani hutan PKTHMTB. Aktivitas ini dihadiri oleh pejabat dari berbagai organisasi tani dan kementerian, dan mencerminkan bagaimana tanaman ini mulai dipandang sebagai komoditas yang beragam manfaatnya—dari bahan pangan hingga pakan ternak dan olahan lain yang potensial.
Di Bandung, juga di pertengahan 2025, panen raya sorgum berlangsung di perkebunan percontohan National Sorghum Development Center atau Sein Farm. Kegiatan ini melibatkan Kementerian Pertanian bersama sejumlah mitra lokal seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Sorgum Center Indonesia, serta Universitas Pasundan. Dari panen itu dihasilkan sekitar tiga ton sorgum basah dan 1,5 ton sorgum kering, menandai hasil konkret dari upaya pembudidayaan sorgum di Indonesia. Sebagai respons atas hasil tersebut, pemerintah merencanakan pembukaan 5.000 hektare lahan tambahan untuk penanaman sorgum di seluruh Indonesia pada tahun 2026.
Sumber Foto: IG @deputipkkpPada akhir 2025, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyelenggarakan kegiatan B2SA Goes to School, sebuah program edukasi pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) berbasis sorgum bagi pelajar sekolah dasar dan menengah di Bandung. Dalam kegiatan ini, ratusan siswa dikenalkan pada pangan alternatif seperti sorgum sebagai salah satu pilihan sehat dan bergizi, dengan harapan menanamkan kesadaran konsumsi pangan lebih beragam sejak dini.
Dendang Serenada Sorgum Sudah Sampai Dimana?
Bapanas memberi ruang bagi tanaman-tanaman lokal untuk dibicarakan dan diuji, tetapi arah implementasinya tetap bergantung pada inisiatif daerah dan komunitas. Banyak hal yang belum jelas: bagaimana pasar merespons, bagaimana nilai tambah dihilir dikembangkan, dan sejauh mana konsumsi lokal benar-benar berubah di tingkat rumah tangga. Ketergantungan terhadap beras masih belum bergeser.
Dengan demikian, tahun 2025 tampak menjadi masa di mana sorgum ikut memasuki kerangka baru kebijakan pangan Indonesia, sebagai bagian dari gagasan pangan lokal yang beragam dan berakar kuat pada potensi wilayah. Namun masa depan nyata sorgum tetap bergantung pada bagaimana kebijakan ini diinterpretasikan dan diimplementasikan di lapangan, dan apakah tanaman ini akan menemukan kembali perannya dalam sistem pangan komunitas, bukan sekadar daftar potensi dalam dokumen perencanaan.
Di tahun ini, ketika potensi sorgum kembali terbaca dalam peta kebijakan dan praktik lapangan, isu diversifikasi pangan lokal menemukan momentumnya sendiri. Bukan sebagai agenda yang dipaksakan, melainkan sebagai kemungkinan yang tumbuh dari lanskap, pengetahuan petani, dan kebiasaan makan yang pelan-pelan berubah. Menjelang 2026, sorgum menyimpan peluang untuk hidup sebagai pangan komunitas, ditanam di kebun-kebun kecil, diolah dalam skala lokal, dan hadir sebagai bagian dari keberagaman pangan yang selama ini tersembunyi di balik dominasi beras.
Jika ruang ini terus dijaga, sorgum tidak perlu menjadi solusi tunggal. Cukup menjadi salah satu suara dalam orkestrasi pangan Nusantara yang lebih beragam, berakar, dan selaras dengan alamnya sendiri..***
Baca juga: Manfaat Sorgum: Dari Pangan Hingga Bahan Bakar Alternatif




