Nikmatnya Nasi Liwet Jawa dan Sunda Punya Citarasa Yang Berbeda

Penulis: Reza Fahlevi

Nikmatnya Nasi Liwet siapa bisa terlewat. Rasanya yang gurih dan nikmat serta aroma nasi yang khas. Liwet adalah sebutan cara memasak nasi tanpa ditanak. Beras yang telah dicucibersih langsung dimasak menggunakan alat khusus yang disebut kastrol.

Nasi liwet memiliki ciri khas menghasilkan kerak nasi dibagian paling bawah membentuk kastrol. Kerak nasi liwet tersebut diolah menjadi kerupuk kerak. Nasi liwet dan kerak nasi menjadi pangan lokal khas kota Solo. Meski demikian nasi liwet juga ada di Jawa Barat. Berbeda dengan nasi liwet di Jawa, suku Sunda memasak kerak nasi tanpa areh atau santan kelapa kental. Aroma dan rasa nikmat nasi liwet sunda berasal dari bumbu rempah seperti bawang merah, batang serai, daun salam hingga campuran ikan asin peda merah atau teri yang dimasak bersamaan dengan berasnya.

Selain bahan dasar pembuatannya, nasi liwet Jawa dan nasi Liwet Sunda juga memiliki ragam tema nasi yang berbeda. Bila di Jawa nasi Liwet ditemani sayur labu siam dan telur. Maka di masyarakat sunda nasi liwet biasa disajikan dengan lauk kering seperti telur, tahu, tempe, ayam goreng, ikan asin, lalab mentah dan sambal terasi.

Sebagai kuliner tradisional khas nusantara, nasi liwet memiliki makna filosofi mendalam bagi masyarakat Indonesia. Nasi liwet tidak pernah berwarna seperti halnya nasi goreng atau nasi tumpeng. Nasi liwet berwarna putih yang melambangkan kesucian dan kemurnian serta prasangka baik. Nasi liwet juga merupakan gambaran sifat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Indonesia karena kerap disantap bersama-sama. Sementara sajian nasi liwet yang khas menggunakan daun pisang juga memiliki makna kesederhanaan dalam menjalani hidup.

Asal Usul Nasi Liwet

Asal usul nasi liwet telah tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini tahun 1819 M. Dikutip dari Indonesiakaya.com Serat Centini merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru yang juga sering disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga yang ditulis pada 1814 – 1823 M.

Tak hanya berisikan sejarah masyarakat Jawa dan adat istiadatnya. Serat Centini juga memuat berbagai informasi tentang ilmu pendidikan, arsitektur, ilmu alam, filsafat, agama, termasuk makanan. Sejarah menarik juga mengiringi cerita panjang lahirnya nasi liwet dari makanan rumahan akibat gempa besar hingga menjadi makanan kesukaan keraton Surakarta.

Dikutip dari berbagai sumber disebutkan nasi liwet telah dikenal sejak 1582 M saat Kerajaan Mataram Islam berdiri. Ketika itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW menyukai nasi samin . Nasi Samin merupakan nasi yang salah satu bahannya adalah minyak samin (lemak susu sapi).

Kemudian di masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana ke IX ( 1861-1893) nasi liwet disajikan pada acara-acara besar di keraton, misalnya saat Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Sebagai bentuk rasa cinta dan syukur atas kelahiran sang nabi maka setiap hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, masyarakat Jawa merayakan maulid nabi dengan membuat sego gurih yang dimasak dengan santan sebagai ganti minyak samin.

Dalam buku berjudul Destinesia Jurnal Hospitality & Pariwisata, Vol. 3 karya Inti Krisnawati, juga disebutkan dahulunya nasi liwet dibuat sebagai penolak bala saat terjadi bencana. Pembuatan nasi liwet dilakukan dengan disertai lantunan doa-doa kepada yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan dan terhindar dari segala bencana.

Kini nasi liwet tak hanya ditemukan sebagai makanan khas perayaan ataupun sajian sederhana tetapi menjadi menu budaya dan pariwisata. Nasi liwet juga telah menjadi bagian dari warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan riset dan teknologi Republik Indonesia.***

Kalpatara
Kalpatara
Articles: 42