Nama Langkir diambil dari nama Raden Langkir, anak Dewi Sinta dan Prabu Watugunung yang kesebelas. Kelahiran Wuku Langkir ada di bawah naungan Batara Kala.
Dalam kisah pewayangan, Batara Kala, putera Batara Guru. Batara Kala ditempatkan sebagai penguasa waktu. Kata “kala” dalam bahasa Sankskerta artinya waktu.
Batara Kala sering disimbolkan sebagai raksasa dengan wajah menyeramkan. Dikisahkan, Batara Kala dilahirkan dari persenggamaan yang tak terelakkan dari Dewi Uma dan Batara Guru di tempat yang bukan seharusnya, yaitu di atas Andini, lembu suci.
Setelah sadar, energi kemarahan Batara Guru ikut membentuk tubuh Batara Kala seperti raksasa dan karakternya yang suka memangsa manusia. Karena itulah, cikal bakal upacara ruwat dilakukan, agar tidak dimangsa oleh Batara Kala.
Karakter kelahiran Wuku Langkir mengikuti batara pelindungnya. Ia adalah seorang pemberani dan ditakuti oleh banyak orang. Dengan keberanian yang tinggi, tindakannya kadang nekad.
Ia tak ingin disaingi. Rasa iri hatinya besar, sehingga perbawanya yang menakutkan bukan untuk melindungi, tapi bisa melibas siapa saja. Jangan berharap ia bisa diajak berdamai atau bicara baik-baik. Kesopanan bukan menjadi pilihannya. Energi marahnya besar, sehingga bisa berimbas pada siapapun yang berada di dekatnya. Jadi, berhati-hatilah jika di dekatnya.
Dalam Kitab Pawukon, terdapat berbagai simbol yang merupakan gambaran dari katakter kelahiran Wuku Langkir. Pohonnya disimbolkan dengan pohon cemara yang menumpang pada pohon ingas. Hal ini menggambarkan temperamennya yang tinggi, sehingga tidak baik berdekatan dengannya.
Disimbolkan pula dengan burung puyuh yang memiliki karakter tidak takut pada siapapun. Gambar burung ini diletakkan di depan Raden Langkir yang sedang menghadap Batara Kala. Hal ini menandakan begitu bertemu dengan kelahiran Wuku Langkir, maka karakter pemberaninya yang langsung terlihat.
Pada penanggalan Bali, terdapat hari suci di masa Wuku Langkir. Hari suci yang terkait dengan Wuku Langkir adalah Buda Wage Langkir atau Buda Cemeng Langkir, dirayakan setiap 210 hari sekali (setiap enam bulan) saat bertemu saptawara Buda (Rabu), pancawara Wage (Wage). diperingati sebagai pemujaan pada Bhatara Rambut Sedana untuk kemakmuran dan mengendalikan hawa nafsu, sering bertepatan dengan Tilem Sasih Karo (bulan mati bulan kedua).
Menurut lontar Sundarigama, naskah suci yang menjadi pedoman umat Hindu Bali, Buda Wage Langkir memiliki makna mendalam. Dalam teks tersebut disebutkan:
“Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, betari manik galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala. Baca Artikel kabarportal, “Memahami Buda Wage Langkir, Ini Persembahan dan Maknya”
Lontar Sundarigama
Esensi dari Buda Cemeng Langkir adalah mewujudkan kesucian pikiran dengan memutus sifat-sifat duniawi yang penuh nafsu. Bhatari Manik Galih, yang melambangkan inti kehidupan spiritual, mengajarkan umat untuk menurunkan Sang Hyang Omkara Amrta, yaitu esensi kehidupan yang suci, di luar lingkup dunia material.
Keris yang cocok untuk kelahiran Wuku Langkir adalah Keris yang Cocok: Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.***