Bangga jadi Bangsa Tempe

Di banyak meja makan Indonesia, tempe hadir dalam beragam menu sehari-hari. Digoreng sederhana, ditumis cepat, dibacem manis, atau diiris tipis menjadi mendoan. Harganya murah, bentuknya bersahaja, dan aromanya begitu akrab. Karena terlalu dekat, tempe kerap dianggap biasa. Padahal, di balik kesederhanaannya, tempe menyimpan sejarah panjang, pengetahuan mikrobiologi tingkat tinggi, dan peran ekonomi yang menopang jutaan orang. Tempe bukan sekadar lauk; ia adalah identitas.

Di dunia kuliner global, bangsa-bangsa memiliki makanan simbolik: keju bagi Eropa, kimchi bagi Korea, miso bagi Jepang. Indonesia memiliki tempe. Dan tidak berlebihan bila kita mengatakan: tempe adalah salah satu sumbangan terbesar Nusantara bagi peradaban pangan dunia.

Jejak Awal dari Serat Centhini

Tempe bukan makanan impor, bukan pula hasil adopsi dari kebudayaan lain. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe adalah produk budaya asli Jawa yang kemudian menjadi milik Indonesia.

Jejak tertulis paling sering dirujuk berasal dari Serat Centhini, sebuah karya sastra monumental Jawa yang disusun sekitar tahun 1815 pada masa Sunan Pakubuwana V. Dalam naskah ini, tempe disebut secara eksplisit sebagai bagian dari makanan sehari-hari masyarakat. Serat Centhini memang ditulis pada awal abad ke-19, tetapi para sejarawan sepakat bahwa isinya merekam tradisi yang jauh lebih tua, kemungkinan berasal dari abad ke-16 atau bahkan sebelumnya, pada masa Mataram Islam.

Penting dicatat: penyebutan tempe dalam Serat Centhini bukan sebagai makanan istimewa atau ritual, melainkan sebagai bagian dari keseharian. Ini menunjukkan bahwa pada saat naskah itu ditulis, tempe sudah mapan, dikenal luas, dan menjadi bagian dari sistem pangan rakyat.

Tidak ada naskah kuno dari Cina, Jepang, Korea, atau India yang menyebut makanan bernama “tempe” atau produk fermentasi kacang dengan bentuk dan karakteristik yang sama. Fermentasi memang dikenal luas di Asia, tetapi teknologi fermentasi tempe dengan mengikat biji kedelai utuh dengan miselium kapang hingga menjadi satu kesatuan padat adalah inovasi khas Jawa.

Tempe Goes International

Dunia internasional baru “menemukan” tempe jauh setelah masyarakat Jawa mengolahnya selama berabad-abad. Referensi tertulis pertama dari kalangan Eropa muncul pada tahun 1875, ketika istilah tempe masuk ke dalam Javaansch–Nederduitsch Handwoordenboek (Kamus Jawa–Belanda). Di sana, tempe didefinisikan sebagai makanan dari kedelai yang difermentasi dan biasa digoreng atau dimasak sebagai lauk.

Tak lama kemudian, minat ilmiah mulai tumbuh. Pada akhir abad ke-19, ilmuwan Belanda seperti H.C. Prinsen Geerlings meneliti proses pembuatan tempe dan mengidentifikasi mikroorganisme yang berperan dalam fermentasinya. Dari sinilah dunia sains mulai mengenal Rhizopus, jamur yang kelak menjadi ikon fermentasi tempe.

Bagi ilmu pengetahuan modern, tempe adalah objek baru. Bagi orang Jawa, tempe hanyalah bagian dari dapur.

Sekitar tahun 1946, produksi tempe skala kecil mulai muncul di Belanda, kemudian menyebar ke Jerman dan negara Eropa lainnya.

Di Amerika Serikat, tempe dikenal sejak 1960-an, terutama di kalangan komunitas vegetarian dan pencinta makanan alami. Sejak saat itu, istilah “tempeh” (ejaan Barat dari tempe) masuk ke dalam kamus kuliner global.

Jepang bahkan mulai meneliti tempe sejak tahun 1926, meskipun komersialisasinya baru berkembang beberapa dekade kemudian. Ironisnya, di luar negeri tempe sering diposisikan sebagai “superfood”, sementara di negeri asalnya ia masih kerap dipandang sebagai makanan kelas bawah.

Menu tempe dijadikan salah satu alternatif sajian vegan sehat dengan memadukan resep klasik di Perancis. Resep ini mengadaptasi coq au vin (stew ayam anggur klasik Prancis) menjadi hidangan mewah dengan menempatkan tempe sebagai sumber protein utama. Tempe direbus perlahan dalam saus anggur port yang pekat bersama jamur dan sayuran panggang untuk membangun rasa yang dalam dan kompleks. Dipadukan dengan purée parsnip yang lembut, hidangan ini tampil sebagai hidangan utama yang menghadirkan keseimbangan antara tekstur tempe yang kenyal dan saus berlapis rasa yang kaya.

Sumber: https://www.veggievibesandvines.com/

Di tahun 2025, ketika tren vegetarian semakin meningkat bersama dengan kesadaran tingginya jejak karbon yang dihasilkan oleh produsen pangan daging, tempe semakin diminati di Inggris. Tiba Tempe, produsen tempe terbesar di Inggris, menurut data dari NIQ, mencatat peningkatan nilai penjualan ritel sebesar 736 persen dalam satu tahun terakhir, dengan kontribusi penjualan mencapai £1,2 juta, meskipun secara umum kategori produk bebas daging mengalami penurunan.

Liputan National Geographic Traveller (UK) bertajuk On Indonesia Islands, Tempeh is a King mencatat perubahan cara pandang terhadap tempe di dapur profesional. Di Lombok, sejumlah chef dari hotel dan resor internasional mulai menempatkan tempe sebagai bintang utama dalam menu, bukan lagi sekadar pengganti daging atau lauk pendamping. Di tangan para chef ini, tempe diolah dengan teknik modern: dipanggang, diasap, hingga dipadukan dengan bumbu lokal dan presentasi fine dining, tanpa kehilangan karakter alaminya.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42