Bangga jadi Bangsa Tempe

Tantangan di Balik Kebanggaan

Namun, kebanggaan ini tidak tanpa ironi. Sebagian besar kedelai yang digunakan untuk produksi tempe di Indonesia masih berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat. Ketergantungan ini membuat perajin tempe rentan terhadap fluktuasi harga global. Hasil Survei Ubinan 2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata produktivitas kedelai nasional sebesar 16,23 kuintal per hektare atau sekitar 1,623 ton per hektare. Tercatat, produksi kedelai dalam negeri berkisar 200-350 ribu ton atau baru memenuhi 10 persen dari kebutuhan. Data ini diperkuat oleh pernyataan Sekjen DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Abdul Kadir Karding, “Kebutuhan nasional mencapai 2,8 juta hingga 3 juta ton. Artinya, sekitar 82% sampai 90% kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.”

Akibatnya, Indonesia masih mengandalkan kedelai dari pasar internasional, sementara upaya peningkatan produksi lokal membutuhkan investasi besar dalam teknologi pertanian, benih unggul, dan pembenahan sistem produksi agar bisa mengurangi ketergantungan ini. Petani kedelai lokal kerap kesulitan bersaing dari segi harga dan volume.

Di sinilah paradoks itu muncul: bangsa tempe yang belum sepenuhnya berdaulat atas bahan baku tempenya sendiri.

Menuju Pengakuan Dunia

Di balik tantangan, upaya menjadikan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukan sekadar soal prestise. Ini adalah pengakuan bahwa tempe bukan hanya produk pangan, melainkan warisan pengetahuan, praktik sosial, dan budaya yang hidup.

Pengakuan ini penting bukan untuk mengklaim, melainkan untuk melindungi agar tempe tidak terlepas dari akar budayanya dan agar nilai-nilai di baliknya tetap dihargai.

Tempe adalah cermin perjalanan bangsa Indonesia: lahir dari keterbatasan, bertahan lewat kreativitas, dan kini diakui dunia karena keunggulannya. Tempe mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu datang dari yang mewah, dan bahwa pengetahuan lokal bisa berdiri sejajar dengan sains modern.

Maka, ketika kita menggoreng tempe di dapur rumah, sesungguhnya kita sedang menyentuh sejarah berabad-abad, ilmu mikrobiologi, dan kerja keras jutaan tangan.

Dan di sanalah alasan kita pantas berkata:
bangga jadi bangsa tempe.

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42